Kamis, 29 Mei 2014

Panen Raya Kebun Hidroponik TKC

Jumat, 23 Mei 2014, pukul 11 lewat 10 menit. Layar monitor raksasa di atas gerbang tol Karang Tengah, Tangerang menunjukkan kecepatan kendaraan menuju Jakarta rata-rata 20-30 km/jam. Duh, rasanya mau langsung putar balik. Apa daya tak ada U-turn di tol. Begitu memasuki tol, sudah langsung merayap. Mobil kecil saya berada di tengah lautan mobil. Mirip teri di sela kawanan paus.

Undangan kali ini rasanya sulit ditolak. Enrico Halim, seorang kawan yang saya kagumi hasil karyanya itu mengundang untuk datang ke Tarumanegara Knowledge Centre (TKC), Universitas Tarumanegara, Grogol, Jakarta. Bukan acara akademis, melainkan Panen Raya kebun hidroponik mereka. 

Enrico bilang acaranya santai, jadi saya ajak anak-anak saya, Bintang dan Putri. Ini kesempatan langka. Sekitar dua tahun lalu saya pernah ajak Bintang ke Parung, Bogor untuk mencaritahu tentang apa itu hidroponik. Tulisan tentang perjalanan Bintang ke Parung pernah dimuat di situs Akumassa (http://akumassa.org/kontribusi/bogor-jawa-barat/berkunjung-ke-parung-farm-bogor/)

Tapi Putri belum pernah melihat seperti apa kebun hidroponik. Buat Bintang pun ini akan jadi pengalaman baru karena instalasi hidroponik di Parung di luar ruang sedangkan di TKC instalasinya berada di dalam gedung. 

Kabarnya pula, kebun hidroponik TKC ini adalah kebun hidroponik di dalam gedung pertama di Indonesia. Untuk pembangunan kebun ini, TKC bekerja sama dengan Kebun Sayur - sebuah usaha yang bergerak di bidang hortikultura yang memproduksi berbagai jenis sayur dengan metode hidroponik di Kampung Maruga, Desa Serua, Tangerang Selatan.

Saya sendiri sungguh ingin datang karena foto-foto tentang kebun hidroponik TKC yang diunggah di fesbuk sungguh menggoda. Dan, jika sekarang saya punya kesempatan untuk bisa melihatnya sendiri. Kenapa tidak?

Jadi, begitulah. Biarpun lautan (mobil) harus kuseberangi dan gedung parkir Universitas Tarumanegara yang penuh sesak itu harus kudaki hingga lantai 5. Akhirnya sampailah kami bertiga di Gedung Utama. Aaaah…lega, adem sekali di dalam gedung.

Ruang yang pertama kami tuju adalah Ruang Seminar di lantai 5 untuk mengikuti Bincang Hidroponik bersama Ir. Tony Iskandar, seorang ahli hidroponik. Begitu keluar dari pintu lift, jika menengok ke kanan di ujung lobi lift akan terlihat instalasi hidroponik yang ditumbuhi selada-selada. Instalasi itu seolah jadi filter yang menyejukkan sebelum memandang barisan gedung dan kemacetan di bawah.

Melihat selada selada cantik
Melihat selada selada cantik


Di ruang seminar, beberapa tamu sudah datang. Saya pilih tempat yang agak tenang di sayap kiri. Agak susah memilihkan tempat duduk buat anak-anak. Setelah tiga kali berpindah, barulah anak-anak diam. Meski tidak terlalu sempurna, setidaknya anak saya bisa menjulurkan kepala untuk melihat apa yang terjadi di depan.

Acara dimulai dengan paparan dari Bapak Ir. Toni Iskandar, ME tentang hidroponik. Kata “hidroponik”, terang Pak Toni, berasal dari bahasa Latin yang berarti hydro (air) dan ponos(kerja). Istilah ini dikemukakan oleh W.F. Gericke dari University of California pada awal 1930-an. Saat itu, Gericke melakukan percobaan hara tanaman dalam skala komersial yang selanjutnya disebut nutrikultur atau hidroponik (hydroponics).

Hidroponik adalah cara budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanam tanah, tapi menggunakan media inert (media yang tidak menyediakan unsur hara, fungsinya hanya sebagai buffer atau penyangga tanaman) seperti batu gravel, pasir, atau peat yang diberi larutan hara yang mengandung semua elemen penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tanaman.

"Mau tanam apapun dengan cara hidroponik bisaaa..! Pohon kelapa pun bisa kalo mau, tapi lama panennya. Makanya yang menggunakan hidroponik biasanya dipilih tanaman yang masa panennya singkat seperti selada, misalnya," kata Pak Toni. Sembari menerangkan, sesekali ia menunjukkan wadah hidroponik yang sarat tanaman selada untuk memperjelas.

Pak Toni menunjukkan sistem bare-root/akar telanjang.
Pak Toni menunjukkan sistem bare-root/akar telanjang.


Putri ternyata menyimak. Ia ikut corat-coret di buku saat melihat saya menulis. Ia mengulang-ulang pesan dari Pak Toni yang tadi didengar, “Airnya jangan terlalu banyak banyak, dan jangan terlalu sedikit.” Kalimat itu juga diucapkannya lagi saat sampai di rumah dan cerita ke ayahnya tentang kegiatannya sepanjang hari itu.

Catatan Putri
Catatan Putri


Usai presentasi, hadirin diajak menyemai bibit sayur di rockwool  - media tanam yang berasal dari batu basalt yang dipanaskan hingga mencair, lantas diputar kencang hingga menjadi serabut-serabut halus yang menurut Pak Toni, “jadi mirip harumanis (cottoncandy)”. Serabut-serabut tadi lantas dipadatkan seperti kain wool yang terbuat darirock – itulah sebabnya ia dinamakan rockwool. Ada juga yang menyebutnya sebagaimineral wool

Masing-masing pengunjung mendapatkan sebongkah rockwool dan seplastik kecil bibit. Kami dapat bibit pakcoy. Bintang dan Putri sangat bersemangat di sesi ini. Sama seperti mereka, saya pun baru pertama kali melihat rockwool. Kami bergantian mencoba melakukan tahapan menyemai bibit. Pertama, kerat permukaan rockwool dengan tusuk gigi secara vertikal dan horizontal hingga terbagi menjadi beberapa persegi. Selanjutnya, masukkan bibit sayur pada titik/lobang pertemuan keratan.

Bintang bertugas mengerat rockwool . Tapi keratannya tidak rapi. Putri yang bertugas menyemai bibit meletakkannya begitu saja di permukaan rockwool tanpa peduli ada keratan atau tidak. Seharusnya, satu lobang cukup dua butir bibit saja, tapi satu kemasan plastik ia habiskan.

Bintang mengerat rockwool
Bintang mengerat rockwool

Putri menyemai benih
Putri menyemai benih


Sesudah seremonial serah terima doorprize, hadiah lomba, dan penghargaan kepada tim Kebun Sayur atas partisipasinya dalam pengadaan kebun hidroponik di TKC, semua hadirin dipersilakan menuju Executive Lounge untuk menukarkan kupon dengan kopi, kudapan, dan buket sayur hasil panenan.

Nah, ini saat yang saya tunggu. Saya ajak anak-anak masuk ke perpustakaan untuk melihat kebun hidroponik yang lain. Jika instalasi yang di lobi lift sebelumnya menggunakan sistem NFT (Nutrient Film Technique) maka yang di dalam perpustakaan menggunakan sistem Dutch Bucket.

Sistem NFT adalah sistem hidroponik dimana larutan nutrisi dipompa secara konstan masuk ke wadah tumbuh untuk kemudian mengalir melalui akar-akar tanaman dan kembali ke wadah penampung. Sistem ini tidak menggunakan media tanam selain udara. Akar tanaman dibiarkan menjuntai ke dalam larutan nutrisi (bare root system/sistem akar telanjang).

Beda dengan sistem NFT, sistem Dutch Bucket menggunakan media tanam. Di lantai 6 ada tanaman tomat, di lantai 7 ada tanaman cabe. Keduanya ditanam pada media batu Gravel yang diletakkan dalam wadah bekas es krim. Larutan nutrisi mengalir dari permukaan wadah menuju bawah mengenai perakaran tanaman. Wadah dilubangi di bagian samping dan dipasangi pipa untuk mengalirkan sisa nutrisi menuju wadah penampungan.

Baik sistem NFT maupun Dutch Bucket menggunakan sistem tertutup dimana larutan nutrisi yang berada di wadah penampungan dipompakan kembali ke wadah tumbuh secara terus menerus. Kedua sistem juga menggunakan grow-light untuk merekayasa cahaya guna merangsang pertumbuhan tanaman. Ada lampu LED warna biru dan merah yang digunakan. Campuran kedua warna menyemburkan warna ungu yang cantik.

Saya tidak tahu panen raya yang sedang dirayakan ini di kebun hidroponik yang di lantai berapa. Panitia tidak menginformasikannya. Dugaan saya bukan yang menggunakan sistem Dutch Bucket. Karena hasil panenan yang ditampilkan adalah dari jenis selada seperti Oakleaf Green, Oakleaf Red, Butterhead, Romaine, dan Endive yang kalau saya perhatikan ditanam dengan sistem NFT.

Padahal saya ingin lihat seperti apa kegiata panen, saya bahkan berharap ada sesi dimana undangan diperbolehkan ikut panen. Atau jika tidak memungkinkan, ya setidaknya ada video yang memperlihatkan kegiatan panen. Sebelum acara dimulai tadi, ada video yang diputar tapi bukan tentang panen raya melainkan tentang pembangunan instalasi kebun hidroponik yang dikerjakan oleh tiga orang yaitu: Agus, Iyeng, dan Roni.

Jadi, sepanjang acara berlangsung saya hanya bertanya-tanya sendiri. Suasana ramai ditambah harus mengawasi dua anak yang tidak bisa diam membuat saya tidak punya banyak kesempatan untuk mencaritahu. Yang bisa saya lakukan kemudian adalah memotret dan mengudap sambil mengobrol ringan dengan teman. Putri girang dapat buket selada hasil panen. 



Obyek yang saya potret sebenarnya tidak hanya soal kebun hidroponik melainkan mantel rajut yang digunakan pada instalasi hidroponik yang menggunakan sistem Dutch Bucket dan vertikulutur di Executive Lounge. Mengapa? Karena saya dan teman saya, Lisa yang membuatnya. Kami berdua punya usaha rajut bersama yang kami namai Teh Sereh Craft. Pada sistem NFT, rajutan yang membalut instalasi hidroponik dikerjakan oleh teman kami yang lain, Ati dan Nyoman. Kami bersyukur bisa terlibat. Sungguh suatu kehormatan.

Tim Perajut mantel hidroponik
Tim Perajut mantel hidroponik


Tarumanegara Knowledge Centre (TKC) adalah salah satu fasilitas Universitas Tarumanegara yang menempati lantai 6,7,8, dan 9 di Gedung Utama. Ia juga terhubung langsung ke lantai 5 dan Executive Lounge. Sesuai namanya, TKC diproyeksikan akan menjadi salah satu pusat pengetahuan di perkotaan sesuai dengan tema Untar sebagaithe learning gateway dan urban campus. Perpustakaan adalah inti dari TKC. 

Sesudah diresmikan pada 2007, sejak pertengahan 2013 lalu TKC memulai program aktivasinya melalui sebuah proyek kerja yang diberinama Grogol 11401. Saya kira Enrico Halim punya peran besar di proyek ini. Saat memberi sambutan dalam pembukaan acara, Bapak Gunardi, Ketua Yayasan Tarumanegara mengatakan Grogol 11401 diharap mampu memberi imajinasi, mengembangkan jiwa, dan menginjeksi energi publik untuk berkarya. 

Khusus untuk Kebun Hidroponik, Pak Gunardi menyebutnya bagian dari pelaksanaan konsep green building di Universitas Tarumanegara. Universitas sendiri sebenarnya tidak punya fakultas pertanian. Saya kira ini pilihan konsep yang bagus, sesuai dengan tema besar Hari Bumi yang dirayakan di seluruh dunia tahun ini tentang bagaimana membangun kota-kota hijau (green cities) dengan dukungan teknologi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan menguatkan ekonomi. Dan, bukankah pembangunan kebun hidroponik di dalam gedung itu adalah keputusan yang tepat? 

Kebun hidroponik TKC itu adalah hasil dari Program Injeksi Visual milik Grogol 11401 yang bertema Berkarya Dengan Gaya. Jika Anda berkunjung ke TKC, Anda bisa menyaksikan hasil program Injeksi Visual selain instalasi hidroponik berbalut mantel rajut. 

Tengok saja ratusan bangau origami dari kertas bekas karya Nina Mansyur yang terpasang pada langit-langit gedung dan menjulur hingga lima lantai, stiker besar Maneki Neko (kucing mengundang pembawa keberuntungan) pada pintu kaca perpustakaan, dan Beca Baca di dalam perpustakaan yang dilukis oleh Jhons Patriatik Karlah dan Suminta

Putri bergaya menirukan bangau origami, di belakangnya tampak sistem Dutch Bucket
Putri bergaya menirukan bangau origami, di belakangnya tampak sistem Dutch Bucket


Mengagumi rajutan karya Ati dan Nyoman
Mengagumi rajutan karya Ati dan Nyoman


Sistem vertikultur karya Yeye dan Alan berbalut mantel rajut Teh Sereh Craft
Sistem vertikultur karya Yeye dan Alan berbalut mantel rajut Teh Sereh Craft


Perpustakaan TKC dan Beca Baca
Perpustakaan TKC dan Beca Baca


Menarik melihat karya-karya visual yang terpajang di TKC. Staf di sana berulangkali menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan itu sesuai dengan semangat kerja Grogol 11401 yaitu membolehkan hal-hal sederhana menjadi luar biasa.

Sayang, saya tidak sempat melihat peta Jakarta sebagaimana yang diunggah di akun fanpage fesbuk Grogol 11401. Peta potongan Jakarta selebar 19 meter persegi ini dilukis seniman Robowobo pada materi multiplek. Mungkin kapan-kapan saya akan tengok seperti apa peta itu. Saya akan ajak Bintang dan Putri lagi, saya yakin mereka akan mengagumi karya unik itu. Sore itu kami cukup puas membawa pulang buket selada hasil panen dan rockwool berisi benih pakcoy yang telah disemai.*

PS. Saat tulisan selesai, benih pakcoy sudah berkecambah dan tumbuh. Umurnya baru 3 hari, seperti ini jadinya: 



Sabtu, 04 Januari 2014

Rafflesia Padma bukan Bunga Bangkai

Liburan sekolah sebentar lagi usai. Ini hari Sabtu dan lusa anak-anak sudah masuk sekolah. Tapi, selain berita kenaikan LPG 12 kg yang bikin ibu-ibu rumah tangga puyeng itu, ada berita menarik lain di awal tahun. Yaitu, mekarnya bunga Rafflesia Padma di Kebun Raya Bogor (KBR) pada 2 Januari lalu. 

Sayang jika tak bisa lihat. Tahun lalu waktu bunga bangkai mekar setinggi 171 cm di KBR, aku tidak sempat tengok. Sekarang, kesempatan ini kiranya jadi penutup liburan yang manis. 


Kami tidak sendiri. Ada tiga teman dan satu anaknya yang ikut juga. Tapi kami berangkat sendiri-sendiri. Dari Serpong, aku dan dua anakku satu mobil, mereka berempat satu mobil sendiri dari Ciganjur. 

Sekitar pukul 12 aku dan anak-anak sampai di Bogor, sambil tunggu rombongan Ciganjur sampai, kami mampir McD dulu untuk makan siang. Hujan turun deras. Beruntung tadi kami tidak langsung masuk KBR. 

Ketika hujan tinggal gerimis, aku ajak anak-anak ke KBR. Pikirku, pasti pengunjung mulai berkurang. Eh, salah, ternyata pengunjung cukup ramai. 

Lokasi Unit Pembibitan Reintroduksi Tumbuhan Langka (Nursery for Rare Plant Species Introduction) KBR, tempat Rafflesia Padma mekar agak jauh di pinggir. Kami harus memutari KBR dan berkendara agak jauh. 

Hujan masih turun rintik-rintik ketika kami sampai. Sebagian pengunjung masih berpayung atau bertopi untuk menghindar dari tetesan hujan. Ada sebatang pohon sosis (Kigelia Pinnata) di depan kantor Unit. Pohon sosis berasal dari Afrika, buahnya dipercaya mampu menyembuhkan banyak penyakit, di antaranya kanker dan penyakit kulit. 

Putri, anakku, senang melihatnya. Ia coba menjangkau buah-buah coklatnya yang bergelantungan menggemaskan mirip sosis-sosis raksasa.


Yang menarik, selain pohon sosis itu, terpasang papan informasi yang memperingatkan agar kita jangan keliru membedakan antara Bunga Bangkai Titan Arum dengan Bunga Rafflesia Padma atau Bunga Patma. Memang sama-sama berbau tidak sedap, tapi keduanya, sekali lagi, memang beda. Oh, saya juga baru tersadar.  

Sebelumnya saya menyebutnya sama: bunga bangkai. Ternyata tidak begitu. Bunga bangkai berasal dari tanaman sejenis talas-talasan. Namanya Amorphophallus titanum dari keluarga Araceae. Sementara bunga Rafflesia Padma dari keluarga Rafflesiaceae

Satu hal yang bikin saya senyum dari papan informasi itu adalah sebutan "Pak Titan" dan "Bu Padma" untuk memudahkan mengingat perbedaan kedua bunga. Jika dilihat dari bentuknya, kedua bunga itu beda dan menyerupai bentuk kelamin laki-laki dan perempuan. Bunga Bangkai memiliki tongkol (spadix) panjang menjulur ke atas, sementara bunga Padma berlobang di tengahnya. 


Nah, sekarang kita masuk ke dalam. Jalanan becek sehabis hujan membuat arus keluar masuk pengunjung agak tersendat. Hanya sekitar sepuluh meter sampailah kita di lokasi. Untuk menjaga jarak dari pengunjung bunga Padma dilindungi pagar ukuran 3x3 meter. 

Di dekat lokasi, ada papan raksasa yang memberitahukan tentang keragaman Rafflesia di Indonesia. Luar biasa, ya. Foto papan informasi ini ada di bagian awal tulisan. 

Rafflesia yang pertama ditemukan di Bengkulu, Sumatra diberi nama Rafflesia Arnoldii. Kata "raffles" diambil dari nama pemimpin ekspedisi yaitu Thomas Stanford Raffles, sementara kata "arnold" diambil dari nama peneliti ekspedisi yaitu Dr. John Arnold. Tapi, menurut kabar, penemu bunga ini adalah seorang pemandu asal Indonesia. Sayangnya namanya tidak ditulis, pun tidak diabadikan sebagai nama bunga. 

Tentang bagaimana pemberian nama-nama jenis Rafflesia yang ditemukan berikutnya tidak aku dapatkan kisahnya. 

Rafflesia Padma yang mekar kali ini berdiameter 38 cm dan lingkar badan 70 cm. Menurut berita di media, ini adalah bunga Padma terbesar dan yang tercepat mekar dari semua Rafflesia Padma yang pernah ada di KBR. 

Petugas KBR yang tengah diwawancara seorang wartawan bilang, mekarnya bunga ini menjadi tanda keberhasilan peneliti Indonesia karena berhasil menumbuhkan Rafflesia Padma secara ex-situ (di luar habitat aslinya).

Pada 2006, peneliti mengambil tanaman inang Padma yaitu Tetrastigma, tanaman anggur-angguran merambat dari daerah Pangandaran, Jawa Barat. Sejak itu, sudah 7 kali Padma mekar, namun belum pernah sesempurna seperti yang sekarang ini. 

Rafflesia muncul dari salah satu batang Tetrastigma. Ia adalah parasit sejati. Menempel pada inangnya dan mengambil semua makanan dari sana. Rafflesia tidak punya daun, karenanya tidak punya klorofil dan tidak mampu "memasak" makanan sendiri. Hidupnya benar-benar bergantung pada inang, jika inang mati, ia pun mati. 

Rafflesia hanya bertahan lebih kurang lima hari saja. Saat kami tengok, Padma sudah mekar selama tiga hari. Penampilannya sudah tidak secantik hari kemarin, apalagi ditambah tetesan air hujan yang membuatnya tampak kusam. 

Tapi, masih ada tiga bonggol lagi yang bakal mekar. Lihat foto di bawah ini. 

Si petugas bilang, perlu waktu satu tahun untuk mekar dari awal bonggol yang sebesar koin seratus perak. Bonggol yang paling besar baru akan mekar sekitar sembilan bulan lagi. Ahh..semoga mekar sempurna lagi, dan nanti sempat lihat lagi. 

Ini kolase foto saat anak-anak melihat Rafflesia mekar:


Perjalanan melihat Rafflesia Padma kami akhiri dengan pertemuan kedua rombongan di Kafe Daun di dalam KBR. Sungguh, perjalanan sederhana yang mengasyikkan untuk menutup liburan.* 

Kamis, 08 Agustus 2013

Ontbijtkoek Lebaran 2013

Meski kami tidak merayakan hari raya Idul Fitri atau lebaran. Tahun ini saya ikut sibuk. Buat ontbijtkoek 11 loyang pesanan dari empat pelanggan. Sebagian besar untuk hantaran, yang lainnya untuk konsumsi sendiri. Begitu pengakuan mereka. 

Begitulah, maka tiga hari menjelang hari raya dapur saya setiap hari berantakan tapi bau wangi bumbu spekuk. Selama itu pula meja makan di dapur berada di bawah kekuasaan saya secara penuh. Bahkan kursinya pun tidak bisa dipakai anggota keluarga manapun kecuali saya. 



Satu demi satu kue pun jadi. Paling senang kalau lihat kue mengembang bagus dan masih panas di loyang. 



Berikutnya, setelah kondisi kue sudah sangat berkurang panasnya - adalah tahapan yang cukup tricky - apa ya bahasa Indonesia yang tepat untuk mengekspresikannya. Pokoknya harus ekstra hati-hati. Yaitu saat mengelupas kertas. Kalau terburu-buru, badan kue bisa ikut terkelupas. 


Karena untuk hantaran, maka mereka minta supaya kemasannya diberi sentuhan hari raya. Mintanya pakai ucapan dari plastik yang ditusukkan ke kuenya. Tapi, kemasannya kan pas sama ukuran kuenya. Jadilah aku buat seperti ini: 


Cantik kan? Ada tulisan Idul Fitri di setiap kemasan. Mungkin dari foto tidak begitu terlihat ya. Itu dari plastik yang dicat emas, cocok sama kardusnya. 

Semoga yang menerima berkenan..Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Terima kasih diberi kesempatan untuk ikut berbagai kebahagiaan di hari raya penuh berkah.. :)

Rabu, 17 Juli 2013

Eksperimen tanam daun bawang dan seledri

Sudah lama nggak nge-blog. Kangen juga. Mau cerita ah, tentang eksperimen tanam daun bawang. Dapat ide waktu liburan di Jogya kemarin. Di kebun tante, ada deretan pot isinya daun bawang. Lah, kok bisa? 

Penasaran aku jadinya. Beberapa hari lalu coba. Belanja di tukang sayur nyari daun bawang yang masih ada akarnya. Serumpun gitu. Mulai lah bereksperimen. Dan nyatanya jadi tuh, meski belum panen, tapi bangga juga. Seperti ini hasilnya: 

Photo: Eksperimen tanam daun bawang. Hasil belanja di tukang sayur. Tanam akarnya di pot, hanya dalam hitungan hari sudah bisa dipanen :)

Kesenangan, aku coba lagi tanam seledri, baru sehari paginya aku tengok udah ilang. Kayaknya sih dimakan tikus. 

Nah, pagi ini aku coba lagi. Belanja sengaja nyari seledri yang masih ada bonggol akarnya. Biasanya sih, ibu-ibu yang belanja cuma ambilin bagian batang daunnya saja, bonggolnya ditinggal. 

Di rumah, Putri yang semangat mau tanam. Ini fotonya: 

Photo: Eksperimen berikutnya, tanam seledri. Kali ini Putri yg tanam. Semoga tumbuh juga :)

Semoga tumbuh ya dek...semoga tikusnya nggak nakal lagi. Kita lihat besok pagi :)

Sabtu, 12 Januari 2013

Jamur Goreng

Lagi keranjingan jamur goreng, setelah gak sengaja ketemu tetangga di pasar kaget. Kami sama-sama pilih-pilih sayur, terus dia pegang seplastik jamur tiram. Aku tanya, "Diapain?" Jawabnya, "Digoreng aja pake tepung." Lah kok bisa?

Nah, singkat cerita dia beri resepnya berikut tips yang sederhana tapi penting. Bahannya cuma jamur tiram, tepung bumbu instan (aku pakai merek Sasa, variannya terserah, anak-anak suka yang untuk ayam goreng, bisa juga pakai yang serba guna, kalau aku sama suami suka yang hot and spicy).

Daan..jadilah jamur goreng ini makanan favorit keluarga. Bisa buat lauk, bisa buat camilan, digado aja.

Eh, ada yang belum tahu jamur tiram? Berikut penampakannya:


Caranya begini:

Potong batang jamur, ambil bagian payungnya saja.
Cuci jamur tiram sampai bersih. Peras hingga airnya habis, suwir-suwir sebesar kira-kira jari telunjuk.
Cairkan tepung bumbu instant dengan air es.
Rendam suwiran jamur sebentar hingga berbalur seluruhnya.
Goreng hingga warnanya kuning keemasan dan crispy.
Tiriskan dan jamur goreng siap disantap :)

Ini saat jamur dalam proses penggorengan:


Ini hasil akhirnya:


Pokoke mak nyuss!

Senin, 19 November 2012

Pindang Ikan Patin

Setelah sebelumnya posting soal buku resep masakan ikan berjudul Aneka Masakan Ikan Nusantara terbitan Demedia, kali ini aku posting masakan ikan yang aku ambil dari salah satu resep di buku itu. Judul masakannya Pindang Ikan Patin, seperti judul postingannya ya..

Sebelum mulai, aku kasih lihat dulu penampakannya, seperti ini:


Itu masakan saat masih di atas kompor. Barusan aku matikan apinya. Rasanya? Mantap lah, apalagi disantap saat masih panas. Asam, pedas, nikmat..cocok buat di hari hujan atau saat mendung seperti ini.

Sudah tahu penampakan ikan patin belum? Ia mirip seperti ikan lele punya kumis yang panjang, badannya berwarna hitam. Kulitnya halus dan tidak bersisik. Seperti ini penampakannya:


Gambar ikan patin itu aku ambil dari sini.

Dan ini resepnya, aku salin seperti yang tertulis di buku ya - dengan catatan: kalau aku menyesuaikan saja dengan jumlah ikan yang aku beli dan besaran ikannya, jadi sila modifikasi sendiri resep di bawah ini. Yang aku tulis ini hanya acuan saja.

Bahan:
500 gram ikan patin dipotong menjadi lima bagian
500 ml air

Bumbu yang dihaluskan:
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
4 buah cabai merah besar

Bumbu lainnya:
4 cm lengkuas, iris tipis
2 cm kunyit, iris tipis
3 cm jahe, iris tipis
2 batang serai, memarkan
10 buah cabai rawit, biarkan utuh
3 buah tomat hijau
1 mata asam jawa
2 lembar daun salam
1 sdm kecap manis
1 1/2 sdt garam
1 sdt gula merah, sisir

Cara membuat:
1. Rebus air bersama bumbu halus, lengkuas, kunyit, jahe dan serai. Biarkan hingga mendidih.
2. Masukkan ikan patin dan bumbu lainnya, masak dengan api kecil hingga ikan matang dan bumbu meresap.
3. Angkat, sajikan dengan nasi hangat.

O ya, soal ikan patin ini menarik lho, ada legendanya yang kemudian menjadi cerita rakyat dari daerah Riau. Menurut kisah, ikan patin adalah jelmaan dari seorang wanita bernama Dayang Kumunah yang dirundung kesedihan. Semenjak ayah angkatnya meninggal dunia, ia tak pernah tertawa. Suaminya sangat sedih dan berusaha untuk membuatnya tertawa. Hingga satu saat ia berhasil membuat isterinya tertawa. Namun saat tertawa, Dayang Kumunah berlari mendekat sungai dan wujudnya berubah menjadi ikan patin.  

Jika tertarik baca cerita lengkapnya, sila klik di sini ya :)

Buku Resep (Masakan Ikan)

Sejak kecil masakan ikan jarang ada di meja makan atau tepatnya kurang beragam. Jenis ikan laut yang sering dibeli ibu seringkali sudah diasinkan. Mungkin karena aku dulu tinggal bukan di dekat laut jadi sulit buat dapat ikan segar ya. Kalau jenis ikan tawar, waktu kecil aku suka lele, bandeng, udang tambak, wader kecil-kecil yang digoreng balur tepung. Gurame kadang juga tersaji, tapi jarang. Jaman dulu kayaknya masih mahal itu. Masakan dari bandeng kebanyakan sudah bentuk presto. Hampir tak pernah makan bandeng segar.

Nah, saat sudah menikah dan tinggal di perumahan di wilayah Tangerang Selatan, macam-macam ikan laut segar bisa aku dapatkan mudah. Ada lapak penjual ikan segar di pasar-pasar kaget di tiap-tiap blok. Aku jadi sering masak ikan-ikanan, baik yang jenis ikan laut maupun ikan air tawar. Apalagi suami dan anak-anak suka.

Karena jarang makan ikan-ikanan, ragam masakan ikan pun aku jadi tak begitu paham. Tapi ya karena demi keluarga aku jadi niat belajar. Bahkan beli buku-buku resepnya. Salah satunya terbitan Demedia berjudul Aneka Masakan Ikan Nusantara dari serial Cita Rasa Nusantara. Begini penampakan sampul muka bukunya:


Dari buku itu aku sudah coba beberapa resepnya. Enak-enak semua lho. Ada 23 resep masakan dari berbagai daerah, misalnya saja dari Bengkulu, Palembang, Atjeh, Riau, Banjarmasin, Jakarta, Bali, Maluku, dll.

Jenis ikan yang digunakan ikan laut dan ikan tawar. Buku ini disusun oleh tim Dapur DeMedia yang aku tak tahu siapa saja mereka. Tapi dari jumlah buku yang tercetak - entah berapa jumlahnya tiap kali cetak, tapi buku ini sudah cetak ulang sebanyak sembilan kali - buku ini nampak sangat diminati masyarakat. Yang aku beli ini adalah cetakan ke sembilan (tahun 2009) dengan stempel Best Seller di sampul muka tertera jelas.

Aku bukan penjual buku masakan, tapi sudah pernah coba beberapa resep masakannya. Aku merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang mau masak ikan. Apalagi buat yang tahap pemula (dalam masak ikan) seperti aku yang inginnya praktis tapi bisa terjamin jadi dan enak disantap. Pas lah..:)