Minggu, 28 Februari 2010

Praline Almond


Praline kali ini sangat sederhana dan gampang. Filling praline yang model begini cocok kayaknya buat aku yang kurang tekun ini :D

Bahannya ya cuma Dark Cooking Chocolate sama White Cooking Chocolate yang ditim terus dicampur biar terbentuk motif marmer. Untuk fillingnya tinggal remas-remas kacang almond aja. Sebesar apa? Ya sesuai selera, kalo mau terasa pas nggigitnya ya dibikin agak besar, jangan sampai remuk banget.

Caranya? Tuang coklat ke cetakan separuh dulu terus taburi kacang almond, dinginkan. Masuk kulkas sekitar 15 menit, keluarkan, tuang lagi dengan coklat hingga penuh. Ratakan. Masukkan kulkas lagi. Dan 15 menit kemudian. Jadilah dia.

Hasil tampilannya seperti di gambar yang tengah itu. Yang bentuk hati dengan motif marmer. Yang bentuk hati kecil-kecil itu sisa coklat aja yang aku cetak di cetakan hati yang kecil-kecil.

Rasanya? Enak, mirip silverqueen yang isi almond. Bagi Anda yang susah bikin filling praline, cara ini pasti cocok :)

Sabtu, 27 Februari 2010

Praline Kopi Pertamaku


Setelah beberapa lalu "berhasil" bikin permen coklat yang pakai stick, sekarang aku coba yang praline. O ya kata berhasil itu pakai tanda kurung soalnya masih belum sempurna. Masih belum rapi. Pokoknya tahap awal ini aku perkenalan dulu sama coklat, cara masak, dan cara mengemas.

Meski sudah punya buku dua tentang coklat, eh ujung-ujungnya resep yang aku pakai boleh nyontek dari punya Ria Chocoleveid di situsnya Icip-icip Di Dapur. Makasih ya Ria! Dia perbolehin kok siapa aja copy paste resep-resepnya. Dan ini dia yang aku contek, silakan klik dan bandingkan tampilannya yang jelas beda di http://icip2didapur.blogspot.com/2008/02/choco-coffee-praline.html

Nah, aku mo sharing pengalamanku bikin.

Rencananya coklat praline ini mau dibawa suami ke Malang besok pagi-pagi, jadi bikinnya ndadak. Mulai bikinnya sore soalnya hari ini cuaca lagi panas jadi nyari yang udaranya udah adem. Entah karena buru-buru terlalu bernafsu plus capek setelah seharian tadi jalan, bikinnya jadi 'kemrungsung'. Menurut Ria, harusnya untuk membuat kulitnya pakai kuas yang diulaskan berkali-kali. Ulasan pertama, tunggu kering, ulas lagi, tunggu kering, ulas lagi..begitu seterusnya sampai dinding kulit cukup tebal.

Nah, untuk kasusku ini karena ya itu tadi buru-buru, capek, plus udah malas (cari kambing hitam sebanyak-banyaknya), jadinya dindingnya belum terlalu tebal udah aku semprotkan isi. Jadinya ya seperti yang di foto itu. Filling-nya seperti lapisan tersendiri. Padahal harusnya tak terlihat dari luar. Untuk kepentingan foto ini (cie..) aku mau iris coklatnya biar kelihatan dalemnya, eh lha kok keras dan malah kepleset jadi seperti yang di foto itu. Jadi, kalo Anda sekalian perhatikan, di foto itu ada coklat yang tampak teriris sedikit :D

O ya, pas ngetim coklat putih-nya juga sepertinya aku keliru. Terlalu panas hingga si coklat jadi menggumpal dan gak leleh sempurna. Air di bawahnya sampai mendidih dan bunyi kretek-kretek. Wah, sampai panik. Lantas kompor aku matiin. Aku buang airnya dan ganti yang baru. Coklat juga terpaksa aku ganti yang baru. Setelah ngademin pikiran dan jiwa, mulai lagi. Sambil ngucap doa-doa, eh kok masih juga gak sempurnya lelehnya. Padahal api udah dikecilin. Tapi ya udah kadung dan udah gak ada lagi coklat putihnya ya langkah dilanjutkan. Jadi sih jadi, cuma ya itu tadi, karena kulit luar terlalu keras sementara yang dalam lembek ya pas digigit kayak kepleset gitu.

Soal rasa fillingnya? Wuah, sebenarnya enak banget lo. Aku persis nyonto Ria itu, pake Nescafe Pass. Baunya harum banget. O ya aku sepertinya keliru juga pas bikin fillingnya. Menurut Ria, butter itu dicampur terakhir. Nah, di aku karena gak teliti, semua bahan aku campur terus aku tim bareng-bareng. Sepertinya terlalu cair jadinya karena butternya lumer semua.

Biar bagaimana, ini namanya pertama kali. Jadi ya aku berharap lain kali bisa lebih baik dan lebih sempurna. Besar-besarin ati sendiri biar gak patah semangat :P

Jumat, 19 Februari 2010

Oseng Ikan Asin Tomat Ijo


Bingung aku nama masakan ini apa. Sejak kecil masakan ini sudah sering ada di meja makan he. Tapi nggak tahu nama spesifiknya apa. Pokoknya cara masaknya dioseng aja. Dan kalau sudah ada masakan ini, wuih dijamin makannya pasti nambah. Apalagi kalo pakai nasi anget. Terus makannya pakai tangan aja. Biar kata kelihatan 'kurang beradab' tapi yang penting kenikmatan-lah yang didapat :)

Resepnya begini:
Bahan:
1. Ikan asin 4 buah (aku nggak tahu yang aku pakai ini namanya ikan jenis apa, yang aku beli di mister Kasno ini satu plastik isinya dua-dua - tapi sepertinya jenis ikan apa aja bisa kok dimasak dengan cara ini). Potong-potong ikan asin sesuai selera, di aku yang motongin si mister Kasno, soalnya beliau punya pisau yang asli tuajem banget.
2. Tomat ijo 10 buah (aku suka banget soalnya, makin banyak makin enak). Potong satu buah menjadi enam bagian atau kalau tomatnya kecil ya dibagi empat bagian.
3. Petai 1 papan. Iris-iris satu mata petani jadi 4 bagian. Eh, tapi kalo emang doyan ya silakan kalo mau dibiarin aja gak usah diiris.
4. Minyak goreng untuk menumis.

Bumbu:
1. Bawang merah 4 siung. Iris tipis.
2. Bawang putih 2 siung. Iris tipis.
3. Daun salam 2 lembar.
4. Lengkuas, 3 iris
5. Cabe ijo besar 5 buah, iris serong.
6. Cabe merah 3 buah, iris serong.
7. Garam setengah sdt.
8. Penyedap masakan - aku pakai maggie.

Cara membuat:
1. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum.
2. Masukkan sisa bumbu yang lain ditambah petai. Aduk-aduk rata. Taburi garam dan penyedap masakan.
3. Masukkan ikan asin dan tomat ijo.
4. Beri air sedikit saja. Gunanya agar bumbu lebih cepat terserap dan merata.
5. Aduk sebentar saja, jangan sampai tomatnya layu. Yang enak adalah kalau tomatnya setengah matang. Jadi rasanya nanti campuran asin, pedas dan asam. Nikmaaaattt banget...

O ya, jangan lupa makannya pakai krupuk karak yang tadi :)

Krupuk Karak


Naah, ini dia yang aku sebut di posting beberapa waktu lalu. Ini krupuk karak bikinan sendiri. Ceritanya, tanggal 14 Februari kemarin banyak acara jadi kami semua makan di luar. Malam juga begitu. Paginya baru sadar ternyata masih punya banyak nasi. Mau dimakan kok warnanya udah mulai menguning gitu. Ya aku bikin krupuk karak aja. Gampang kok bikinnya. Cuma cuaca ini yang nggak jelas, kadang panas kadang hujan. Sambil bikin sambil berdoa semoga ada matahari :)

Ini resepnya:
Bahan:
1. Nasi (sisa nasiku kira-kira 3 porsi orang dewasa)
Bumbu:
1. Garam bleng (aku pakai yang bentuknya jari telunjuk, dan aku pakainya dua buah)

Cara membuat:
1. Rendam garam bleng dalam air panas secukupnya sampai larut. Saring (karena terkadang ada yang tidak mau larut). Sisihkan.
2. Uleni nasi dengan air larutan bleng. Aduk-aduk hingga rata.
3. Kukus dengan dandang yang sebelumnya sudah dipanaskan hingga airnya mendidih terlebih dahulu sekitar 20 menit.
4. Setelah matang, angkat nasi dan haluskan. Aku pakai cara tradisional, menghaluskannya pakai ulekan yang dibungkus plastik (dan yang ngerjain bukan aku tapi sang asisten :P)
5. Setelah halus, diratakan dalam satu tempat. Lebih baik pakai loyang cetakan kue yang persegi empat. Kalau tak ada pakai apa saja yang ada.
Catatan: adonan ini enak juga dimakan hangat dengan ditaburi parutan kelapa yang dibubuhi garam sedikit.
6. Diamkan adonan beberapa saat sampai dingin baru diiris-iris halus.
7. Tata di atas tampah, jemur hingga kering benar. Untuk kasusku kali ini, aku perlu waktu 3 hari. Maklum panas hujan panas hujan gak tentu.
8. Goreng di atas minyak panas.

Rabu, 17 Februari 2010

Orak-arik Telor Saus Tiram


"Selalu sedia bahan-bahan masakan di kulkas," begitu kutipan yang aku pernah baca di salah satu artikel jaman kapan itu. Pokoknya pesan ini selalu aku ingat. Dan nyatanya berguna kok. Beberapa kali slamet gara-gara pesan itu. Nah, pas hari ini kejadian juga. Pagi cuma sempat masak sup buat anak-anak terus ke bengkel sampai siang baru kelar. Sampai rumah istirahat bentar. Kelaparan. Kalo mo praktis biasanya ya nyeplok telor, tapi kok ya terlalu minimalis gitu. Telor ceplok, kecap, krupuk ndak ada sayurnya. Ah, coba buka-buka laci kulkas. Adanya sawi putih, kembang kol putih, sama wortel satu buah. Kenapa gak bikin orak-arik telor aja. Di dapur juga masih ada saus tiram. Lumayan, pasti bisa bikin tambah mantap.

Nah, ini resepnya. Mudah. Gampang. Praktis. Cepat. Sehat. Bergizi dan Mantap!

Bahan:
1. Telor 3 butir
2. Sawi putih, rajang-rajang kira-kira setengah centimeter
3. Wortel 1 buah, potong korek api.
4. Kembang kol, potong sesuai kuntum.
5. Cabe merah keriting, 2 buah, iris serong.

Bumbu:
1. Bawang putih, 2 siung, keprek, cincang kasar.
2. Garam setengah sendok teh
3. Mentega secukupnya untuk menggoreng telor dan menumis bawang putih.
4. Saus tiram 2 sendok makan
5. Merica halus.
6. Maggie sepertiga kotak kecil.

Cara membuat:
1. Ceplok telor langsung di atas wajan yang sudah diberi mentega. Aduk-aduk kasar hingga matang. Taburi garam. Angkat. Sisihkan.
2. Tumis bawang hingga harum. Masukkan cabe merah. Tumis hingga harum. Bubuhi garam. Masukkan wortel. Aduk hingga setengah matang. Masukkan telor, kembang kol, terakhir sawi putih. Bubuhi merica halus, maggie, dan saus tiram. Aduk-aduk hingga keluar airnya dan semua bumbu meresap. Angkat.

Santap dengan nasi hangat dan krupuk. Yummy!

Selasa, 16 Februari 2010

Coklat Candy Stick


Hari ini, 16 Februari 2010 jadi hari istimewa. Ini pertama kali aku bikin coklat candy stick soalnya. Sudah lamaaaa banget pengen bikin sendiri, tapi kok ya baru hari ini kejadiannya. Beberapa hari sebelumnya dah beli bukunya Yeni Ismayani yang judulnya "Variasi Olahan Cokelat: Candy Stick, Praline, & Truffle". Pengennya sih bikin buat pas ultah si Bintang tanggal 14 kemarin, tapi kok ya adaaaa aja halangan.

Nah, kemarin tak paksain mampir ke Toko Puspita Pasar Modern BSD buat beli peralatan. Cetakannya aku beli di tiga tempat lho, dengan harga yang variatif. Kalo di Toko Puspita harganya 7000 rupiah, di Toko Tania - Ruko Melati Mas depan harganya 7500 rupiah, di Toko bahan kue (aku lupa namanya) di Ruko Melati Mas dalam harganya 6500 rupiah. Kenapa di tiga toko, karena ketiga toko itu kemarin kelewatan semua pas dari Bogor mau pulang ke rumah. Terus karena habis valentine, cetakan coklat banyak diborong orang, jadi macamnya sudah gak variatif lagi. Sementara dalam pikiranku aku cuma mau bikin yang coklat candy stick aja dulu, belum berani bikin yang praline ato truffle. Jadinya yang aku kejar ya cetakan candy stick.

Hasilnya? Ya seperti yang di foto itu. Masih belum rapi. Susah-susah gampang bikinnya. Kalau kata Yeni Ismayani sih, kalau bikin coklat itu mood-nya harus baik hatinya harus nyaman, nanti dijamin hasilnya pasti baik. Lhaaah, ini wong bikinnya aja sambil direcokin anak. Sambil ngomel panjang pendek. Setiap kali kepikiran pesennya si Yeni itu lantas coba senyum lagi, eh, direcokin lagi, senyum lagi, recokin lagi, senyum lagi, gitu seterusnya. Jadinya yaaa..ada yang belepotan (pasti pas lagi ngomel), ada juga yang (seolah-olah) rapi (yang ini lagi senyum).

Somehow, aku puas lah dengan uji coba pertama ini. Namanya juga baru pertama kali. Lain kali harus lebih rapi dari yang sekarang. Bikin coklat ini menurutku sekaligus latihan mental, biar gak gampang ngomel-ngomel sama anak :P

Rabu, 10 Februari 2010

Buntil Daun Singkong


Seumur-umur belum pernah aku bikin buntil. Tapi tergoda juga kepengen bikin, soale gak tahu belinya dimana. Kalau di Jogja dulu gampang banget belinya. Terus waktu tinggal di Cilandak, kalau hari Minggu ke gereja Stefanus ada juga ibu-ibu WK yang jualan buntil. Kapan itu kepikiran terus, pengeeeen banget makan. Tapi dimana cari daun talas-nya? Buntil yang aku tahu dibungkus pakai daun talas. Setelah baca-baca resep dan googling di internet, ada resep buntil yang pakai daun singkong. Eh, mana bisa? Daun singkong kan kecil. Di Saji pernah ada dimuat cara membuatnya, daun singkong-nya ternyata ditata-tata dulu biar lebar. Weh, kok bisa ya?

Buat menghentikan rasa penasaran dan rasa rindu yang menjadi, aku coba dengan modal kuat untuk mem-buntil ria. Tak mudah lo, bener. Aku aja dari jam 4 sore, baru selesai sekitar jam 7 malam. Yang paling sulit adalah bagian membungkusnya. Soalnya daun singkong itu setelah direbus akan mlungker-mlungker gak karu-karuan, naa supaya bisa buat bungkus harus dilempeng-lempengin dulu, ditata. Terus pas sudah ditarok isi buntilnya juga membungkusnya harus hati-hati, jangan sampai ada yang keluar-keluar. Belum lagi ngikatnya - aku pakai tali rafia - harus ekstra hati-hati. Wis, pokoknya ini bener-bener kerajinan tangan yang memerlukan hati dan pikiran yang sabar dan tawakal.

Tapi hasil akhirnya? Wuiiihhh....asli mak nyussss! Terus terang aku sangat bangga dengan hasil akhir ini, he..he.. Beneran nyamleng banget. Buat pelengkap, gorengin krupuk udang. Makan pakai nasi hangat aja sudah bikin merem melek.

O ya, resepnya aku pakai resep dari dapurmlandhing.dagdigdug.com. Ini resepnya:

Bahan:
3 ikat daun singkong, siangi
1 1/2 liter santan kelapa
10-15 cabai rawit merah
3 lembar salam
2 cm lengkuas, geprek
2 batang serai
5 lembar daun jeruk purut
3 sdm minyak goreng

Isi Buntil:
250 gram teri medan, cuci, tiriskan
1 butir kelapa muda, parut
5 siung bawang putih
1 sdm ebi, rendam, tiriskan
1 sdt garam
1 sdt gula pasir

Bumbu halus:
10 siung bawang merah
10 siung bawang putih
10 butir kemiri
7 buah cabai merah
3 cm jahe
3 cm kunyit
garam secukupnya

Cara membuat:
1. Isi buntil: haluskan bawang putih dan ebi, tumis hingga harum. Tambahkan garam dan gula pasir dan teri medan. Aduk hingga bumbu meresap ke dalam teri. Masukkan kelapa muda parut. Aduk hingga rata. Sisihkan.
2. Rebus daun singkong hingga layu, beri sedikit garam, tiriskan.
3. Ambil 1 sdm isi buntil, bungkus dengan daun singkong. Lakukan hingga semua adonan habis. Sisihkan.
4. Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan daun salam, lengkuas, serai, daun jeruk purut, dan cabai rawit utuh.
5. Rebus santan dengan api kecil. Aduk-aduk hingga santan mendidih.
6. Masukkan kepalan-kepalan buntil. Masak hingga meresap dan santan agak kental.
7. Sajikan.