Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

Kamar Mandi di Rumah Saya

25 Mei 2009

Hari ini aku lagi tak punya topik menarik buat ditulis. Seharian kerja dan kerja. Cukup produktif. Tapi udah janji pada diri sendiri mau rajin ngisi blog lagi. Jadi ini tulisan lama aku posting. Tepatnya ini PR waktu ikut kursus jurnalisme naratif beberapa bulan lalu. Perintah PR itu adalah: buatlah tulisan tentang deskripsi suatu benda, atau ruangan, atau orang. Panjangnya sekitar 250 kata.

Tulisan pendek ini adalah PR yang sudah diperbaiki setelah diperiksa Fahri Salam, mentor di kursus. Agak sulit buat saya menulis dengan batasan jumlah kata. Tulisan di bawah ini memiliki kata sebanyak 259 buah. Tak banyak kok perbaikannya. Fahri rupanya menyukai hasil kerjaku. O, ya, ada juga komentar dari Fahri di akhir tulisan.

Berikut tulisan itu - judulnya Kamar Mandi di Rumah Saya:

Kamar mandi di rumah saya kecil. Berbentuk bujursangkar dengan panjang sisi 1,5 meter. Lantainya dari keramik berwarna merah marun. Separuh dinding dilapisi keramik berwarna senada. Saya menghormati ruangan ini sebagai ruang paling pribadi. Ia harus sesuai dengan fungsinya, yaitu mandi dan buang hajat. Saya melarang anggota keluarga meletakkan baju-baju kotor maupun mencuci baju di sana. Isinya hanya peralatan mandi serta satu buah sikat berbentuk bulat panjang untuk menggosok lubang kakus. Satu minggu sekali pembangu menyikat lantainya, menguras bak mandi dan menggosok dinding-dindingnya agar tak berlumut. Bulatan-bulatan kapur barus saya letakkan di sudut-sudut lantai. Jika masih baru, baunya sedikit menyengat.

Sekitar dua tahun lalu, saya mengganti pintu kamar mandi dengan pintu yang terbuat dari plastik. Yang lama dari papan multipleks, lebih mudah busuk bila terus-menerus terguyur air. Penampilan pintu plastik ini lebih modern. Warnanya kuning gading sesuai warna dinding rumah. Pada bagian bawah terdapat sekat-sekat sirkulasi udara. Sayang, kunci pintu tak berfungsi dengan benar. Entah mengapa, kuncinya sering tak bisa dibuka kembali. Harus ada orang lain di luar yang membukanya dengan anak kunci. Agar tak merepotkan, akhirnya kunci pintu sengaja dirusak. Kini pintu itu hanya bisa menutup tanpa bisa dikunci.

Nah, supaya kamar mandi tetap jadi ruang privat, kami membuat kesepakatan. Pintu itu harus tertutup jika ada yang menggunakan. Jika tidak, sebaiknya dibiarkan terbuka. Di malam hari, pintu kamar mandi memang harus tertutup karena kecoak suka keluar dari lubang buangan air dan bisa merajalela kemana-mana. Jika terbangun di malam hari dan ingin buang air, lihat dulu apakah lampu kamar mandi menyala. Jika menyala, itu artinya ada orang lain di dalam.***


Catatan: Ceritanya lucu tanpa berniat ingin melucu. Aku tersenyum simpul setelah menyelesaikan paragraf terakhir. Ia ringan, mengalir, dan terasa 'persoalan' (kamar mandi) ini begitu akrab dengan Mbak Tata. Intens sekali. Aku menyukainya. Mbak juga punya kemampuan bercerita dalam menulis. Setiap orang, tentu saja, punya cerita. Yang susah adalah menuliskannya. Mbak Tata mampu menuliskan kisah ini dengan mengalir dan enak dibaca. Thanks. (Fahri)

Jumat, 22 Mei 2009

Yang remeh tapi penting

22 Mei 2009

Saya produk lama. Angkatan 60-an. Saya hasil didikan generasi 30-40an. Kedua orang tua saya lahir tahun 1934. Guru-guru yang mendidik saya lebih muda dari kedua orang tua saya. Saya kira mereka lahir sekitar tahun 40-50an. Masih ada plusnya. Mayoritas pendidikan saya nikmati di sekolah Katholik yang notabene disiplin. Apa artinya kedua fakta itu?

Begini, akhir-akhir ini saya suka jengkel. Asisten domestik saya, suster dan mbak cuci gosok suka bikin gemes. Saya rasa mereka boros soal penggunaan sabun, obat pel, listrik, air, odol, dll. Juga tak paham detil. Kalau bekerja saya lihat masih ada yang terlewat. Hal seperti ini bukan terjadi sekali ini. Semenjak berumah-tangga, saya beberapa kali memiliki asisten domestik. Jaraaaang sekali yang punya perilaku hemat, tertib, dan detil dalam bekerja.

Nah, di sini saya mau tulis beberapa hal yang kelihatan remeh tapi perlu diperhatikan, yang merupakan hasil didikan generasi tua yang saya sebut tadi:

1. Mencuci pisau dapur (ini berlaku untuk pisau yang terbuat dari besi, bukan stainless)
Pisau yang terbuat dari besi tempa yang ditipiskan biasanya akan berkarat jika habis dicuci. Jika pisau berkarat akan mudah tumpul, lagipula pisau berkarat tidak bisa segera digunakan. Nah, caranya selesai mencuci pisau, segera lap atau keringkan badan pisau. Akan lebih baik lagi jika diolesi minyak goreng untuk mencegah karat dan menjaga supaya tetap tajam. Untuk menghemat, bisa saja gunakan minyak jelantah. Tapi ingat, jangan gunakan minyak jelantah yang bekas goreng ikan. Nanti jika digunakan untuk memotong makanan, makanannya akan bau ikan. Lebih baik memang menggunakan minyak goreng yang baru.

2. Menuang minyak dari refill ke tempat minyak.
Untuk mencegah ada tumpahan. Tempat minyak ditaruh dulu di baskom. Jadi tumpahan minyak akan jatuh di baskom, kemudian baru dituang lagi ke tempat minyak.
*Ini berlaku juga jika ingin menuang cairan lain dari refill misalnya, kecap, obat pel, pelembut pewangi, dll.

3. Memencet pasta gigi.
Pencet pasta gigi dari ekornya baru naik ke atas. Bukan dari ujung. Memang lebih mudah dari tempat yang paling gendut, tapi lebih baik kalau dari bawah ke atas. Ini akan lebih menghemat, karena pasta gigi akan terpakai seluruhnya. Jaman dulu tempat pasta gigi terbuat dari seng sehingga 'ekor' pasta gigi lantas digulung ke atas.

4. Menggunakan sabun mandi.
Sabun mandi yang menipis jangan langsung dibuang begitu saja. Gunakan sabun mandi hingga habis. Caranya: sabun mandi yang tipis ditempelkan ke sabun mandi yang baru. Tarik-tarik pinggir sabun dan beri sedikit air sehingga keduanya bisa menyatu. Nah, sekarang tak ada sabun yang terbuang.

5. Saat air toren penuh.
Ketika mengisi air dengan jet pump, air akan dialirkan dulu ke toren (bak penampungan air). Nah, jika toren sudah penuh, langkah pertama adalah mematikan jet pump. Langkah kedua,
segera nyalakan air keran di kamar mandi untuk mengisi bak. Sehingga air tidak terlalu banyak yang terbuang. Jika bak sudah penuh, ambil inisiatif, dengan menampung air di ember.

6. Mencuci peralatan makan.
Keran bak cuci bisa diatur sedemikian rupa. Tidak perlu setiap kali memutarnya dengan maksimal. Untuk mencuci sendok dan garpu misalnya. Cukup putar secukupnya tidak usah terlalu deras airnya. Ini akan menghemat air yang terbuang.

7. Membersihkan kamar mandi.
Keramik kamar mandi biasanya bergaris-garis secara vertikal dan horisontal. Untuk membersihkannya, sikat seturut arah garisnya. Gunakan beberapa ukuran sikat. Pergunakan lagi sikat gigi yang sudah tidak dipakai untuk membersihkan sudut-sudut keramik.

8. dan masih banyak lagi sebenarnya. tapi ini sudah malam, mata sudah mengantuk. tapi untuk sementara ini dulu. saya akan coba inventarisir banyak hal remeh tapi penting lainnya. nanti saya posting lagi.

Senin, 21 Juli 2008

Pusing lagi

Baru seminggu pembantu baru minta pulang kampung. Ya, bisa dimaklumi sebenarnya. Hari Sabtu malam dia bilang suaminya kecelakaan, tabrakan motor, terus kakinya patah. Menurut hasil diskusi keluarganya, dia disuruh pulang kampung aja ngerawat suami. Lha, terus biaya pengobatan darimana, tanya saya. Katanya masih ada tabungan. Wah, pede juga ya. Saya dan suami berusaha membujuk supaya nanti kalau suami sudah baikan bisa balik kerja lagi. Bagaimanapun juga kan mereka perlu uang, lha kok malah ndak kerja dua-duanya. Saya kasih waktu satu minggu kalau mau balik ya silakan, nanti uang transportnya diganti. Dia nya ngangguk ngangguk aja.

Yah, sekarang kami pusing lagi. Cari dimana lagi pembantu yang baik dan rajin? Ya tenaga kerja sih barangkali banyak ya. Maksudnya tinggal ambil dari yayasan pastinya ya ada. Tapi kan ya belum tentu bener orangnya. Ini aja yang cuci gosok juga minta keluar katanya tangannya sakit udah gak mampu lagi. Terus dia bawain saudaranya buat gantiin. Tapi kalau dilihat tampang si saudara ini kok masih bloon ya. Emang sih baru dua bulan tinggal di sini dari kampung. Jadi ya semestinya maklumin kalau tampangnya masih lugu. Buat saya berarti ini tambahan kerjaan lagi, soalnya mesti ngajarin lagi. Kemarin aja datang terus nyapu tapi cuman yang kelihatan aja. Jadi bawah sofa ya masih debuan. Waduh, gawat. Terus pas ngeringin cucian kayaknya juga pertamanya masih bunyi-bunyi. Suami saya udah khawatir aja. "Bisa-bisa mesin kita rusak kayak yang punya tetangga itu", katanya. Punya tetangga saya emang sepertinya udah nggak normal lagi tuh gara-gara pembantunya gak bisa ngoperasiin. Setiap kali ngeringin bunyinya gubrak gubrak, bukannya dimatiin tapi didiemin aja. Jadinya sekarang bunyinya ya gerodok-gerodok, meski sudah bukan gubrak lagi.

Cari pembantu emang susah-susah gampang. Heran juga sih, padahal kerjaan rumah itu kan ya cuman sederhana sebenarnya. Apa sih susahnya nyapu? Tapi kok ya adaa aja orang yang gak bisa nyapu. Lha apa orang ini di rumah gak pernah nyapu sih? Terus soal sensitif enggaknya sama debu atau kerapian. Ada juga orang yang cuek-cuek aja liat barang-barang masih kotor. Saya sering tuh minta diulangin lagi nyuci peralatan dapur nya sama pembantu. Atau ya minta diulang setrikanya. Abis gimana ya. Terus juga soal kamar mandi. Aduh, gemes bener. Suruh bersihin kamar mandi tapi kok ya cepet banget terus pas saya masuk lagi, lha kok masih sama aja gak ada perubahan. Ini orang punya mata gak sih mosok liat kotoran di depannya cuek aja? Terus dia ngapain aja tadi? Heran bin gemes saya.

Kadang saya ya beres-beresin sendiri daripada dibilang cerewet. Tapi kata suami sih, suruh kasih pembantu aja. Lha tapi kalau dikerjain orang lain tuh saya suka gak puas. Cuman ini karena fisik sudah sangat terbatas, jadinya saya jadi suka makan ati. Mau beresin sendiri udah gak mampu, mau ngomongin kok ya jadinya cerewet. Udah gitu ngomonginnya mesti berkali-kali lagi. Jengkel kan jadinya?

Kadang saya gak setuju sama LSM yang suka belain pembantu. Ya memang jangan sampai mukul atau terus nyiksa pembantu. Bagi saya ya lebih baik dikeluarin aja kalau gak cocok, daripada dipaksa kerja seturut maunya majikan tapi sambil dipukulin. Tapi kalau terlalu disayang saya ya ndak setuju juga. Pembantu ini ndak semuanya baik dan benar lho. Ada yang hobinya nonton teve, ada yang pacaran, ada yang ya cuman sekadar bengong ngalamun di teras. Yang terakhir ini yang banyak. Mereka sepertinya 'don't know what to do' gak ngerti mesti ngapain. Jadinya ngalamun aja. Yang sering saya liat sih terus bersihin kuku kaki. Duduk ngelingker sambil pegang guting kuku. Beberapa pembantu yang pernah kerja sama saya rata-rata punya hobi ngurus kuku kaki. Saya juga ndak tau kenapa.

Nah, sekarang saya sama suami judulnya lagi pusing lagi. Mana suami kerjaan banyak dan harus keluar kota, sementara saya lagi hamil tua gini. Aduh... kok ya ada aja ya? Harapan kami sih, semoga si pembantu baik yang kemarin itu balik lagi. Meski harapan itu tipis ya. Entahlah..sementara ini ya terpaksa saya bolos bolos lagi ke kantornya atau ya ngajak anak kerja sepulang sekolah meskipun dalam hati kasihan juga. Capek pasti dia soalnya sekarang masuk pagi. Mau bagaimana lagi?

Rabu, 16 Juli 2008

Pembantu

Dapat pembantu baru. Direkomendasikan supir teman kantor. Setiap kali dapat orang baru di rumah biasanya saya deg-degan, macam apa ya nanti orang ini? Pengalaman beberapa kali terakhir bikin jengkel. Ada yang ternyata buta huruf (bayangin hare gene buta huruf..), dua kali cuma betah sehari lantas minta keluar, yang pertama tiba-tiba balik lagi ke rumah pagi-pagi minta kerja lagi soalnya dapat majikan baru katanya galaknya minta ampun (syukurin!), terus yang kedua katanya gak mau jaga anak (padahal udah dibilang kalo nantinya yang penting jaga anak, sebel), lantas ada yang bego nya minta ampun (tiap hari terpaksa ngomel, padahal orang hamil gak boleh marah-marah akhirnya dilepas aja deh, daripada bikin bete), ada juga yang datang-datang minta gaji 500rb, padahal bukan suster dan cuma lulusan SD, dan tugasnya cuma jaga anak karena yang cuci gosok dan bersih-bersih rumah udah ada (wah, tolak aja deh).

Na..sebelum dapat yang baru ini saya kepikiran, macam apa ya orangnya. Eh...beruntung sekali saya, baru beberapa hari dia udah kelihatan sangat berprestasi. Sama anak saya juga baik, beres-beres rumah juga oke, pokoknya udah keliatan mencorong dah! Wah, saya harap moga-moga anak ini betah di rumah. Dia ini barusan kawin, jadi ya lagi perlu kerja. Dulunya bekas suster dan pernah dikursusin ngurus anak meskipun belum pernah punya pengalaman ngasuh bayi (aku bujuk yaaa nantinya kan bakal punya anak, jadi anggap aja ini belajar dulu lagian selama beberapa bulan nanti masih aku temani).

Kemarin saya dah beli kipas angin buat ruang depan, jadinya kipas angin yang satunya bisa buat dia sendiri. Saya sih maklum kalau ruang tempat dia tidur itu kalau malam panasnya bukan main. Kasihan kan kalau gak ada kipas angin, bisa-bisa gak betah dia. Padahal saya lagi sangat perlu orang dengan kualifikasi baik macam dia. Ya aku terpaksa beli baru buat ruang depan, jadi kalau suami saya kerja malam-malam dia gak kepanasan (suami saya ini gak bisa hidup kalo kepanasan, kalo gak ada angin langsung gatal-gatal badannya, kasian kan).


Saya pribadi sebenarnya gak sreg kalau ada orang lain di rumah. Tapi ya, akhirnya harus juga. Dulu waktu habis menikah sama sekali gak terpikir kalau harus pakai pembantu. Pengennya semua bisa dikerjain sendiri. Ternyata eh ternyata, ada anak lahir terus ada kesibukan baru, terus eh sekarang mau beranak lagi. Beneran gak kepegang kerjaan rumah itu. Padahal kalau liat reality show The Nanny itu, orang Amerika rata-rata punya anak lima dan untuk bayar pengasuh mereka gak mampu karena di sana gajinya mahal banget. Ibu-ibu yang di acara reality show itu kayaknya pada teler-teler karena seharian gak punya waktu buat ngurus diri sendiri. Meski ada juga yang kejadian justru sebaliknya, anak-anaknya gak keurus.

Di Indonesia, gaji suster atau pengasuh anak tidak semahal di Amrik, tapi yaaa menurut saya sih lumayan juga. Dari pengalaman punya suster, mereka ini dapat gaji yang baik. Tiap tiga bulan sekali ada tambahan uang buat beli baju seragam, terus tiap enam bulan gajinya naik sesuai prestasi, tiap tahun sekali juga harus ada uang lebaran. Rata-rata sih, orang kalau anaknya udah besar gak pakai suster lagi tapi pakai mbak aja - sebutan buat pembantu yang ngasuh anak. Biayanya lebih murah, gak pake keharusan uang baju seragam, dinaikin enggaknya terserah kita. Lagian kalau mbak kan bisa disuruh-suruh ngerjain yang lain, gak melulu anak. Ntar jadi manja anaknya. Seperti pengalaman saya baru-baru ini juga gitu, anak udah mandiri tiba-tiba dapat suster baru yang nguntit terus kemanapun dia pergi. Mosok minum susu aja dibawain gelas susunya sampai ke luar rumah, ngikutin anak main. Ampun dah! Bisa-bisa anak saya jadi gak bisa ngapa-ngapain nih.

Beberapa kali ngambil suster dan pembantu rasanya membuat saya sulit membedakan mereka. Buat saya yang ibu-ibu yang cenderung pelit (he..he..) lebih enak kalau dapat pembantu tapi yang telaten ngasuh anak. Lha wong suster itu udah gajinya mahal, kerjanya terbatas, tapi kinerjanya sama kayak pembantu tetangga yang gajinya lebih murah. Biarpun memang kalau ngambil suster itu ada rasa aman nya, soalnya suster kan diambil dari yayasan yang akan menjamin kalau ada apa-apa (kebetulan yayasan di komplek saya baik reputasinya). Saya tak perlu korek-korek latar belakangnya tapi yakin anak saya aman kalau saya tinggal pergi. Yayasan-nya tahu alamat rumahnya karena model recruitmen nya door to door. Ada lagi yayasan yang pegang surat jaminan dari orang tuanya. Jadi bikin saya aman lah. Kan suka ada cerita yang suster-suster nyolong atau culik anak majikan. Aduh..ngeri saya.

Pengalaman saya dengan beberapa suster, mereka juga baik sama anak saya. Pertamanya sih saya kuatir jangan-jangan pas saya tinggal anak saya dibentak-bentak atau dipukul. Soalnya suka liat pengasuh anak tetangga gitu juga sih. Kebetulan dan syukurlah, suster-suster yang kerja di tempat saya nggak ada yang begitu. Mereka baik-baik dan jujur semua. Cuman ya ada yang bodo aja. Kalau soal ngasuh sih baik semua. Kalaupun ada satu dua yang enggak baik biasanya gak lama udah saya keluarin dulu atau ya dibikin gak betah (he..he..). Buat soal ginian saya sangat strict. Tapi beberapa teman banyak yang bilang kalau saya beruntung karena selalu dapat pengasuh anak yang baik. Saya suka mbatin kalau dibilang begitu, barangkali bukan soal keberuntungan, saya nya yang gak betah kalau dapat orang yang aneh-aneh.

Bayangkan saja, ada teman yang tahan punya pembantu yang hobinya nonton sinetron terus, atau hobi pacaran, atau bloon, atau ya yang menurut saya jelas tidak akan saya terima deh orang macam itu. Tapi mereka bisa bertahun-tahun punya pembantu yang sama dan gak ganti-ganti macam saya. Saya sama suami lantas berkesimpulan, barangkali emang kami yang terlalu banyak cingcong.

Begitulah, nyari pembantu itu susah-susah gampang. Kalau pas dapat yang baik ya baik banget. Kalau pas sial ya makan ati jadinya. Saya sih berharap yang terbaik aja, moga-moga yang ini baik, jujur, awet.

Minggu, 13 Juli 2008

Rumah Tata


Ini rumahku. Mungil. Wong cuman tipe 36. Pembagian ruangnya pun sangat sederhana. Secara garis besar dibagi empat. Ruang depan, kamar samping, kamar belakang, dan dapur merangkap ruang makan. O ya, yang keliatan di gambar ini kebun mini, carport, sama teras kecil dengan kursi goyang favoritku.

Blog ini isinya tentang hal yang remeh temeh seputar kehidupan aku. Aku mencoba tidak akan mencantumkan hal-hal yang terlalu serius ato akademis. Namanya juga kehidupan di rumah, aku coba bikin di rumah senyaman mungkin.

Kehidupan di rumah itu ya...begitu. Life is too short to worry, kata lagu jazz jadul tahun 80-an. Jadi harus diisi dengan senyum dan canda aja. Biarpun lagi ditimpa musibah pun menurutku ya dalam hati harus terus dipaksa nyaman. Tertawakan aja diri sendiri - menurutku itu perlu karena dengan begitu kita bisa evaluasi. Menertawakan diri itu tahap awal buat memperbaiki kesalahan. Lha kalau kita gak mampu memandang diri sendiri lantas bagaimana mau membuatnya jadi lebih baik? Mosok bisanya cuma liat orang lain aja. Ujung-ujungnya kita bakalan jadi orang yang sok baik ato ya jadinya iri. Selalu banding-bandingin kehidupan orang yang dirasa selalu lebih baik dari kita. Ujungnya lagi, kita gak akan pernah bisa bersyukur. Wah...Tuhan pasti marah besar itu. Wong, udah dikasih kehidupan aja udah untung kok. Ini malah macem-macem.

Bersyukur itu sederhana dan gampang lo dilakuin sebenarnya. Menurut artikel di majalah Pesona setiap hari kita harus mengucap syukur - dari bangun pagi sampai tidur malam. Ada banyak lo cerita orang yang tidur malam lantas paginya gak bangun lagi alias ya sudah meninggal. Setiap bangun pagi aku selalu dipaksa untuk berdoa. Lo, siapa yang maksa? Ya..badanku sendiri. Agak norak juga sih. Aku ini secara genetik tekanan darah rendah. Jadinya kalo bangun tidur gak bisa langsung bangun. Bisa-bisa pingsan karena aliran darah belum normal. Naah, setiap bangun tidur aku harus duduk dulu agak lama baru bangun dan jalan. Nah lagi, daripada cuma duduk bengong akhirnya aku pikir baiknya doa pagi aja. Toh, baik adanya, iya kan? Menyambut hari, mensyukuri awal kehidupan, dan memohon berkat bagi seluruh keluarga untuk beraktivitas.

Begitulah. Posting awal ini jadi pembuka buat posting-posting berikutnya. Di awal aku pikir isinya akan berkisar soal penantian kelahiran anakku yang kedua. Sekarang sudah jalan 35 minggu. Sekitar satu bulan lagi dia bakal lahir. Dan rumahku yang mungil itu bakal kelihatan makin mungil dan sempit. Penambahan anggota baru ini aku yakin bagian dari rencana Tuhan buat keluargaku. Tak ada yang harus disesali. Bersyukur dan berterima kasih karena dapat kepercayaan lagi buat merawat anak manusia. Apalagi menurut dokter, anakku ini nantinya perempuan. Suamiku senang bukan main. Ini memang keinginannya dari dulu untuk punya anak perempuan, sementara anak pertamaku laki-laki. Kami sungguh bersyukur dapat anugerah yang luar biasa ini. Aku yakin rumahku akan dipenuhi dengan keramaian canda tawa dari para penghuninya.

Senin, 12 Mei 2008

Pengasuh Anak

12 Mei 2008

Menyebalkan. Hari ini pengasuh anak yang baru keluar dengan alasan katanya gak bisa jaga anak. Padahal baru datang hari Sabtu malam setelah saya menunggu seharian. Lantas katanya hari Sabtu pantang mulai bekerja, tapi bisa sesudah jam 6 sore. Jadi Sabtu itu dia datang jam 7-an. Karena saya nitip dicariin sama tetangga, jadi tetangga yang ngurus. Dia yang jemput. Malam itu, tetangga bawa dua pembantu baru, satu buat dia sendiri lantas satu buat saya. Penampilan anaknya sendiri lumayan. Ngakunya umur 19, tapi menurut saya sih sekitar 17. Biasa suka nua-nuain umur. Katanya pernah kerja di blok E tapi nggak betah. Pas ditanya kenapa keluar dulu? Katanya karena disuruh ngasuh anak umur 3 tahun dia gak mau. Wah, kaget saya dengarnya. Bukankah di sini nanti tugas utamanya jaga anak saya? Ini jawaban yang polos, tapi semestinya dia tahu sebelum kesini dong karena kami cari orang memang yang tugasnya jaga anak. Sementara cuci gosok dan beres-beres rumah sudah ada sendiri. Tapi meskipun malam itu saya kaget dengan jawabannya, saya besarin hatinya. Saya bilang: Anak saya umur 5 tahun kok, bisa ditinggal, bisa main sendiri. Kalau anak 3 tahun kan harus dijaga terus. Yaa..dicoba dulu.

Hari Minggu saya ke gereja pagi kemudian jalan-jalan sampai sore hari. Praktis si anak ini nggak banyak tugas. Ya cuma jaga rumah. Tapi emang anaknya suka beres-beres rumah. Pagi bangun langsung nyapu sama ngepel. Saya juga minta dia perhatiin gimana cara mandiin anak. Saya yang mandiin dia cuma saya suruh lihat aja. Malamnya saya minta dia nyuapin anak.

Nah, di hari Senin saya sengaja nggak ke kantor karena mesti ngasih tahu dia soal gimana ngantar dan nunggu di sekolah. Pagi saya minta dia nyuapin anak setelah selesai saya suruh mandiin sekalian. Lantas kasih baju, kemudian berangkat ke sekolah. Di sekolah saya sudah batin, ni anak kok manyun aja. Nampak gak enjoy sama sekali. Tapi batin saya bilang, ah mungkin karena masih baru jadi diam aja. Saya coba dengan ngenalin dia ke mbak lain supaya ada teman ngobrol. Lantas saya tinggal pulang. Siang saya jemput, wajahnya masih manyun. Sebel juga saya liatnya.

Sekitar jam 13.30 saya minta dia nyuapin anak. Makan siang. Abis itu ya biasa, saya lantas nemenin anak bobo siang. Eh, bangun-bangun sore jam 16.30 dia bilang mau keluar dengan alasan nggak bisa jaga anak. Ya sudah, kata saya. Yang bikin saya jengkel suami saya langsung marah-marahin anak. Wah, langsung marah saya. Kasihan anak saya. Bangun tidur belum tahu apa-apa langsung dimarahi sampai nangis sesenggukan. Setelah saya bujuk-bujuk, anak saya pun diam. Eh, waktu di ruang depan, si pembantu ini kok bisa-bisanya lantas bilang "Yuk main".
Bagaimana bisa? Wong katanya mau keluar gara-gara nggak bisa jaga anak kok sekarang basa-basi ngajak main terus pas anak saya keluar dianya nguntit terus kayak masih mbaknya. Terus pas saya suruh mandiin eh, masih aja mau mandiin. Enak aja. Jengkel sekali saya.

Malamnya, suami masih saja ngomelin anak soal mbak yang keluar ini. Saya marah sekali. Ngapain belain orang yang memang nggak mau kerja? Dasarnya nggak mau ya udah. Apalagi nanti kan dia juga yang saya suruh njagain bayi yang Agustus nanti mau lahir? Daripada keterusan kan mending dia keluar duluan? Saya jengkel sekali. Marah sama suami.

Anak saya memang nggak bisa diam. Tapi kalau emang dasarnya nggak mau jaga anak ya udah. Emang berarti dia nggak cocok sama anak saya. Jengkel saya.

Kalau udah begini saya rasanya pengen di rumah aja. Jaga anak. Tapi ya emang saya jadinya berkurang pemasukannya. Baru aja sebentar saya ngerasain punya uang sendiri, ketemu teman-teman lama dan dapat teman baru lagi. Masuk lingkungan kerja lagi. Eh, ada aja masalahnya. Sekarang soal anak yang nggak ada yang jaga. Belum lagi nanti Agustus bakal tambah anak lagi. Mesti bagaimana lagi?

Sementara ini sih kalau kepaksa, anak saya sering saya titipkan ke orang yang cuci gosok. Rumahnya di kampung deket kompleks. Tapi kasihan juga, nggak bisa terus-terusan begitu. Setiap kali pulang dari sana anak kok kumuh sekali. Kaki kotor, bajunya juga jadi kusam. Baunya juga aneh. Meski anak saya senang-senang aja, tapi ya repot juga. Bagaimanapun juga soal jam sekolah yang bikin repot. Anak saya masuk siang jam 9.30 lantas pulang jam 12. Jadi jam tanggung. Atau ya sering saya terpaksa ajak ke kantor ke Jakarta. Tapi ya kasihan juga, karena pulang-pulang teler dia kecapekan naik kendaraan umum.

Rasanya pengen di rumah aja. Ngurus anak.