Tampilkan postingan dengan label Teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teman. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Agustus 2010
Gathering NCC Food Photography
Sabtu, 28 Agustus aku ikutan gathering NCC-Food Photography di Eat & Eat, Gandaria City, Jakarta Selatan. Acaranya sekalian buka bersama, jadi diadakan sore pukul 16.30, begitu tertulis di email. Nyatanya, aku datang terlalu awal. Masih sepi. Untung aku ajak Bintang, anakku, jadinya ada teman ngobrol, jajan es krim dulu.
Sekitar pukul 17.00 barulah anggota lain berdatangan. Beberapa dari mereka aku tahu namanya dari milis dan blogwalking, ada Riri pemilik blog Kuwenya Riri, ada Widya pemilik blog Widya Cakes, ada Citra pemilik blog Radissa Cake & Catering, juga Riana Ambarsari pemilik blog Pennylane Kitchen. Dari pembicaraan yang aku tangkap di milis, mereka ini termasuk para selebriti-nya NCC - Natural Cooking Club. Ini klub yang membahas soal masakan dan makanan yang aku ikuti sejak awal tahun 2010 ini melalui internet. Mereka memiliki milis yang sangat aktif. Wisnumartono, moderator sekaligus pendiri milis ini pada 27 Agustus lalu bilang kalau anggotanya mencapai angka 9000. Lima bulan lagi, bertepatan dengan ulang tahun NCC, Wisnu bilang berharap jumlah keanggotaan bisa mencapai angka 10.000.
NCC Food Photography adalah salah satu kegiatan NCC. Sesuai namanya ia membahas soal fotografi makanan. Selain menyelenggarakan kursus masak, NCC juga mendorong agar para anggotanya berjualan lewat internet dengan membuat blog. Nah, untuk membangun blog yang menarik dan menjual perlu foto-foto yang menunjang. NCC Food Photography Club (NCC-FPC) membantu anggota NCC di bagian ini. Pada kursus food fotografi, Riana Ambarsari adalah pengajarnya.
Aku sendiri meski sudah pernah ikut kursus membuat cupcake di NCC, tapi belum pernah ikut kursus food fotografi. Namun sudah "berteman" dengan NCC-FPC di jejaring facebook. Melalui jejaring ini aku tahu ada informasi apa dari NCC-FPC. Bulan Mei lalu misalnya, saat mereka menyelenggarakan event berkala, aku pernah ikut sumbang foto. Kali ini temanya sarapan pagi dengan prop minimalis. Biarpun tak dipilih juri, tapi senang aja partisipasi.
Kali ini, di luar dugaan. Salah satu foto yang aku bawa di gathering NCC-FPC ini dipilih oleh Toni Wahid, fotografer makanan yang terkenal itu. Ia tamu khusus yang diundang untuk berbicara soal food fotografi di sela-sela buka bersama. Waah..gak nyangka sama sekali. Dari rumah udah minder duluan, bayangin pasti foto-foto lain bagus-bagus, bahkan udah sempat kepikir untuk gak usah datang aja. Pas di sana juga kamera yang aku bawa tampak butut. Yang lainnya pada bawa Canon EOS dengan lensa tele. Duuhh..sementara kameraku Kodak Easy Share Z730 yang dibeli tahun 2004. Pas Toni nerangin soal kamera, ia bahkan nyeletuk ke aku, "...ya mbak Tata ya, beli dong kamera yang seperti ini, minta sama suaminya ganti kamera.." waaa...iya iya aja lah mas :)
Tapi ya tak disangka, foto spekulas crispy-nya pak Sahak Pribadi yang kujepret bulan Juni lalu dengan kamera butut itu dipilih. Sore itu ada tiga foto pilihan, dua lainnya adalah hasil jepretan Canon EOS. Masing-masing mendapat hadiah berupa pigura cantik. Lucu juga :)
Nah, ini penampakan foto pilihan dan hadiahnya..senangnya, terima kasih buat Toni Wahid, Riana Ambarsari, Widya Hidayat, Citra, dan teman-teman NCC-FPC lainnya. O ya, terima kasih juga buat pak Sahak Pribadi atas resepnya..
Senin, 01 Juni 2009
Gelar Doktor untuk Gunawan Wiradi

28 Mei 2009
Akhirnya jadi juga penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa untuk Gunawan Wiradi. Kami biasa menyebutnya hanya GWR saja. Beberapa bulan lalu aku sudah mendengar kabarnya. Seorang teman yang memang menjadi salah satu tokoh di balik acara penganugerahan itu sempat meminta bantuan untuk editing. Tentu saja aku bersedia. Tapi bantuanku tak jadi diperlukan karena sudah ada yang menangani. Tak apalah. Diundang untuk ikut menyaksikan dan memeriahkan acara penganugerahannya saja sudah menjadi satu kehormatan tersendiri buatku.
Acara penganugerahan gelar ini berlangsung khidmat, sederhana, dan rapi. Panitia mengaturnya dengan sangat baik. O ya, acara ini diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Gedung Rektorat IPB, Dramaga, Bogor. Yang aneh adalah sambutan dari Ketua Senat Akademik. Pada paragraf pertama disebut mengenai awal surat permohonan agar IPB memberikan gelar Doktor HC. Kalimat berikutnya menurutku janggal karena berbunyi seperti ini: "...banyak yang bertanya-tanya siapa gerangan beluau dan apa sesungguhnya kiprah beliau di bidang keilmuan. Pertanyaan tersebut amat wajar karena Gunawan Wiradi bukan merupakan sosok pejabat, selebritis atau pengusaha yang banyak dikenal oleh publik..."
Aku bertanya-tanya siapa kira-kira yang dimaksud dengan "banyak yang bertanya-tanya" itu? Apakah anggota Senat Akademik? Kalimat berikutnya seolah menyatakan bahwa mereka yang "banyak bertanya" itu hanya mengenal pejabat, selebritis, dan pengusaha. Aneh kan? Sungguh aku tidak setuju dengan kalimat itu.
Seorang teman yang aku ajak diskusi tentang hal ini mengatakan bahwa kalimat itu sindiran bagi publik yang tidak mengenal intelektual yang banyak berkiprah. Yaa.. bisa saja karena kalimat itu tidak nyata artinya. Siapa yang dimaksud tidak jelas. Tapi tetap saja menurutku alangkah baiknya jika Ketua Senat Akademik menceritakan soal usul penganugerahan gelar itu dari sisi jalur akademis saja. Misalkan bahwa seorang yang mendapat gelar Doktor itu harus memenuhi persyaratan akademis ini dan itu. Dan ternyata setelah ditelusuri GWR memiliki lebih dari sekadar persyaratan itu maka ia layak mendapatkan gelar itu. Nah, bagaimana? Kalau begini kan lebih halus, lebih sopan, sesuai konteksnya. Semestinya aku saja tuh yang bikin teks pidatonya ..he..he..
GWR nampak sangat terharu ketika ia mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan orasinya. Matanya berkaca-kaca, berbicara pun terbata-bata. Ia sungguh menahan tangis. Ucapnya: "Saya ini orang kecil, bukan saja wujud fisik saya yang memang kecil, tetapi juga bahwa saya orang yang tak bertahta dan tak berharta. Tapi toh IPB berkenan menganugerahkan gelar kehormatan ini dengan tulus, tanpa bias apapun! Sungguh suatu kejutan yang amat luar biasa terutama di saat usia saya yang sudah lanjut ini." Kami semua memberi tepuk tangan atas ucapannya. Ia mengucapkan orasinya dengan ringkas, urut, dan tak bertele-tele. Nyaman sekali rasanya mendengarnya bicara. Saya tak bosan dan antusias rasanya. Usai orasi kami semua memberikan standing applause padanya.
Acara penganugerahan ini ditutup dengan dua lagu persembahan yang sangat menarik. Lagu yang pertama sangat berarti buat GWR, yaitu mars sekolah Arjuna, tempat GWR menuntut ilmu. Lagu yang lain adalah Himne Lingkar Belajar Agraria yang adalah ciptaan GWR sendiri. Lagu ini riang nadanya. Para hadirin mengikutinya dengan bertepuk tangan seturut iramanya. Meriah sekali.
Sesudah acara ini selesai kami semua berbaris untuk antri salaman dengan GWR. Di panggung, GWR ditemani oleh sepupu dan kedua keponakannya. GWR sendiri hidup melajang. Dalam kisah hidupnya diceritakan GWR pernah punya pacar. Namun sang pacar meninggal hampir bersamaan dengan wafatnya sang ibu yang tercinta. Peristiwa ini membuat GWR sangat sedih. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, GWR tinggal kelas. Ia rupanya tenggelam dalam kesedihannya. Tapi GWR tak mau tenggelam terlalu lama, ia bergiat dan mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan terutama untuk mempelajari isu-isu agraria.
Selesai bersalaman, para hadirin digiring ke ruangan yang berbeda untuk santap siang. Usai makan siang kami diundang untuk menghadiri acara berikutnya, yaitu peluncuran sekaligus empat buah buku GWR. Bukan hasil karya baru. Keempat buku itu adalah kompilasi dari tulisan beliau bersama para peneliti lainnya. Aku tak ikut acara itu. Sesudah mengambil keempat buku yang dibagikan secara gratis aku dan suami langsung undur diri.
Di perjalanan aku masih saja terngiang dengan orasi ilmiah GWR. Berikut adalah salah satu kutipannya yang merupakan hasil terjemahan GWR dari puisi seorang pujangga India ternama di tahun 1968 bernama Kalidasa:
"Jika seorang akademikus hanya memikirkan kedudukan demi memperoleh kesejahteraan, dan mengabaikan penelitian,...maka paling banter dia itu hanyalah seorang 'pedagang eceran'! Yang dijual adalah pikiran lain orang".
Selasa, 20 Mei 2008
Syukuran Ultah Prof. Sayogya
20 Mei 2008
Di tengah-tengah keriuhan Hari Kebangkitan Nasional, saya dapat undangan untuk datang ke syukuran ultah Prof. Sayogya ke 82 th. Tempatnya di kediaman beliau sekaligus juga markas Sains (Sayogya Institute) di Jl. Malabar 22, Bogor. Saya sempatkan untuk datang, karena saya tidak berkesempatan menjenguk beliau waktu sakit beberapa waktu lalu. Lagipula ini juga kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang jarang saya temui karena mereka berkegiatan di Bogor, sementara saya di Jakarta.
Begitulah, saya naik taksi ke Bogor. Sampai di tempat sekitar jam 12.30 siang, suasana sudah cukup ramai. Ada tenda dipasang di teras samping rumah. Saya sempat terkejut mulanya, karena deretan mobil-mobil yang diparkir di depan rumah berangsur-angsur pergi. Loh, bukankah undangan jam 12 - 14 siang? Sesampai di dalam saya baru dapat jawaban, bahwa ternyata paginya ada acara pengajian terlebih dahulu, kemudian baru makan siang dan silaturahmi. Oooo....jadi saya memang datang sebagai undangan yang kedua. Syukurlah. Saya langsung beranjak untuk cari makan. Yang saya tuju pecel Ngawi dan es Dawet. Saya sempatkan juga untuk menyalami Prof. Sayogya dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Di tengah-tengah makan, ada yang meminta untuk masuk ke dalam rumah karena akan ada acara tiup lilin bagian kedua. Ternyata tadi pagi sudah ada tiup lilin tapi dengan tumpeng, dan kali ini dengan kue tar yang terlambat datangnya. Saya tinggalkan makan sebentar dan turut bergabung dengan yang lainnya. Kue tarnya besar dengan foto Prof. Sayogya di tengah dan lilin berbentuk angka 82 di atasnya. Setelah berdoa dan bernyanyi Happy Birthday, beliau meniup lilin dan memotong sebagian untuk diserahkan ke istrinya.
Acara berikutnya adalah silaturahmi atau ramah tamah. Kami semua dikumpulkan di bawah tenda di depan teras samping rumah. Acaranya salam pembukaan dari Direktur Sains (Mohammada Shohib), kemudian beberapa tamu khusus diberi kesempatan untuk memberikan kesan mengenai Prof. Sayogya urutannya Bp. Bambang dari Bina Swadaya (LSM yang didirikan Prof. Sayogya 40 thn lalu), Bp. Gunawan Wiradi (sesama pakar agraria), dan Bp. Lolo Kolopaking (selaku mantan murid di IPB). Yang menarik adalah kesan dari Bp. Lolo yang bercerita tentang masa lalu ketika masih menjadi murid Prof. Sayogya. Setiap tahun di hari ultahnya yang tepatnya jatuh pada 21 Mei, Prof Sayogya selalu mengajak mahasiswanya untuk pergi ke toko buku dan meminta mereka untuk memilih minimal 5 buku. Buku-buku itu dibelikan Prof Sayogya dan nantinya untuk koleksi perpustakaan beliau juga. Selanjutnya, para mahasiswa mendapat tugas untuk meresensi buku-buku itu, sesudah selesai masih ada tugas lagi yaitu mendiskusikannya dengan teman-teman yang lain. Begitulah tiap tahun hingga akhirnya perpustakaan Prof. Sayogya memang menjadi sangat berlimpah dan menjadi warisan yang tak ternilai hingga sekarang. Koleksi buku Prof Sayogya sebagian ada yang dihibahkan ke IPB dan sebagian besar lainnya dikelola oleh Sains.
Sesudah kesan-kesan, ganti Prof. Sayogya sendiri yang memberikan sambutan. Di sini beliau banyak menanyakan tentang kegiatan Sains yang dijawab langsung oleh beberapa pengurus Sains. Berikutnya, penutup, sebagai bagian dari kemeriahan sebuah pesta, ada sumbangan lagu dari seniman Ikatan Pengamen Jalanan (IPC) yang menyanyikan 3 lagu. Wah, saya kagum mendengar lagu-lagunya. Bagus-bagus. Di samping ciptaan sendiri, juga berisi kritik dan ungkapan hati pengamen jalanan. Saya salut.
Nah, selesai sudah keseluruhan acara. Prof. Sayogya dipersilahkan kembali beristirahat mengingat kondisi fisik yang memang belum pulih benar. Sebelum pamitan pulang, saya sempatkan untuk sejenak menyambangi deretan buku-buku yang dipamerkan.
Meski sudah sepuh, Prof. Sayogya tetap memiliki banyak rekan yang menghormati dan mengagumi beliau. Betapa menyenangkannya menjadi beliau. Tak pernah sepi di usia lanjut, sementara banyak lansia yang tepekur sepi menekuni sisa waktu. Saya sendiri tak begitu dekat sebenarnya, keterlibatan saya di aktivitas Sains belumlah lama. Saya sungguh merasa tersanjung dan bangga berada di antara lingkaran Prof. Sayogya.
Di usianya yang lanjut, beliau masih menjadi semacam obor yang membuat generasi berikutnya terus berkeinginan untuk meneruskan idealisme beliau. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ketika Prof Sayogya dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung, anak-anak Sains nampak sibuk kesana kemari bergantian menginap di rumah sakit. Syukurlah, sekarang kondisi beliau sudah membaik meski masih belum pulih benar.
Malamnya di rumah saya baru mendengar kabar bahwa hari ini ada dua tokoh bangsa yang meninggal, mereka adalah SK Trimurti dan Ali Sadikin. Saya sedih. Terutama dengan kepergian SK Trimurti. Sewaktu menjadi wartawan, saya sempat mau mewawancarai beliau. Pendekatan sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Beberapa kali saya menyambangi kediaman beliau yang sederhana. Sangat sederhana malah. Padahal beliau adalah salah satu tokoh bangsa ini. Ketika itu sekitar tahun 1999. Saya ingat satu-satunya barang yang dibanggakan adalah sebuah kipas angin yang katanya hadiah dari ibu Menteri Peranan Wanita - saya lupa siapa nama yang disebut beliau. Ibu SK Trimurti tinggal sendiri. Kegiatan beliau sehari-hari membuat bedak dingin tradisional yang berbentuk bulir-bulir warna putih. Aduh, saya sangat prihatin. Sampai di kantor saya curhat pada Pemred saya, seharusnya Pemerintah ini lebih memberikan perhatian pada tokoh seperti ibu SK Trimurti. Seharusnya ada seorang yang digaji khusus oleh Pemerintah untuk menemani dan merawat para tokoh yang sudah lansia. Kini ibu SK Trimurti telah tiada. Usianya 96 th. Tak ada keterangan sebab wafatnya. Hanya dikatakan mungkin karena sudah usia. Saya bertanya-tanya, siapa saja yang menemani beliau di saat-saat terakhirnya?
Berbeda dengan Bp. Ali Sadikin. Beliau diberitakan meninggal di RS Gleanegles di Singapura setelah beberapa hari dirawat karena komplikasi. Jenasahnya baru akan diterbangkan besok pagi. Masa lansia Bp. Ali Sadikin atau yang akrab dipanggil Bang Ali jauh berbeda dengan ibu SK Trimurti. Kebetulan saja Bang Ali lebih sejahtera kondisinya. Tentunya kehidupannya juga lebih nyaman. Saya bayangkan di masa senjanya, Bang Ali masih dikelilingi oleh sanak keluarga dan rekan sejawat.
Ibu SK Trimurti memang tidak pernah lagi membuat gerakan-gerakan politis. Namun beberapa kali dulu saya sempat menemui beliau dalam pertemuan peringatan hari Pancasila atau 17 Agustus yang dihadiri oleh para mantan pejuang. Tempatnya bukan di hotel-hotel megah, melainkan di gedung-gedung kuno atau tempat pertemuan yang sederhana.
Ah, hari ini saya melihat kegembiraan sekaligus kesedihan. Sebagaimana juga hari ini ada kemegahan peringatan hari Kebangkitan Nasional di Istora sekaligus kecemasan rakyat kecil akan naiknya harga BBM dan barang-barang kebutuhan lainnya. Hari yang penuh paradoks.
Di tengah-tengah keriuhan Hari Kebangkitan Nasional, saya dapat undangan untuk datang ke syukuran ultah Prof. Sayogya ke 82 th. Tempatnya di kediaman beliau sekaligus juga markas Sains (Sayogya Institute) di Jl. Malabar 22, Bogor. Saya sempatkan untuk datang, karena saya tidak berkesempatan menjenguk beliau waktu sakit beberapa waktu lalu. Lagipula ini juga kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang jarang saya temui karena mereka berkegiatan di Bogor, sementara saya di Jakarta.
Begitulah, saya naik taksi ke Bogor. Sampai di tempat sekitar jam 12.30 siang, suasana sudah cukup ramai. Ada tenda dipasang di teras samping rumah. Saya sempat terkejut mulanya, karena deretan mobil-mobil yang diparkir di depan rumah berangsur-angsur pergi. Loh, bukankah undangan jam 12 - 14 siang? Sesampai di dalam saya baru dapat jawaban, bahwa ternyata paginya ada acara pengajian terlebih dahulu, kemudian baru makan siang dan silaturahmi. Oooo....jadi saya memang datang sebagai undangan yang kedua. Syukurlah. Saya langsung beranjak untuk cari makan. Yang saya tuju pecel Ngawi dan es Dawet. Saya sempatkan juga untuk menyalami Prof. Sayogya dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Di tengah-tengah makan, ada yang meminta untuk masuk ke dalam rumah karena akan ada acara tiup lilin bagian kedua. Ternyata tadi pagi sudah ada tiup lilin tapi dengan tumpeng, dan kali ini dengan kue tar yang terlambat datangnya. Saya tinggalkan makan sebentar dan turut bergabung dengan yang lainnya. Kue tarnya besar dengan foto Prof. Sayogya di tengah dan lilin berbentuk angka 82 di atasnya. Setelah berdoa dan bernyanyi Happy Birthday, beliau meniup lilin dan memotong sebagian untuk diserahkan ke istrinya.
Acara berikutnya adalah silaturahmi atau ramah tamah. Kami semua dikumpulkan di bawah tenda di depan teras samping rumah. Acaranya salam pembukaan dari Direktur Sains (Mohammada Shohib), kemudian beberapa tamu khusus diberi kesempatan untuk memberikan kesan mengenai Prof. Sayogya urutannya Bp. Bambang dari Bina Swadaya (LSM yang didirikan Prof. Sayogya 40 thn lalu), Bp. Gunawan Wiradi (sesama pakar agraria), dan Bp. Lolo Kolopaking (selaku mantan murid di IPB). Yang menarik adalah kesan dari Bp. Lolo yang bercerita tentang masa lalu ketika masih menjadi murid Prof. Sayogya. Setiap tahun di hari ultahnya yang tepatnya jatuh pada 21 Mei, Prof Sayogya selalu mengajak mahasiswanya untuk pergi ke toko buku dan meminta mereka untuk memilih minimal 5 buku. Buku-buku itu dibelikan Prof Sayogya dan nantinya untuk koleksi perpustakaan beliau juga. Selanjutnya, para mahasiswa mendapat tugas untuk meresensi buku-buku itu, sesudah selesai masih ada tugas lagi yaitu mendiskusikannya dengan teman-teman yang lain. Begitulah tiap tahun hingga akhirnya perpustakaan Prof. Sayogya memang menjadi sangat berlimpah dan menjadi warisan yang tak ternilai hingga sekarang. Koleksi buku Prof Sayogya sebagian ada yang dihibahkan ke IPB dan sebagian besar lainnya dikelola oleh Sains.
Sesudah kesan-kesan, ganti Prof. Sayogya sendiri yang memberikan sambutan. Di sini beliau banyak menanyakan tentang kegiatan Sains yang dijawab langsung oleh beberapa pengurus Sains. Berikutnya, penutup, sebagai bagian dari kemeriahan sebuah pesta, ada sumbangan lagu dari seniman Ikatan Pengamen Jalanan (IPC) yang menyanyikan 3 lagu. Wah, saya kagum mendengar lagu-lagunya. Bagus-bagus. Di samping ciptaan sendiri, juga berisi kritik dan ungkapan hati pengamen jalanan. Saya salut.
Nah, selesai sudah keseluruhan acara. Prof. Sayogya dipersilahkan kembali beristirahat mengingat kondisi fisik yang memang belum pulih benar. Sebelum pamitan pulang, saya sempatkan untuk sejenak menyambangi deretan buku-buku yang dipamerkan.
Meski sudah sepuh, Prof. Sayogya tetap memiliki banyak rekan yang menghormati dan mengagumi beliau. Betapa menyenangkannya menjadi beliau. Tak pernah sepi di usia lanjut, sementara banyak lansia yang tepekur sepi menekuni sisa waktu. Saya sendiri tak begitu dekat sebenarnya, keterlibatan saya di aktivitas Sains belumlah lama. Saya sungguh merasa tersanjung dan bangga berada di antara lingkaran Prof. Sayogya.
Di usianya yang lanjut, beliau masih menjadi semacam obor yang membuat generasi berikutnya terus berkeinginan untuk meneruskan idealisme beliau. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ketika Prof Sayogya dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung, anak-anak Sains nampak sibuk kesana kemari bergantian menginap di rumah sakit. Syukurlah, sekarang kondisi beliau sudah membaik meski masih belum pulih benar.
Malamnya di rumah saya baru mendengar kabar bahwa hari ini ada dua tokoh bangsa yang meninggal, mereka adalah SK Trimurti dan Ali Sadikin. Saya sedih. Terutama dengan kepergian SK Trimurti. Sewaktu menjadi wartawan, saya sempat mau mewawancarai beliau. Pendekatan sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Beberapa kali saya menyambangi kediaman beliau yang sederhana. Sangat sederhana malah. Padahal beliau adalah salah satu tokoh bangsa ini. Ketika itu sekitar tahun 1999. Saya ingat satu-satunya barang yang dibanggakan adalah sebuah kipas angin yang katanya hadiah dari ibu Menteri Peranan Wanita - saya lupa siapa nama yang disebut beliau. Ibu SK Trimurti tinggal sendiri. Kegiatan beliau sehari-hari membuat bedak dingin tradisional yang berbentuk bulir-bulir warna putih. Aduh, saya sangat prihatin. Sampai di kantor saya curhat pada Pemred saya, seharusnya Pemerintah ini lebih memberikan perhatian pada tokoh seperti ibu SK Trimurti. Seharusnya ada seorang yang digaji khusus oleh Pemerintah untuk menemani dan merawat para tokoh yang sudah lansia. Kini ibu SK Trimurti telah tiada. Usianya 96 th. Tak ada keterangan sebab wafatnya. Hanya dikatakan mungkin karena sudah usia. Saya bertanya-tanya, siapa saja yang menemani beliau di saat-saat terakhirnya?
Berbeda dengan Bp. Ali Sadikin. Beliau diberitakan meninggal di RS Gleanegles di Singapura setelah beberapa hari dirawat karena komplikasi. Jenasahnya baru akan diterbangkan besok pagi. Masa lansia Bp. Ali Sadikin atau yang akrab dipanggil Bang Ali jauh berbeda dengan ibu SK Trimurti. Kebetulan saja Bang Ali lebih sejahtera kondisinya. Tentunya kehidupannya juga lebih nyaman. Saya bayangkan di masa senjanya, Bang Ali masih dikelilingi oleh sanak keluarga dan rekan sejawat.
Ibu SK Trimurti memang tidak pernah lagi membuat gerakan-gerakan politis. Namun beberapa kali dulu saya sempat menemui beliau dalam pertemuan peringatan hari Pancasila atau 17 Agustus yang dihadiri oleh para mantan pejuang. Tempatnya bukan di hotel-hotel megah, melainkan di gedung-gedung kuno atau tempat pertemuan yang sederhana.
Ah, hari ini saya melihat kegembiraan sekaligus kesedihan. Sebagaimana juga hari ini ada kemegahan peringatan hari Kebangkitan Nasional di Istora sekaligus kecemasan rakyat kecil akan naiknya harga BBM dan barang-barang kebutuhan lainnya. Hari yang penuh paradoks.
Langganan:
Postingan (Atom)

