Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2009

Bodoh itu tak mengapa

22 Februari 2009

Halah! Udah berapa bulan saya gak posting blog? Emang saya ini orangnya anget-anget tai ayam. Begitu kata suami saya suatu kali. Semuanya mau dikerjakan, tapi gak tekun. Satu dua kali memang jadi proyeknya dan yaaa...tak jelek-jelek amatlah. Tapi kemudian udah, frekuensi mulai melambat dan lama-lama tak disentuh sama sekali.

Nah, tiba-tiba saya pengen nulis lagi. Mungkin karena saya ikut kursus narasi. Baru mulai kemarin sih, tapi udah mengobarkan semangat dan mulai menyala-nyala nampaknya. Memang bagi para 'penonton' yang sudah paham saya akan bilang, "Aaaah...paling-paling juga menyala sebentar abis itu redup". Tapi kalau yang optimistis ya barangkali akan bilang "Eh, mana tahu sekarang ini saatnya. Jadi ya biarkan saja dia mencoba-coba".

Baiklah, sekarang saya sedang menulis. Barusan saja terlintas ide lama yang sebenarnya dulu mau saya masukkan ke blog tapi selalu tertunda-tunda, atau tepatnya saya sendiri yang suka menunda-nunda pekerjaan yang akhirnya mudah ditebak, tak dikerjakan juga. Ide yang akan saya tulis itu soal "kebodohan". Saya mulai berpikir bahwa bodoh itu baik adanya. Maksud saya begini, dalam hidup tak perlulah kita untuk mengetahui segala macam hal. Kalau kata Injil kira-kira begini, biarkanlah Bapamu di surga yang mengatur semuanya karena itu tak perlulah kau mengetahui segala hal. Sepertinya begitu bunyi ayatnya, nantilah saya tengok lagi. Bodoh itu menurut saya perlu, mengapa? Karena kalau kita pintar dalam segala hal, maka akan ada banyak orang yang tak bisa makan. Lho kok?

Bayangkan saja kalau kita pandai dalam segala hal, sehingga untuk menambal ban, menjahit, membetulkan sepatu, membetulkan mesin mobil, dan banyak hal lainnya, lantas bagaimana dengan banyaknya tenaga kerja yang menganggur di sekitar kita? Saya kira seseorang perlu lah untuk fokus dalam beberapa hal saja dalam hidup. Selebihnya serahkan pada yang ahlinya. Jadi jika seorang Wakil Gubernur Jawa Tengah (sekarang) Rustriningsih terbalik memasang popok anaknya (saya baca dalam suatu wawancara di Tempo Minggu tanggal berapa saya lupa), itu tak perlu ditertawakan. Karena kita semua tahu Rustriningsih adalah politisi perempuan lokal yang patut diakui kepiawaiannya. Dan berapa sih jumlah politisi perempuan di Indonesia? Jadi biarkanlah kebodohan itu tetap menjadi kebodohan Rustriningsih. Dan, toh dia tak malu mengakuinya. Rustriningsih justru bisa memberdayakan orang lain untuk mengurus anaknya.

Suami saya tak bisa menyupir. Bagi saya tak mengapa, karena saya tahu pasti dia mempunyai kelebihan yang tak dimiliki para suami lainnya yang bisa menyupir. Kepiawaiannya menulis dan menterjemahkan membuat saya bangga sebagai isterinya. Ia juga sering diundang sebagai pembicara pada berbagai kegiatan. Pilihannya untuk menekuni soal-soal 'perbukuan' juga bukan pilihan yang main-main karena dia melakukannya dengan tekun dan serius. Dia sangat menjaga kualitas saat bekerja. Karenanya, kalau saat ini saya lah yang membawa mobil dan menjadi supir keluarga, bagi saya tak mengapa karena ya saya bisa melakukannya. Sebaliknya saya tak bisa melakukan apa yang dikerjakan suami saya. Meskipun saya juga bisa menulis dan menterjemahkan, tapi hasilnya masih sangat jauh dibanding hasil pekerjaan suami. Jadi, jika suami saya bodoh dalam urusan mobil, itu tak mengapa buat saya. Benar memang dia mulai belajar menyupir, tapi itu karena disuruh oleh atasannya. Meskipun dia enggan, tapi dia mau juga sedikit demi sedikit. Saya tahu dalam hatinya dia menolak. Makanya saya turutin saja, kalau dia mau belajar ayok, kalau tak mau ya saya tak memaksa.

Di Indonesia, dimana tenaga kerja sungguh berlimpah, maka kebodohan-kebodohan semacam itu sangat bermanfaat. Jika kita tak bisa memasak, kita bisa memanfaatkan kepandaian orang lain yang menjual hasil masakannya. Jika kita tak bisa membereskan rumah, kita bisa menyewa seseorang yang pandai bersih-bersih rumah. Dan banyak lagi lainnya dengan harga yang sangat terjangkau. Bandingkan dengan kehidupan di luar negeri misalnya. Di negara-negara maju itu kita sepertinya dipaksa untuk bisa pintar dalam segala hal. Mengecat rumah, mengurus bayi, memasak, mencuci, dan sebagainya semua harus bisa dilakukan sendiri. Banyak cerita teman-teman yang tinggal di luar negeri mengaku mendadak jadi pintar dalam segala hal karena terpaksa melakukannya sendiri. Hanya orang yang kaya saja yang boleh bodoh, karena mereka mampu membayar semua kebodohannya dengan uang yang teramat banyak.

Memang argumen terakhir itu bisa saja digunakan di sini. Tapi menurut saya, jika kita mampu lebih baik kita serahkan saja pada orang lain sementara kita menekuni pekerjaan kita yang utama. Intinya adalah membuat prioritas pekerjaan. Ada beberapa alasan yang saya ajukan. Pertama, ongkos yang kita keluarkan terjangkau dan bahkan bisa jadi lebih murah dibanding jika mengerjakan sendiri. Kedua, dari segi kepraktisan sangat positif. Maksud saya, terkadang beberapa pekerjaan memerlukan peralatan khusus. Jika dipakainya hanya untuk sekali tempo, kenapa mesti kita beli? Di Amerika, rata-rata orang memiliki gudang dengan peralatan reparasi yang lengkap karena alasan yang tadi saya sebutkan. Ongkosnya mahal jika menggunakan jasa orang lain. Ketiga, mengalihkan pekerjaan kepada orang lain berarti pula berbagi kemakmuran. Ini artinya kita membantu orang lain.

Anda memahami maksud saya? Bodoh itu tak mengapa. Biarkanlah kebodohan itu menjadi kekurangan kita. Dimaklumi saja, karena saya yakin kita terlahir dengan kepintaran masing-masing. Banyak cerita ibu-ibu yang memiliki anak yang tidak biasa (baca: terlahir cacat) kini membanggakan anaknya yang sudah menjadi luar biasa. Tentunya setelah sebelumnya para ibu ini mengakui apa yang kurang dari diri anaknya. Bukan dengan cara memanjakannya, karena saya lihat adegan ibu dari Korea yang memaksa anaknya yang berjari dua untuk berlatih piano. Caranya bukan dengan bermanis-manis, tapi menyeret anaknya dari kamar keluar ke tempat berlatih. Kebodohan diakui bukan untuk dimanjakan, tapi jadi pemicu untuk mengeluarkan kepintaran yang lain. Kelak, dengan kepiawaiannya bermain piano, anak itu akan mampu mempekerjakan orang lain untuk membantu dirinya. Jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, bukan tak mungkin anak cacat itu menjadi tumpuan hidup dari orang lain yang lebih sempurna.

Jadi, bodoh itu tak mengapa. Itu menurut saya. Tekuni satu hal yang Anda yakin itu tepat menurut Anda. Beri bobot di dalamnya dan jadikan hal itu sesuatu yang berguna untuk yang lain. Sementara itu biarkan saja kebodohan itu menjadi kekurangan dari diri Anda.







Rabu, 30 Juli 2008

Mengisi waktu

Apa yang sebaiknya dilakukan kalau di rumah terus? Nonton teve? Baca? Tidur? Main game? Browsing internet? Memasak? Posting-posting saya akhir-akhir ini memang akan seputar tema mengisi waktu. Lha gimana lagi, saya udah cuti hamil, mau kemana-mana juga susah. Kegiatan keseharian ya bangun pagi, nyiapin buat anak sekolah, mandiin, ngasih sarapan, nunggu antar jemput, abis itu saya sendiri mandi terus jalan-jalan pagi ke pasar di samping olahraga juga beli sayur dan lauk buat sehari. Sampai di rumah tunggu anak pulang sekolah. Kerjaan rumah seperti cuci gosok dan beberes rumah sudah dikerjakan sama orang lain. Ada mbak-mbak dari kampung sekitar kompleks yang saya pekerjakan untuk ini.

Jam-jam berikutnya ya saya bisa apa saja. Agak bosan memang. Tapi ya apa mau dikata. Emang begini. Harus pintar-pintar cari kegiatan. Nonton teve dari beberapa hari ini berita tentang pembunuhan mutilasi yang berkembang jadi pembunuhan berantai. Bikin saya jadi parno sendiri. Kata kakak saya, mbok ya jangan diikutin wong harusnya orang bunting itu pikirannnya santai malah jadi tegang gara-gara berita kayak gitu. Ya udah saya liat gosip-gosip selebriti. Eeh..kemarin anak saya nyeletuk "wah, ibu mulai lagi nonton gosip-gosip", katanya. Nah...kan.

Mau baca kok rasanya mata ini malas. Ada sih novelnya Ayu Utami yang baru, Bilangan Fu, dibeliin suami sebelum berangkat ke Yogya minggu lalu. Tapi kok masih malas bacanya ya. Merajut saja lah.

Tas yang saya buat beberapa hari terakhir dah jadi. Tinggal ngerapiin benang sambungan aja biar gak keleleran kemana-mana. Udah dikasih bunga mawar buat pemanis. Dah cantik, tapi sayang belum bisa saya potret dan saya pamerin di blog. Kamera nya kan masih dibawa suami, padahal nafsu untuk pamer ini sudah sedemikian kuat. Terpaksalah saya bersabar dulu.

Sekarang saya lagi bingung mau bikin apa lagi ya? Di benak saya sih mau bikin tempat tissue aja. Benang kiriman kakak dari Yogya belum sampai, mungkin hari ini. Sebenarnya saya pengen bikin 'granny square', saya udah download banyak free pattern dari internet. Jadinya gatel pengen nyobain. Ya sembari nunggu saya bikin tempat tissue aja lah. Kemarin pas saya browsing saya liat ada yang pamerin tempat tissue rajutan hasil karya sendiri, jadi saya sekarang punya ide. Udah ada bayangan sih, nanti mau dibikin pake tusuk apa.

O ya, kemarin itu saya bikin bunga mawar yang buat pemanis tas nyonto dari buku rajutan karya AJ. Boesra judulnya Aneka Kreasi Rajutan (Crochet). Ini buku merajut yang saya beli pertama kali. Sesudah saya banyak browsing dari internet terus beli dua bukunya Thata Pang, kok saya jadi merasa si AJ Boesra ini nggak pake metode waktu nulis buku itu. Dia cuma pamerin hasil rajutannya terus ditulisnya model kalimat langsung gitu. Misalnya ni di halaman 34, tentang cara membuat mawar pada tahap ke empat dia cuma nulis: "Satu mahkota terdiri dari single crochet, chain, 9 double crochet berseling dengan chain dan single crochet"
Kalo bukan orang yang sudah mahir merajut pasti akan bingung ngikutin tahapan ini. Saya aja mulanya gak paham. Setelah baca dan pelajari berulang baru lah ngeh. Juga ada yang terpaksa saya karang sendiri caranya. Lha wong untuk pusat bunga, dia cuma tulis: "pasangkan pusat bunga tepat di tengah". Lo? Gimana cara pasangnya? Dengan teknik rajutan seperti apa? Ato pake benang jahit? Ato dilem? Saya sendiri akhirnya pakai cara saya sendiri. Biarpun ngarang tapi jadi juga. Cuman sesudahnya saya masih bingung bagaimana cara memasangkannya di tas. Di buku juga nggak dikasih tahu pakai cara apa. Akhirnya saya pake aja peniti. Beres.

Sementara itu buku Thata Pang lebih rapi. Dalam arti ada metode nya. Itu juga ditulis dengan teknis internasional. Maksudnya sama dengan apa yang dipahami dunia merajut umumnya. Selain ditulis dengan kalimat juga dilengkapi dengan pola. Naah, ini yang membuat saya makin paham. Kadang kalo kalimatnya membingungkan, saya liat polanya. Ooo gitu to? Pencantuman pola ini sangat sangat membantu. Pernah saya baca di salah satu blog yang bilang kalo dia punya majalah merajut dalam bahasa Jepang, tapi meski dia tak bisa bahasa Jepang, hanya dengan melihat pola dia bisa bikin rajutan seperti di majalah itu. Pola itu menurut saya bahasa universal yang bisa dimengerti semua orang. Saya sendiri udah gak sabar nunggu suami pulang supaya dia bisa temenin saya ke Toko Buku Kinokuniya buat beli majalah rajutan yang dari Jepang. Kalo saya liat di internet sih Jepang ini idenya adaa aja buat bikin rajutan. Dibanding rajutan karya ibu-ibu Amerika, ide-ide dari Jepang rasanya lebih unik dengan pilihan materi benang yang lebih beragam. Kalau ide-ide dari Amerika cenderung konvensional. Misalnya ya 'granny square' itu.

Yaa..karena saya sudah mulai agak terlatih, saya mulai bisa memahami buku AJ Boesra tadi itu. Meski masih agak tersendat. AJ Boesra ini banyak menggunakan benang dengan kualitas bagus kayaknya. Jadi meskipun sederhana hasil rajutannya tapi materialnya berkelas semua. Beda dengan Thata Pang yang range-nya luas. Thata menawarkan gaya rajutan dari yang sederhana sampai yang berkelas. Rata-rata apa yang diperlihatkan Thata bisa dipahami dan membuat kita jadi pengen bikin karena materialnya relatif mudah didapat. Bahkan kita bisa beli dari dia langsung. Saya pun sudah pernah sekali pesan benang sama Thata. Prosesnya gampang dan cepet. Lain kali saya mau pesan lagi ah..

Terakhir saya cuma mau bilang 'terima kasih banyak buat Thata' karena dia sangat-sangat membantu saya mengisi waktu. Thata berhasil menularkan virus yang membuat saya ketagihan pengen terus dan terus merajut. Mengisi dan menemani saya di menit-menit penantian buah hati saya. Merajut berhasil menepis pikiran-pikiran negatif yang sering sekali menghantui benak saya gara-gara hasil lab terakhir yang menyatakan kalo Rubella IGG saya tinggi. Gara-gara itu pula saya jadi tidak tenang tidur dan serba resah. Betapa tidak, salah seorang dokter yang saudara saya bilang kalo ketahuan di awal sebaiknya digugurkan karena parasit itu menyerang pusat susunan syaraf janin. Aduuuh....Tuhan, saya langsung menangis mendengarnya. Mana suami sedang jauh lagi.

Sekarang di samping merajut, ya saya cuma bisa berdoa. Novena setiap hari semoga penantian ini tidak sia-sia. Saya pasrahkan kepada Tuhan dan mohon pendampingan dari Bunda Maria.

Senin, 14 Juli 2008

Kegiatan di dalam rumah

Kadang saya berpikir apa saja yang dilakukan orang-orang di dalam rumahnya? Pikiran ini sering terbersit kalau saya naik pesawat dan duduk di dekat jendela. Dari atas saya lihat rumah-rumah keliatan kecil. Saya lantas berpikir apa saja kesibukan para penghuninya? Barangkali mereka sedang berpesta, atau nonton teve yang saya lihat sering mendominasi keseharian kegiatan rumah tangga. Sangat jarang saya masuk rumah dan tevenya tidak dinyalakan. Seorang teman cerita kalau teve menyala 24 jam tanpa peduli ada yang nonton atau tidak. Di rumah saya sendiri teve tidak menyala terus-terusan. Seperlunya saja. Anak saya juga sudah bisa memilah sendiri. Kalau film kartun kesukaannya sudah selesai ya sudah, dia lantas matikan teve. Kemarin pas liburan ke rumah neneknya, dia marah-marah karena neneknya nyalakan teve dan lampu tanpa peduli siang malam. "Boros listrik", katanya.

Eh...ngelantur. Kembali ke soal kegiatan rumah tadi, sempat juga terbersit jangan-jangan di dalam rumah itu para penghuninya sedang berantem, atau sedang terjadi pembunuhan? atau ada pemerkosaan? Hiii....pikiran saya suka kemana-mana. Habisnya sekarang ini aneh-aneh aja kejadian kriminal. Di dalam rumah yang bagus dan mewah justru ada pembunuhan. Ada istri yang dibunuh suaminya sendiri terus dikubur di kebun depan rumah. Tadi pagi ada kerangka manusia ditemukan di dalam rumah. Kejadian pembunuhan yang dikubur di dalam rumah ini memang tak cuma sekali. Beberapa kali malah. Dan jadi inspirasi para pembuat film horor.

Saya punya beberapa teman yang orangnya bukan tipe orang rumahan. Bete katanya kalau pas hari Minggu. Si teman ini kerja dari Senin sampai Sabtu. Padahal sekarang kan jamannya Sabtu libur. Rumahnya memang rapi dan perabotnya juga sederhana. Maksud saya ya perabot rumah, meja kursi, televisi, tape, vcd, meja makan, tempat tidur, lemari, peranti dapur. Sudah. Memang serasa di rumah sih. Tapi ya kalau saya disuruh tinggal di rumah itu wah, beneran bete. Bosan barangkali. Makanya kalau hari Minggu dia bukannya di rumah sama anak dan suami tapi tetap aja keluar rumah entah ke rumah saudaranya, atau sekadar jalan-jalan ke mall atau liburan kemana barangkali.

Bagaimana dengan saya? Wah, saya ini sepertinya tipe orang rumahan. Rumah saya berantakan sekali. Buku, film, piranti kerajinan, ada di mana-mana. Dengan komputer dan internet di rumah apalagi. Saya tak perlu kemana-mana bisa ada dimana-mana. Suami juga begitu. Kalau di rumah dia akan betah seharian di depan laptopnya.

Pendek kata, menurut saya di rumah itu buanyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan. Saya bisa masak, berkebun, baca buku, liat film, browsing internet, merajut, kristik, main sama anak, atau ya...tidur. Nah, jadi saya heran kalau ada orang yang bilang di rumah bete dan maunya pergi. Ya..memang sesekali saya merasa jenuh, tapi kalau diprosentase bagian "jenuh di rumah" itu barangkali cuma 10 prosen, selebihnya ya di rumah. Sebenarnya kalau disuruh memilih ya saya lebih senang jadi ibu rumah tangga biasa. Tapi ya karena saya sudah disekolahin dan perlu tambahan pemasukan buat belanja ini itu ya saya terpaksa bekerja juga. Tapi ya..tapi lagi, kalau disuruh di dalam kantor terus nggak mau juga. Kalau kerja cuma di dalam kantor rasanya bosan. Kalau kerja sambil terus memantau kegiatan di luar saya paling suka. Maksudnya saya harus mencari jenis pekerjaan yang mengharuskan saya mengikuti perkembangan dunia luar.

Dulu pas masih jadi jurnalis hampir tiap hari saya keluar kantor. Entah wawancara entah meliput acara. Dalam setahun pernah saya tiga kali keluar negeri. Keluar kota justru agak jarang meski yaa..sesekali dapat tugas. Yang paling sering ya keluar negeri. Asyik sekali masa masa itu. Saya bener-bener dapat banyak pengalaman. Meski sesudahnya ya saya kembali jadi orang rumahan. Hari Minggu lebih sering saya habiskan di kost atau ya ke rumah tante seharian penuh.

Cuma sekarang ini fisik lagi terbatas. Perut melendung gede. Kehamilan yang kedua ini memang bikin capek soalnya dah umur (almost forty, ni...). Rasanya lebih banyak rasa sakitnya. Ada pegel-pegel kaki, ada pegel punggung, ada gusi bengkak, ada kram kaki, ada pusingnya juga. Cape-cape kalau malam. Wuaah...lebih berat dibanding anak pertama dulu. Belum lagi ini janin posisinya miring. Wah, makin deg-degan saya. Takut kalau ntar harus operasi. Maunya sih ngelahirin normal. Sekarang ini saya sedang batasin diri untuk gak berkegiatan yang aneh-aneh. Kalau jalan pun gak seheboh dulu. Pelan-pelan. Naik tangga juga pelan. Jadinya saya perlu waktu lebih lama dari biasanya.

Kegiatan yang paling saya sukai saat ini merajut. Asyik sekali. Duduk, tenang, merajut sambil dengerin musik. Rencananya saya hari ini mau pasang gambar hasil rajutan tapi belum dipindah sih dari kamera. Jadinya lain kali saja. Saya sudah janji sama teman untuk kasih hasil rajutan. Sambil menunggu brojolnya anak, saya rasa ini kegiatan yang pas. Saya sudah siapkan benang banyak, beli buku-buku merajut, download pola gratisan dari internet. Semuanya buat persiapan cuti nanti. Rencananya sih saya akan cuti akhir bulan ini. Dua minggu kemudian kan saatnya kandungan saya masak. Hari-hari berikutnya akan saya habiskan di rumah. Merasakan lagi nikmatnya jadi seorang ibu yang harus merawat bayi. I just can't wait!

Senin, 07 April 2008

Mandeg

Apa yang harus dilakukan jika otak macet? Saya terkena penyakit itu selama berbulan-bulan. Proyek yang semestinya selesai berbulan-bulan lalu ternyata mandeg. Saya jadinya frustasi. Begitu mau meneruskan malah bengong tak tahu harus bagaimana. Jengkel dan jadinya sering pengen nangis sendiri kalo ingat proyek satu ini. Padahal ini proyek pesanan orang yang sangat penting. Rasanya pengen seperti Yesus waktu di Taman Getsemani menjelang ajal menjemput: "Bapa, singkirkan cawan ini dari hadapanku". Meskipun sebagai manusia Yesus ketakutan, tapi Dia menerima juga apa yang sudah dituliskan dalam Kitab. Dia mati juga di salib setelah melalui serangkaian proses penyiksaan yang luar biasa.

Sesudah Paskah yang terlewati beberapa minggu lalu, semestinya saya merenungkan kisah perjalanan Yesus itu. Tapi wong saya dasarnya mudah patah semangat. Betul-betul susah sekali untuk meneruskan kerja yang sudah bertunda berbulan-bulan lamanya. Saya sudah pernah mencoba dengan segala macam cara. Dari yang mulai absen dari kantor, begadang, nonton film dulu sebelum kerja, tapi tetap saja gagal. Ada saja kejadian. Pas saya absen dari kantor, malah saya sakit. Pas saya begadangan, ujung-ujungnya bengong di depan laptop.

Aduh, saya bingung. Harus bagaimana lagi? Banyak ide di kepala tapi hasilnya kok tidak tuntas. Banyak draf tulisan, banyak konsep kerja sudah dibuat. Tapi hasilnya tidak ada realisasi. Malah jadinya ngabisin waktu.

Sementara saya merasa waktu ini kok berjalan cepet sekali. Tiba-tiba saja bulan Maret sudah selesai, tiba-tiba saja satu minggu pertama di bulan April sudah terlewati. Waktu cepat sekali melaju dan nggak mau kompromi sama siapa saja. Saya jadinya geregetan sendiri.

Hgrh.........

Rabu, 23 Januari 2008

Tahun baru, awalan baru


24 Januari 2008
Ini posting pertama di tahun 2008 ini. Judulnya sudah agak basi karena satu bulan hampir berlalu dari gemerlap pesta tahun baru plus semangatnya yang membara itu.
Bagi saya, tahun 2008 ini benar-benar awal dari kehidupan baru dalam keluarga saya. Di bulan Desember akhir, menjelang berakhirnya tahun 2007 saya mendapat berkat kehamilan dari Tuhan. Setelah hampir 5 tahun jaraknya dari anak pertama, Tuhan berencana menambah satu anggota keluarga lagi. Itu yang pertama.

Kedua, beberapa hari lalu, Tuhan juga mengabulkan satu permohonan saya dengan terselesainya satu masalah pelik yang kiranya tak perlu saya jelaskan di sini. Ringkasnya, persoalan yang sejak dua tahun lalu baru terselesaikan beberapa hari lalu melalui bantuan orang yang tak saya kenal di internet. Sungguh karunia Tuhan yang luar biasa. Berbulan-bulan saya mengirim email dan berdoa. Juga mencari bantuan lewat konsultasi dengan seorang teman lama. Namun ya..memang kita harus bersabar. Benar sungguh kata seorang sesepuh yang pernah berkata kalau kita berdoa novena untuk satu permohonan belum tentu dalam satu kali novena lantas permohonan terkabul. Tuhan punya rencana sendiri dan Tuhan pula yang menentukan kapan saat yang tepat untuk mengabulkan permohonan kita. Dan itu menuntut kesabaran dan kesetiaan pada Tuhan.

Tak jarang saya jadi kesal sendiri karena sudah berdoa berkali-kali kok ya ndak dikabulkan sama Tuhan. Juga sudah merasa berbuat baik sama siapa saja, tapi kok ya tetep apes dan sial. Sementara ada teman yang ...kok ya selalu beruntung karena sering mendapatkan apa yang diinginkan atau mendapat sesuatu yang tidak disangka-sangka macam dapat lotere terus sepanjang hidupnya. Kenapa saya ndak bisa?

Tapi sekarang saya seperti disadarkan kembali, untuk soal kesabaran itu. Ada nasehat yang mengatakan kita harus memiliki kesabaran seperti layaknya seorang petani. Kalau dipikir-pikir emang petani itu tempat rujukan yang tepat buat bertahan hidup. Bayangkan saja, berapa lama dia mesti menunggu panenan dari mulai mempersiapkan lahan, menebar benih, menyingkirkan gulma, hama, dan penyakit, dan yang terakhir menyiapkan kegiatan panen. Tapi apa itu saja? Yang saya salut adalah ketabahan si petani karena bencana bisa datang tiba-tiba dan bisa jadi jerih payah menjadi sia-sia.

Saya punya teman anak petani yang sengaja masuk IPB dengan cita-cita mulia awalnya buat kembali ke desanya di daerah Jawa Barat selulus kuliah. Tapi, nyatanya si teman ini tak memenuhi janjinya - bahkan setelah menyandang gelar master. Ia malah jadi peneliti dan pengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta. Katanya hatinya selalu miris setiap kali menyaksikan tanaman padi yang sudah hampir panen lantas "tersungkur" setelah dilewati kabut tebal. "Tak kuat saya kalau jadi petani", begitu kilahnya.

Barangkali ini juga salah satu alasan kenapa sekarang banyak pemuda desa ogah jadi petani. Kesabaran seorang petani makin jadi barang langka di tengah arus modernitas yang menyediakan apa-apa yang serba instan. Bahkan punya keluarga pun bisa instan. Betapa tidak, kita bisa cari jodoh lewat biro jodoh, kemudian jika pengen punya anak cepet ya adopsi saja dari panti asuhan. Atau beli anak ya banyak kalo punya jaringan pasar gelap.

Saya punya anak pertama setelah sempat kosong selama 8 bulan. Itupun saya sebenarnya sudah kebat-kebit, normal kah saya? Siapa di antara kami yang mandul? Waktu itu saya pikir dari pihak saya, soalnya saya pernah diduga punya endometriosis di rahim. Wah, saya sudah cari cari informasi soal terapi hormon waktu itu. Eh, ternyata Tuhan baru kasih jawaban beberapa bulan kemudian. Beberapa teman yang "isi" dulu sebelum kawin meledek kami, "Jaman instan kok masih lama dapet anaknya" komentarnya.

Begitulah, di tahun 2008 ini saya seperti tersadarkan lagi bahwa kesabaran dan keteguhan hati itu tetap harus kita miliki. Biarlah ini jadi counter product di tengah-tengah arus modernisasi yang serba tergesa dan menawarkan banyak pilihan. Ini akan saya jadikan modal buat menjalani tahun yang baru ini.

Selasa, 11 September 2007

Wednesday Slow Machine

12 September 2007

Kemarin saya batal naik KRL dari Tanah Abang. Soalnya saya mau beli baju renang dulu di Java Superstore di Thamrin. Lumayan banget lo, saya dapet baju renang ellese cuman 50rb perak! Ada sedikit noda bolpoin memang, tapi tak apa. Tak terlalu terlihat. Saya toh, bukan tipe perempuan berduit dan mau serba perfect untuk urusan fashion. Yang penting, sekarang saya punya tambahan amunisi buat rutin berenang.

BTW, kembali ke soal KRL. Saya naik dari Stasiun Sudirman. Seperti biasa. Yang jam 17.29. Setelah bermanuver sedikit, jadilah saya dapat tempat duduk. Lega rasanya. Kereta sore ini lumayan penuh soalnya. Saya bisa melanjutkan kisah-kisah seru Hercule Poirot sambil mendengarkan radio melalui HP.

Bicara soal mendengarkan radio melalui HP. Ini sekarang jadi kebiasaan saya yg baru di bis ato di kereta. Saya memang memilih HP yang ada fitur radio karena saya memang suka dengerin radio. Hari Rabu ini hari favorit saya, karena ada Wednesday Slow Machine di Kis FM. Sepanjang hari di hari Rabu Kis FM memutar lagu-lagu yang kalem dari aliran apa aja, bisa pop, rock, ato jazz, pokoknya yang slow. Hampir semua lagu-lagu yang diputar itu familiar di telinga saya. Heran juga saya, sepertinya dunia tidak berputar di radio, sehingga waktu terhenti. Saya sepertinya masih ada di masa SMA, masa kuliah, masa awal-awal kerja. Padahal begitu lagu berhenti, baru saya sadar kalo saya sudah beranak dan umur sudah beranjak jauh.

Radio adalah piranti teknologi informasi paling saya kagumi dan menjadi favorit saya dari dulu. Kalo setel radio kita bisa melakukan apa saja. Beda sama kalo setel teve kan harus nongkrong di depan layar kaca. Imajinasi juga bisa lebih hebat dibanding teve. Ketika kuliah di Yogya saya suka dengerin sandiwara radio di Radio Recobuntung. Saya bela-belain pulang ke rumah di antara jeda kuliah cuman buat dengerin sandiwara radio. Selesai acara saya kabur lagi ke kampus.

Sebenarnya bukan sandiwara radio tapi tepatnya diberi judul "Bacaan" karena ada seseorang yang membacakan cerpen atau cerber dari majalah berbahasa Jawa. Biasanya dari Penyebar Semangat - majalah berbahasa Jawa yang nampaknya sampai sekarang masih terbit karena punya niche market (pasar khusus). Hebatnya, si pembaca itu mampu memerankan berbagai karakter melalui suara yang diubah-ubah. Si pembaca ini adalah laki-laki tapi mampu jadi perempuan yang lemah lembut, nenek-nenek, terus jadi laki-laki yang dalam bayangan saya ganteng, ato lain kali jadi penjahat. Pokoknya hebat dia. Sayang sampai sekarang saya tak tahu siapa si pembaca ini. Acara ini juga nampaknya sudah ditiadakan.

Aduh, saya mulai melantur. Padahal judul posting kali ini Wednesday Slow Machine, mestinya kan membicarakan tentang itu kan? He..he..dasar saya memang tukang melantur. Tidak fokus.

Tapi pada intinya saya suka mendengarkan radio dan hari ini, hari Rabu, adalah favorit saya karena ada acara Wednesday Slow Machine di Kis FM. Kapan-kapan jika ada kesempatan saya akan kirim email ke Kis FM sebagai apresiasi saya sama acara ini.

Senin, 10 September 2007

Macet

11 September 2007

Sudah beberapa hari ini Jakarta macet bukan main. Ada proyek dimana-mana. Subway lah, monorail lah..Kalau pagi saya kena macet di Pondok Indah terus hingga arteri, simprug. Meski saya naik bis feeder, tapi jengkel juga liat lalu lintas yang padat merayap dan tersendat. Di petang hari, jika saya jadi 'sopir tembak' (nyupirin mobil tetangga yang kantornya kebetulan berdekatan dengan kantor saya) aduh...kaki ini pegel bukan main. Macet mulai dari Jl. Budi Kemuliaan sampai tol kebon jeruk. Plus sekarang lagi tren ngantri menjelang pintu tol. Lega sebentar, ketika belok arah BSD kena macet lagi di Gading Serpong. Mobil Toyota Yaris milik tetangga saya ini meskipun tongkrongannya oke, tapi pedal koplingnya keras. Hadoh..kaki ini melintir sampai ke pinggul.

Kalau saya mau memilih, ya naik KRL paling enak, karena nggak kena macet. Cuman kalo pas apes ya jadual molor sampai lama, terus berenti di beberapa stasiun ngantri rel. Apes lagi kalo gak dapet tempat duduk di kereta. Naik KRL terbatas jamnya. Paling akhir jam 18.30. Jika keluar kantor saja jam segitu udah pasti saya harus naik feeder. Buat menuju ke point feeder saya harus naik busway dulu (yang sekarang makin berdesakan) atau naik taksi (yang pastinya ongkosnya harus lebih).

So, hari ini saya memilih untuk memenuhi undangan meeting di kantor Departemen Pemerintah di kawasan Jakarta Timur ketimbang harus bertemu di kantor saya yang terletak di Menteng. Saya naik bis AC yang melintas di depan kompleks sampai UKI. Mulus dan nggak kena macet. Waktu tempuh cuma setengah jam. Dari UKI saya naik angkot 2000 perak, nggak sampai 10 menit sampailah saya.

Ternyata meeting cuma sebentar karena materi juga harus di fotokopi. Sebelumnya saya pikir saya akan langsung balik rumah, namun saya berubah pikiran. Saya ke terminal Kampung Melayu terus naik bis kopaja 502 sampai di belakang kantor. Praktis ternyata.

Sekarang saya memikirkan pulangnya nanti. Mau naik apa ya? Yang pasti saya akan memberikan beberapa alasan jika tetangga saya meminta saya jadi sopir tembak. Istirahat dulu lah. Kaki ini masih pegal. Alasan lain kalau nyupir saya tidak bisa membaca, padahal saya lagi mood buat baca buku akhir-akhir ini. Sekarang saya sedang nafsu baca Hercule Poirot, suami juga baru beli 6 buku baru kemarin karena Gramedia baru buka di Sumarecon dan promosi diskon 30%.

Saya sedang berpikir untuk mencoba KRL AC Ekonomi Ciujung dari stasiun Tanah Abang nanti sore. Selama ini saya menghindari stasiun Tanah Abang karena rasanya tidak aman di sana. Jadi saya lebih memilih ke stasiun Sudirman yang rasanya lebih 'beradab dan manusiawi'. Jika nanti saya tidak berubah pikiran, akan saya ceritakan pengalaman saya di posting blog besok.

Salam commuter!

Selasa, 17 Juli 2007

Jam Karet Transportasi Kita

18 Juli 2007

Kemarin saya pulang sangat awal. Naik KRL jam 16.15. Saya nebeng teman yang kebetulan lewat Sudirman. Dari kantor jam 16.00. Di mobil sedikit chit chat terjadi. Teman saya menanyakan, "Apa bisa kekejar?" Saya jawab, "Bisalah. Nggak pernah ada cerita kereta tepat waktu, selalu terlambat". Teman saya menimpali, "Di Depok pernah sekali tempo keretanya tepat waktu. Karena berangkat tepat waktu, banyak penumpang yang terlambat, ngomel-ngomel semua".

Nyatanya, saya sampai di Stasiun Sudirman jam 16.13. Sedikit berlari saya beli tiket, kata mas yang jaga keretanya sebentar lagi sampai. Di bawah saya sempat mampir ke penjual DVD. Sempat pilih-pilih dan beli film. Tak berapa lama kereta saya pun datang. Saya melirik jam hape, 16.19. Tumben. Menurut saya ini termasuk tepat waktu. Biasanya kereta terlambat sampai sekitar 15 menit-30 menit. Tak bosan-bosannya petugas jaga yang biasa mengumumkan kedatangan dan keberangkatan kereta mengatakan "Kami mohon maaf atas keterlambatan ini". Saya hapal benar kalimat ini. Karena hampir tiap hari diucapkan.

Suami saya sangat tidak suka naik kereta. Dia lebih memilih feeder bus karena kenyamanan dan ketepatan waktunya. Bukannya saya tidak suka, tapi feeder bus adalah alternatif moda transportasi saya yang berada di peringkat atas untuk tingkat kemahalannya. Saya naik feeder biasanya kalau pagi, kalau pulang kantor mending naik kereta. Kecuali kalau pulang malam ya saya naik feeder karena kereta cuma sampai jam 18.25. Feeder terakhir dari Ratu Plaza jam 19.55. Lagipula kalau pulang naik feeder saya harus menyeberang. Dan menyeberang jalan ini melelahkan saya yang jarang olahraga. Itupula sebabnya saya malas naik busway karena perjalanannya menuju pintu loket yang membuat kaki pegal. Apalagi kalau pas terburu-buru, waduh, sampai putus napas saya.

Kembali ke soal ketepatan. Di Indonesia saya kira ketepatan waktu dalam hal transportasi masih menjadi barang langka. Bulan Januari lalu kami sekeluarga terpaksa merelakan kepergian Papi sendiri menghadap Tuhan gara-gara pesawat yang akan kami tumpangi telat 30 menit. Alasan yang diberikan waktu itu ada pesawat lain yang tidak dinyatakan tidak layak terbang oleh DepHub sehingga mengganggu jadual keberangkatan pesawat lainnya. Waktu itu memang DepHub sedang galak-galaknya memantau setiap pesawat yang akan berangkat gara-gara peristiwa hilangnya Mandala di Sulawesi.

Itu pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Membekas seumur hidup. Bayangkan saja, kami hanya terlambat sekitar 10 menit dari kepergian Papi. Dan itu adalah menit-menit yang sebenarnya sangat-sangat berharga.

Saat baru menyadari soal tidak adanya konsep waktu di transportasi sewaktu mengambil kuliah di IPB. Jarak antara Serpong-Bogor sebenarnya bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 jam. Namun karena para supir angkutan umum itu tidak mengenal konsep waktu, saya harus memberikan toleransi sebanyak 1 jam. Waktu sebanyak itu saya sebut "waktu empati". Waktu yang harus saya sisihkan demi merasakan bagaimana susahnya mencari uang sebagai supir angkutan umum. Artinya jika penumpang sepi, maka saya ikut ngetem. Nunggu di dalam kendaraan. Adanya peraturan tidak tertulis antara para supir bis soal jarak antar bis juga harus saya alami. Maksudnya, begini. Para supir bis itu nampaknya punya kesepakatan untuk memberi ruang waktu sekitar 10 menit supaya bis di depannya bisa mencari penumpang. Jika jaraknya terlalu dekat, maka bis yang di belakang harus mengalah. Ngetem dulu meskipun bis sudah penuh dan sesak dan penumpang ngomel kepanasan. Sang sopir tak peduli dengan berbagai komentar penumpang, dia tetap saja santai ngerokok di depan kemudinya.

Saya pernah ngomel-ngomel karena bis ngetem lama dan memilih untuk pindah naik angkutan kecil-kecil. Ketika saya turun saya sempat mendengar supir bis menanyakan kenapa saya turun. Kondekturnya menjawab, "Tauk tuh, mau naik taksi dia". Itu sindiran buat saya.

Saya juga sering pindah keluar bis yang masih ngetem ke bis yang berangkat lebih dulu. Kebiasaan ini dikritik suami saya, "Jangan dong, katanya. Kasihan para sopir bis itu", katanya. Saya tak peduli. Saya jawab saja, "Ah, kalau kita terlambat mereka juga nggak peduli kok sama kita". Akhirnya upaya masing-masing saja lah yang dijalankan. Jika sopir ngetem, kita ikut ngetem. Jika sopir terburu-buru, ya beruntunglah kita, bisa sampai lebih cepat. Pokoknya apa mau sopir lah. Kecuali jika kita punya uang lebih ya bisa lah naik taksi dari Serpong sampai ke Bogor. Atau kalau badan sedang dalam kondisi fit, alternatif nya naik angkutan kecil-kecil model hijet tapi sambung-menyambung, tidak langsung sampai ke Bogor. Dan naik turun angkutan kemudian mencari lagi itu cukup melelahkan karena harus melawan debu dan terik matahari.

Kembali ke soal ketepatan transportasi, saya sebenarnya heran kenapa ya jam mereka selalu molor? Selalu ngaret? Memang, akhir-akhir ini bisnis transportasi ada yang mulai merintis ketepatan. Seperti misalnya travel Jakarta-Bandung yang mengklaim keberangkatan setiap satu jam dan bisa sampai dalam waktu 2 jam. Travel semacam ini laris karena mengunggulkan ketepatan. Tapi memang, kondisi jalanan sangat mendukung.

Singapura pernah menawarkan city tour gratis bagi para penumpang pesawat yang transit di negeri singa itu selama lebih dari satu jam. City tour itu hanya akan memakan waktu satu jam saja. Sharp. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada atau tidak. Saya kagum gagasan ini. Di samping untuk promo wisata, juga pamer ketepatan waktu. Singapura cukup jeli menangkap peluang sebagai negara yang sering dijadikan tempat transit. Saya tidak pernah yakin apakah kita mampu melakukan hal seperti ini.

Menurut saya, ketepatan waktu adalah soal kebiasaan. Tapi ya mengubah kebiasaan sekian ratus juta orang bukan perkara mudah. Sebagai penganut agama Katolik saya mengenal ketepatan waktu dari jam misa di gereja. Belum pernah saya dengar ada jam misa yang ngaret. Meskipun kondisi petugas belum siap, tetap saja harus dimulai pada jam-jam yang telah ditetapkan sebelumnya. Maka beberapa kali pernah ada misa yang terpaksa tidak menggunakan musik karena pemain organnya terlambat datang atau tanpa koor di awal karena jadual petugas misa yang kacau. But, the show must go on.

Pelajaran soal ketepatan waktu juga pernah saya dapat di sekolah. Sekolah saya -swasta Katolik- sangat galak soal waktu. Gerbang sekolah saya dikunci pada satu jam pelajaran pertama. Selanjutnya ya silakan masuk, tapi tentu saja penilaian guru terhadap saya sudah berbeda. Saya sendiri cukup beruntung karena bekerja di tempat-tempat yang memperbolehkan karyawannya masuk kantor jam berapa saja asal tenggat waktu dipatuhi. Peraturan ini membuat saya tidak terlalu stres dengan soal transportasi.

Sulit membayangkan jika saya harus bekerja di kantor dengan jam-jam yang sudah ditentukan. Kembali ke kisah yang diceritakan teman saya tadi. Ngomelnya penumpang kereta di Depok karena keretanya berangkat tepat waktu adalah hal yang menggelikan sekaligus memprihatinkan. Jadi bagaimana dong seharusnya? Terlambat penumpang ngomel, tepat waktu eh..ngomel juga.

Menurut saya, ya biar saja penumpang ngomel. Pernah ada kejadian di feeder bus, seorang ibu bilang ke sopir bis, supaya menunggu suaminya yang sedang dalam perjalanan ke terminal. Heh...si ibu ini aneh-aneh aja. Kontan seluruh penumpang protes. Beruntung sopir bis tidak memihak ke ibu itu. Si ibu akhirnya mengalah dan terpaksa turun bis.

Ya..begitu memang seharusnya. Mestinya angkutan kita lebih egois, bukannya penumpang yang harus diikuti. Di Indonesia ini penumpang kelewat dimanja memang. Bisa berhenti semaunya dan ditunggu kedatangannya. Saya cuma bisa berharap ada lebih banyak lagi angkutan umum yang tepat waktu. Mungkin gak ya?





Rabu, 06 Juni 2007

Kangen Sepi


6 Juni 2007
Judul kali posting kali ini sentimentil. Tapi ya memang itu yang saya rasakan beberapa hari terakhir. Saya benar-benar merasa kangen dengan kesepian. Kangen dengan suasana yang sepi yang tidak hingar bingar. Perasaan ini makin menjadi-jadi hari Senin kemarin. Di awal minggu itu saya ijin tidak ke kantor karena anak sakit. Penyakitnya gak jelas, cuma kata dokter ada angin di perut. Obatnya juga cuma anti mual yang harus diminum seperempat jam sebelum makan dan antibiotik 3 kali sehari sesudah makan. Nyatanya obat dari dokter itu tak manjur amat. Anak saya masih saja muntah. Makan muntah, minum susu muntah. Praktis seharian tak ada yang masuk ke perutnya. Badannya udah lemas dan layu. Menjelang malam, mulai panas. Saya betul-betul stress seharian. Untung saya punya suster pintar. Dia inisiatif beli antangin anak terus dibalur bawang merah. Lumayan baikan dia.

Cerita anak sakit ini memang tak begitu berhubungan dengan judul tadi. Lho? Lantas? Cerita tadi cuma menerangkan kenapa saya di rumah pada hari kerja. Begini, dengan di rumah pada hari kerja saya jadi tahu suasana di rumah seperti apa. Dan ternyata bukan main berisiknya! Karena para majikan tetangga saya semua pergi kerja, maka yang di rumah adalah para suster dan mbak-mbak. Mereka memutar musik dan menyalakan tv bukan main kerasnya dengan lagu-lagu sesuai selera masing-masing. Yang suka pop ya muter pop, yang suka dangdut ya mutar dangdut. Benar-benar crowded. Belum lagi tiap beberapa menit sekali ada tukang roti atau tukang-tukang jualan lainnya lewat. Plus sesekali motor dan mobil lewat..sesekali pula para mbak dan suster itu saling sapa atau mengingatkan anak majikannya sambil berteriak-teriak.

Ampun!

Saya benar-benar tidak tahan. Bukan saja karena stress anak sakit di rumah, tapi suasana bising ini benar-benar mengganggu.

Akhir-akhir ini saya juga tidak tahan menyalakan televisi. Coba saja, sebentar-sebentar iklannya muncul dengan musik dan lagu yang hingar-bingar, cara bicara cepat dan berteriak. Sesudah itu muncul musik latar untuk scene bump in dan bump out. Benar-benar berisik.

Menurut saya era ini era festival. Semua orang menginginkan setiap hari adalah hari festival. Selalu ada perayaan, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Kalau meminjam istilah yang sering dilontarkan Oprah: ada lobang di dalam diri manusia dan mereka berusaha mencari sesuatu untuk menutupnya, untuk membuatnya utuh, merasa sempurna.

Perkembangan teknologi dan informasi menyediakan sarana untuk membantu manusia menutup lobang itu. Cuma menurutku hanya menutup mulut lobang, tapi tidak mengisinya dengan sesuatu. Jadi si lobang tetaplah lobang.

Saya kangen sepi. Saya kangen bunyi-bunyi alam. Bunyi angin, bunyi air, bunyi daun, bunyi jangkrik, bunyi burung.

Bahkan di malam hari pun tak ada lagi sepi. Ada tetangga dengan mobil isuzu diesel yang bunyinya bukan main berisiknya.

Saya - sekali lagi - kangen sepi.

Minggu, 20 Mei 2007

Komunitas penunggu anak sekolah

Senin, 21 Mei 2007

Kantor libur dari tanggal 17-20 Mei. Empat hari. Lumayan, aku bisa berlama-lama sama anakku. Karena dia cuma libur di tanggal 17, aku bisa nunggu dan nganter sekolah Jumat-Sabtu nya. Aku kembali gabung dengan komunitas para penunggu anak sekolah. Komunitas ini terdiri dari empat kelompok:
1) Kelompok bapak-bapak. Mereka biasanya bergerombol di bawah pohon mangga dekat motor mereka diparkir. Jumlahnya sekitar 5 orang. Entah apa kerja mereka dan dimana isteri mereka. Mungkin mereka memang bapak rumah tangga yang sekarang lagi tren, ato mungkin mereka kerjanya malam, ato mungkin kerja swasta alias srabutan jadi punya waktu buat nunggu anak sekolah.
2) Kelompok mbak-mbak dan suster-suster. Mereka kelompok terbanyak ada sekitar 10, umurnya sekitar belasan tahun. Gaya mereka berpakaian macam-macam. Ada yang bersahaja gaya pakaiannya, ada yang norak, tapi ada juga yang modis sehingga nggak mirip mbak-mbak. Kalo suster ya formal, dengan baju seragam suster. Putih-putih dengan bordir yayasan yang menunjukkan asal yayasan mereka. Para mbak dan suster ini rata-rata ber-hape, sehingga perbincangan antar mereka juga bisa saja ke soal gadget terbaru (ini berdasar bocoran dari susterku).
3) Kelompok ibu-ibu yang anaknya sekolah TK.
4) Kelompok ibu-ibu yang anaknya sekolah KB. Aku termasuk kelompok ini. Jumlahnya tak banyak, cuma 5 orang.

Antara kelompok 3 dan 4 biasanya saling kenal, kami juga bisa ngobrol bareng kalo pas duduknya berdekatan. Tapi biasanya kelompok 3 di dalam rumah tunggu (meski sama juga dengan kelompok 2 tapi mereka terpisah), sementara kelompok 4 memilih di bangku di bawah pohon.

Rutinitas kami adalah sebagai berikut: sesudah bel kami akan menunggu anak baris sebelum masuk kelas, kemudian kami sarapan. Pilihannya tak banyak. Kalo gak siomay, nasi uduk, ya warung mi Jamal. Yang terakhir ini yang paling sering. Aku sendiri ketagihan mi ayamnya uenak banget, juga pangsitnya renyah. Plus sambel cap jempol yang bikin kuah jadi asoi. Biasanya kami cuma pesan setengah porsi, cukup untuk sarapan.

Topik perbincangan kami macam-macam, dari ngomongin orang, curhat soal rumah tangga, soal anak, soal pelajaran sekolah, soal ngelahirin anak, proses hamil, dan juga soal sex. Jangan salah, ibu-ibu ini kalo ngomong soal sex waduh, luar biasa mereka. Apalagi kalo ngomongin soal bagaimana mereka berhubungan dengan suami. Sehabis itu biasanya kami bisa ketawa ngakak, karena masing-masing nyeletuk dengan istilah lucu-lucu.

Meski waktu ketemu cuma sebentar, tapi bagi kami ini komunitas terbaik untuk ngurangin stres. Aku juga memanfaatkan komunitas ini untuk berbagi cerita.

Senin, 14 Mei 2007

Rute Baru

Selasa, 15 Mei 2007

Hari ini berangkat kantor pakai alternatif jalur KRL Ekonomi. Belum pernah sih, baru nyoba-nyoba. Berangkat dari rumah sekitar jam 07.15 dianter suami sampai jalan raya, terus naik angkot ke Stasiun Serpong (ongkosnya 2000 perak). Stasiun ternyata nggak ramai. Nggak ada antrian tiket, harga tiketnya ternyata cuman 1500 perak. Aku pilih jalur Serpong-Tanah Abang.
Sekilas aku tanya petugas pembolong tiket di depan pintu masuk stasiun, katanya kereta baru akan datang jam 8 kurang. Nunggu sekitar 10 menitan, keretanya baru nongol. Wah, berdesakan. Apesnya aku nggak dapat tempat duduk. Ya udahlah, terima aja, namanya juga 1500 perak. Eh, ternyata kereta tak kunjung berangkat. Si ular besi ini masih ngetem sekitar 10 menit. Dan...bergeraklah dia setelah hampir bosan aku berdiri ngalamun tengok kiri tengok kanan.

KRL berhenti di tiap stasiun: Rawa Buntu (BSD), Sudimara (Bintaro), Pondok Ranji (Bintaro), Kebayoran, Palmerah, dan akhirnya Tanah Abang. Di tiap stasiun tadi kereta masih menelan penumpang hingga di dalam gerbong jadi ngap, penuh sesak, si tukang jual tahu mulai teriak-teriak minta jalan karena kesulitan dorong dagangannya. Beruntung, di Palmerah aku dapat tempat duduk. Ya..lumayan lah buat nekuk kaki, apalagi hari ini aku sengaja pakai sandal berhak tinggi. Soalnya mendung dan pagi-pagi udah ujan, takutnya kalau aku pakai sepatu boot dan kehujanan susah keringnya. Pengalaman yang lalu bikin badan ini meriang, baju basah kena hujan, sepatu juga, dan susah keringnya. Sementara di KRL AC dinginnya bukan main. Nightmare waktu itu.

Di stasiun Tanah Abang, penumbang ambrol membeludag keluar. Kereta seperti muntah-muntah dan muntahannya berubah jadi rombongan semut yang bergerak ke atas menuju tangga keluar. Aku pegang erat tasku. Takutnya ada copet gentayangan.

Sampai di luar stasiun aku tanya ke ibu-ibu pedagang kue bagaimana cara sampai ke thamrin, dia jawab naik Kopaja 502 jalan dulu di bawah lorong jalan layang. Aku ikutin sarannya. Bener juga ada beberapa Kopaja 502 ngetem di sana nunggu penumpang, kondekturnya teriak-teriak manggilin calon penumpang. Perasaanku lega, 502 sepertinya tak asing. Ini jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, cuma aku lupa kemana dia melintas.
Makin lega lah aku ketika si Kopaja melintas Kebon Sirih lantas belok ke TIM, tepat seperti dugaanku. Aku turun di TIM, jam di depan Menteng Huis tadi menunjukkan waktu 09.05, masih pagi. Aku beli ketupat sayur di sebelah TIM, buat aku bawa ke kantor. 4000 perak harganya. Perutku melilit. Kelaparan, tadi pagi cuma nyeruput secangkir energen cereal dan tiga buah kue gabus sisa buat tamu hari Minggu.

Dari TIM aku naik bajaj, tawar menawar cukup ketat, mosok dia minta 10ribu sampai ke kantor. Keterlaluan. Aku tetap pada pendirianku 6ribu perak titik. Eh, dia nyerah juga. Dan ternyata si bapak bajaj ini salah paham, dia pikir aku mau ke arah Manggarai, makanya dia minta 10ribu.

Kantor masih sepi pas aku nyampe. Lega. Hari ini aku dapat pelajaran baru, alternatif rute yang bisa dipilih selain nebeng, KRL AC, Bis BSD, atau bis reguler dari Kebon Nanas. Rute baru ini menyenangkan buatku karena jam keberangkatannya bervariasi dan hampir tiap saat ada. Aku bisa masakin anakku dulu, atau belanja dulu di tukang sayur, atau sekadar main-main sama anak dulu, atau ya sekadar malas-malasan bangun agak siang dikit daripada biasanya jam 04.30 sudah harus melekin mata.

Cuma saja, seandainya saja KRL Ekonomi lebih nyaman dikit kan lebih enak lagi. He..he..namanya manusia, nggak pernah puas.