Sabtu, 21 Februari 2009

Bodoh itu tak mengapa

22 Februari 2009

Halah! Udah berapa bulan saya gak posting blog? Emang saya ini orangnya anget-anget tai ayam. Begitu kata suami saya suatu kali. Semuanya mau dikerjakan, tapi gak tekun. Satu dua kali memang jadi proyeknya dan yaaa...tak jelek-jelek amatlah. Tapi kemudian udah, frekuensi mulai melambat dan lama-lama tak disentuh sama sekali.

Nah, tiba-tiba saya pengen nulis lagi. Mungkin karena saya ikut kursus narasi. Baru mulai kemarin sih, tapi udah mengobarkan semangat dan mulai menyala-nyala nampaknya. Memang bagi para 'penonton' yang sudah paham saya akan bilang, "Aaaah...paling-paling juga menyala sebentar abis itu redup". Tapi kalau yang optimistis ya barangkali akan bilang "Eh, mana tahu sekarang ini saatnya. Jadi ya biarkan saja dia mencoba-coba".

Baiklah, sekarang saya sedang menulis. Barusan saja terlintas ide lama yang sebenarnya dulu mau saya masukkan ke blog tapi selalu tertunda-tunda, atau tepatnya saya sendiri yang suka menunda-nunda pekerjaan yang akhirnya mudah ditebak, tak dikerjakan juga. Ide yang akan saya tulis itu soal "kebodohan". Saya mulai berpikir bahwa bodoh itu baik adanya. Maksud saya begini, dalam hidup tak perlulah kita untuk mengetahui segala macam hal. Kalau kata Injil kira-kira begini, biarkanlah Bapamu di surga yang mengatur semuanya karena itu tak perlulah kau mengetahui segala hal. Sepertinya begitu bunyi ayatnya, nantilah saya tengok lagi. Bodoh itu menurut saya perlu, mengapa? Karena kalau kita pintar dalam segala hal, maka akan ada banyak orang yang tak bisa makan. Lho kok?

Bayangkan saja kalau kita pandai dalam segala hal, sehingga untuk menambal ban, menjahit, membetulkan sepatu, membetulkan mesin mobil, dan banyak hal lainnya, lantas bagaimana dengan banyaknya tenaga kerja yang menganggur di sekitar kita? Saya kira seseorang perlu lah untuk fokus dalam beberapa hal saja dalam hidup. Selebihnya serahkan pada yang ahlinya. Jadi jika seorang Wakil Gubernur Jawa Tengah (sekarang) Rustriningsih terbalik memasang popok anaknya (saya baca dalam suatu wawancara di Tempo Minggu tanggal berapa saya lupa), itu tak perlu ditertawakan. Karena kita semua tahu Rustriningsih adalah politisi perempuan lokal yang patut diakui kepiawaiannya. Dan berapa sih jumlah politisi perempuan di Indonesia? Jadi biarkanlah kebodohan itu tetap menjadi kebodohan Rustriningsih. Dan, toh dia tak malu mengakuinya. Rustriningsih justru bisa memberdayakan orang lain untuk mengurus anaknya.

Suami saya tak bisa menyupir. Bagi saya tak mengapa, karena saya tahu pasti dia mempunyai kelebihan yang tak dimiliki para suami lainnya yang bisa menyupir. Kepiawaiannya menulis dan menterjemahkan membuat saya bangga sebagai isterinya. Ia juga sering diundang sebagai pembicara pada berbagai kegiatan. Pilihannya untuk menekuni soal-soal 'perbukuan' juga bukan pilihan yang main-main karena dia melakukannya dengan tekun dan serius. Dia sangat menjaga kualitas saat bekerja. Karenanya, kalau saat ini saya lah yang membawa mobil dan menjadi supir keluarga, bagi saya tak mengapa karena ya saya bisa melakukannya. Sebaliknya saya tak bisa melakukan apa yang dikerjakan suami saya. Meskipun saya juga bisa menulis dan menterjemahkan, tapi hasilnya masih sangat jauh dibanding hasil pekerjaan suami. Jadi, jika suami saya bodoh dalam urusan mobil, itu tak mengapa buat saya. Benar memang dia mulai belajar menyupir, tapi itu karena disuruh oleh atasannya. Meskipun dia enggan, tapi dia mau juga sedikit demi sedikit. Saya tahu dalam hatinya dia menolak. Makanya saya turutin saja, kalau dia mau belajar ayok, kalau tak mau ya saya tak memaksa.

Di Indonesia, dimana tenaga kerja sungguh berlimpah, maka kebodohan-kebodohan semacam itu sangat bermanfaat. Jika kita tak bisa memasak, kita bisa memanfaatkan kepandaian orang lain yang menjual hasil masakannya. Jika kita tak bisa membereskan rumah, kita bisa menyewa seseorang yang pandai bersih-bersih rumah. Dan banyak lagi lainnya dengan harga yang sangat terjangkau. Bandingkan dengan kehidupan di luar negeri misalnya. Di negara-negara maju itu kita sepertinya dipaksa untuk bisa pintar dalam segala hal. Mengecat rumah, mengurus bayi, memasak, mencuci, dan sebagainya semua harus bisa dilakukan sendiri. Banyak cerita teman-teman yang tinggal di luar negeri mengaku mendadak jadi pintar dalam segala hal karena terpaksa melakukannya sendiri. Hanya orang yang kaya saja yang boleh bodoh, karena mereka mampu membayar semua kebodohannya dengan uang yang teramat banyak.

Memang argumen terakhir itu bisa saja digunakan di sini. Tapi menurut saya, jika kita mampu lebih baik kita serahkan saja pada orang lain sementara kita menekuni pekerjaan kita yang utama. Intinya adalah membuat prioritas pekerjaan. Ada beberapa alasan yang saya ajukan. Pertama, ongkos yang kita keluarkan terjangkau dan bahkan bisa jadi lebih murah dibanding jika mengerjakan sendiri. Kedua, dari segi kepraktisan sangat positif. Maksud saya, terkadang beberapa pekerjaan memerlukan peralatan khusus. Jika dipakainya hanya untuk sekali tempo, kenapa mesti kita beli? Di Amerika, rata-rata orang memiliki gudang dengan peralatan reparasi yang lengkap karena alasan yang tadi saya sebutkan. Ongkosnya mahal jika menggunakan jasa orang lain. Ketiga, mengalihkan pekerjaan kepada orang lain berarti pula berbagi kemakmuran. Ini artinya kita membantu orang lain.

Anda memahami maksud saya? Bodoh itu tak mengapa. Biarkanlah kebodohan itu menjadi kekurangan kita. Dimaklumi saja, karena saya yakin kita terlahir dengan kepintaran masing-masing. Banyak cerita ibu-ibu yang memiliki anak yang tidak biasa (baca: terlahir cacat) kini membanggakan anaknya yang sudah menjadi luar biasa. Tentunya setelah sebelumnya para ibu ini mengakui apa yang kurang dari diri anaknya. Bukan dengan cara memanjakannya, karena saya lihat adegan ibu dari Korea yang memaksa anaknya yang berjari dua untuk berlatih piano. Caranya bukan dengan bermanis-manis, tapi menyeret anaknya dari kamar keluar ke tempat berlatih. Kebodohan diakui bukan untuk dimanjakan, tapi jadi pemicu untuk mengeluarkan kepintaran yang lain. Kelak, dengan kepiawaiannya bermain piano, anak itu akan mampu mempekerjakan orang lain untuk membantu dirinya. Jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, bukan tak mungkin anak cacat itu menjadi tumpuan hidup dari orang lain yang lebih sempurna.

Jadi, bodoh itu tak mengapa. Itu menurut saya. Tekuni satu hal yang Anda yakin itu tepat menurut Anda. Beri bobot di dalamnya dan jadikan hal itu sesuatu yang berguna untuk yang lain. Sementara itu biarkan saja kebodohan itu menjadi kekurangan dari diri Anda.







Rabu, 03 September 2008

Pemulihan pasca melahirkan

Di posting sebelumnya saya tulis kalau pemulihan pasca melahirkan anak kedua lebih cepat dibanding anak pertama. Memang begitu adanya, entah kenapa saya juga heran. Waktu melahirkan anak pertama prosesnya mudah tapi sesudahnya saya masih kesakitan sampai sekitar satu bulan. Macam-macam aja. Pipis sakit, mau pup apalagi. Jahitannya kerasa banget sakitnya. Terus susah juga duduk, sakit banget kalo buat duduk. Pendarahan juga masih terus sampai satu bulan, kayak mens gak selesai-selesai.

Nah, kalo yang anak kedua ini, prosesnya sakit tapi sesudahnya enak banget. Bahkan saya mandi sendiri. Pipis sama pup juga gak masalah. Jalan-jalan juga enak. Hari pertama kedua memang masih rada bongkok-bongkok sampai anak saya bilang "Ibu kayak nenek-nenek jalannya". Tapi selebihnya sih gak masalah. Hari ketiga apalagi. Saya sudah segar. Pembantu tetangga juga bilang ini habis melahirkan kok jalannya cepet banget. Dia sibuk kasih nasehat, suruh jalan pelan-pelan dulu. Katanya dalam perutnya masih borok, jadi hati-hati, di luarnya gak papa tapi di dalamnya masih kacau. Ya saya jawab aja terima kasih, saya baik-baik saja.


Di samping berkat Tuhan atas pemulihan yang cepet ini, saya minum jamu Habis Bersalin dari Ny. Meneer. Ini saya tampilin foto kardusnya. Jamunya sebenarnya macam-macam, tapi yang saya minum cuma yang buat dalam aja.


Ada 5 bungkus, masing-masing untuk satu minggu. Jadi tiap satu minggu ganti jamu. Diminum dua kali sehari pagi sore, masing-masing dua sendok teh, kasih gula pasir, lantas seduh pakai air panas sekitar 100cc. Ramuan yang lain macam-macam, salah satunya parem buat ngilangin tapi saya malas pakainya, meski fungsinya bagus buat ngilangin pegel-pegel yang memang masih saya rasakan sampai sekarang dan makin tambah pegel karena gendong bayi sepanjang hari. Pakai parem repot dan jorok kesannya karena kalau dipakai nyiprat-nyiprat kemana-mana. Mesti dialasi kain lagi, repot. Mending saya pakai voltaren, praktis.

Lantas teman saya juga ngasih tahu kalau saya harus mandi pakai rebusan daun sirih, daun sembung, sama serai. Daun sirih sama daun sembungnya dia kirimin karena kebetulan dia tanam di rumahnya. Tapi serainya saya beli sendiri dari tukang sayur. Baunya harum kalau udah mendidih. Di foto ini saya jejer urutannya, daun sirih (kebetulan yang dikasih ini sirih bangkok, lebih kecil dari sirih biasa, warnanya juga lebih terang kalau yang sirih biasa itu kan hijau tua kalau yang ini hijau muda cenderung kuning), serai, lantas yang terakhir itu daun sembung, bergerigi dan berbulu. Saya rebus daun sirihnya sebatang-batangnya, lantas serai cukup 4 atau 5 batang, terus ditambah daun sembung 4 atau 5 helai juga.



Entah, apa dua ramuan tadi benar-benar mujarab, tapi saya memang merasa fit meski ada rasa pegal-pegal di badan. Ngantuk jelas, tapi saya merasa biasa saja. Ya memang bisa tidur sejenak dan itu rasanya sudah cukup. Tidur sepuluh menit saja bikin saya mimpi macam-macam. Bangun juga rasanya sudah seger. Jadi memang tidur berkualitas itu tak perlu lama sampai berjam-jam. Malah pernah saya tidur satu jam lebih eh..bangun-bangun malah lemes. Sekarang baru lelap sebentar mesti siap bangun kalau denger suara anak. Beneran lo, saya jadi sensitif denger suara. Padahal dulu kalau udah tidur ya bisa lelap banget. Sekarang begitu kedenger suara anak bangun ya harus siap bangun.

Barangkali memang saya disiapkan begitu sama Tuhan, soalnya saya cuma sendirian di rumah. Suami sering pergi kerja dan kadang mesti nginap selama beberapa hari. Ada yang bantu cuma kalau pagi. Sore dia repot jadi cuma datang dua hari sekali. Sendiri dengan dua anak bayi dan balita cukup bikin pening kalau tidak sabar. Makanya saya terima saja kalau anak-anak sedang rewel dua-duanya atau si sulung sedang bandel. Kalau tidak begitu, wah makin berat saja rasanya. Sekarang sih saya nikmati saja semuanya. Toh, bisa juga meskipun badan pegel dan kalau pas gigi lagi kumat nyut-nyut..aduh..

Tapi saya tetap yakin saya mampu. Toh, jaman dulu banyak juga ibu-ibu yang beranak banyak dan ngurus semuanya sendiri. Sekarangpun saya yakin masih juga ada. Jadi saya juga harus bisa. Apalagi dengan kerja di rumah kok saya merasa lebih berguna dan lebih dibutuhkan ketimbang kerjaan di kantor. Saya jadi bingung. Pengen di rumah tapi ya pemasukan kurang, di samping itu saya kok nggak tega ngasih anak ke orang lain. Saya selalu menikmati saat-saat mengurus bayi. Nggendong pas nangis, nidurin, ganti popok kalau pipis, bersihin pupup yang baunya sudah makin saya kenal...Saat-saat nyusuin juga menyenangkan buat saya. Merasakan dia mencecap air susu saya dengan lahap dan kayaknya kok seger sekali.

Semuanya saya nikmati..saya katakan inilah saat-saat indah dalam hidup saya.

Selasa, 02 September 2008

Anggota Baru


Cukup lama saya tidak posting blog. Tanggal 18 Agustus 2008 kemarin anak kedua saya lahir. Kalau dilihat dari waktu persalinan sebenarnya cepat sekali. Pagi sekitar jam 10 kami ke rumah sakit ternyata sudah bukaan 3, jam 12.58 anak saya lahir. Prosesnya cuman sekitar 3 jam. Tapi sakitnya minta ampun! Beda sekali dengan anak pertama. Dulu ketika anak pertama lahir saya sama sekali nggak menjerit atau merasa sangat kesakitan. Wong ya cuma mulas-mulas kayak menstruasi bulanan itu kok. Pas mengejan juga cuma butuh tiga kali lantas keluarlah si jabang bayi. Lha yang kedua ini, aduuuh...saya sungguh tidak sopan di ruang bersalin. Saya teriak-teriak semaunya, lantas susternya juga saya teriakin, tangan dokternya saya pegangin. Pokoknya luar biasa tidak sopan saya. Tapi sesudah lahir, aduuh..leganya. Hilang sudah semua rasa sakit tadi. Saya juga lantas minta maaf sama susternya. Wis, pokoknya saya berusaha baik-baik sama semua suster dan perawat yang sudah bantu persalinan.

Tapi anehnya, beda dengan anak pertama yang proses pemulihannya lama, yang ini cepet sekali. Dulu saya mau pipis aja sakitnya minta ampun. Lantas malamnya saya susah sekali mau balikin badan. Mesti minta tolong suami dulu. Pas duduk juga sakit banget. Nah, yang kali ini saya langsung bisa ngapa-ngapain. Mandi sendiri juga nyaman, jalan juga enak, tidur juga biasa aja. Teman-teman yang nengokin juga pada bilang wajahnya seger. Malah ada yang bilang kayak habis liburan, terus ada juga yang bilang wajah jadi bersih, dia bikin kesimpulan sendiri kalau ngelahirin itu detoks, jadi wajah saya jadi bersih.

Yah, apapun itu, tapi memang saya bersyukur karena pemulihan sesudah ngelahirin kali ini cepet sekali. Ya bagaimana lagi, wong saya perlu tenaga saya buat di rumah. Ngurus bayi plus anak balita repot juga. Ada sih yang bantu-bantu, tapi pulang hari - maksudnya ya cuma cuci gosok beres-beres rumah, kalo udah selesai ya pulang dia - paling cuman 2-3 jam kerja, datang jam 6 selesai sekitar jam 8.30.

Begitulah, keseharian saya sungguh luar biasa sebenarnya. Nyaris tak ada jeda. Jadi mau posting blog juga rada-rada repot. Udah lama sih pengen posting, tapi waktunya itu lo. Saat paling genting itu ya pagi. Habis gimana, si kakak masuk jam 7 pagi. Jam 5 dia harus bangun buat minum obat, habis itu boleh lah tidur lagi paling setengah jam. Sesudah itu biasanya dia nonton sponge bob, sementara saya berepot-repot ria di dapur ngrebus air buat bikin kopi-teh sama buat mandi. Juga nyiapin sarapan sama bekal sekolah. Nah, kalo pas si bayi masih tidur sih semuanya aman-aman saja. Tapi kalo pas lagi tengah-tengahnya berepot-repot tadi lantas si adik bangun? wah...gagal total segala cerita. Kadang, si kakak saya buru-buru mandi mumpung adik belum bangun. Juga pas sarapan saya buru-buru juga. Kalo sarapan sih sebenarnya dia juga bisa sendiri, tapi kalo mandi rada-rada repot. Perlu dua tangan buat nuang air panas, terus mandiin, ngeringin pake handuk (kalo sendiri suka bagian belakang masih basah), terus makein seragam. Waktu pagi memang saat berjibaku.

Sesudah si kakak pergi sekitar jam 6.30 pake jemputan, agak lega lah saya. Kalo si bayi belum bangun saya buru-buru mandi, tapi kalo udah bangun ya udahlah, saya kasih asi terus jemur lantas mandiin. Abis mandiin biasanya dia tidur lagi. Cuman ya akhir-akhir ini rada susah tidurnya. Kalo pas dia bisa tidur ya saya baru bisa mandi. Tapi kalo sampe siang belum juga ya saya tarok aja di boks lantas saya mandi sambil buka pintu sembari ngawasin bayi. Sarapan jadi rada susah memang kalo udah begini. Makanya saya selalu sedia roti dan kue yang gampang dilahap pokoke buat ganjal perut.

Siang hari suka gak tentu, kadang saya beruntung si bayi bisa tidur lama tapi kadang juga tidur cuma sebentar. Saya sekarang lebih suka kasih asi sambil tiduran, soalnya bisa sambil nyolong tidur juga. Anak saya juga kayaknya lebih suka daripada di kasih asi sambil di pangku lantas ketiduran tapi kalo udah dipindah di ranjang jadinya kebangun. Ada teman yang kasih saran ditidurin tengkurap lebih pulas. Memang sih, kakaknya dulu juga begitu, tapi yang ini kok sami mawon. Baru ditinggal sebentar eh, kebangun lagi.

Akhir-akhir ini memang rada menjengkelkan. Baru ditarok di tempat tidur, eh ditinggal sebentar udah ngek lagi. Biasanya karena dia kaget dengan gerakan tangan dia sendiri. Lha ya itu tadi, sebenarnya kalo ditengkurapin sih lebih nyaman karena gak akan kaget-kaget, tapi kok ya ini kebangun juga. Dibedong sebenarnya ngurangin kagetannya soalnya kan tangannya dibebat abis. Tapi kok ya kasihan, mosok siang-siang dibedong. Apalagi sekarang panasnya minta ampun. Suka bingung jadinya.

Sore seharusnya ya mirip sama pagi, habis mandi dikasih asi terus bobo. Tapi kok ya ini enggak. Sebabnya ya karena itu, suka kagetan dan suka kebangun-bangun. Jadinya...cape deh...
Sudah beberapa hari ini saya mandi malem terus. Ya habisnya gimana, nunggu sampe dia tidur. Ato kalo pas gak rewel ya saya tarok di boks terus saya mandi. Tapi ini tadi rewelnya minta ampun. Baru tidur sekitar jam 7, saya tinggal mandi, eh, dia kebangun lagi. Baru benar-benar tidur jam 8. Ya sudahlah. Saya terima aja.

En sekarang saya sedang mood buat posting. Ya akhirnya saya nulis cerita ini.

Selasa, 12 Agustus 2008

Granny Square


Granny square..granny square, setiap browsing internet soal merajut pola granny square disebut-sebut. Pola ini memang pola klasik, kabarnya umurnya dah bertahun-tahun tapi tetep aja dipake sampe sekarang. Barangkali malah dah puluhan tahun lalu, ntar saya mau bikin riset kecil-kecilan soal granny square ini. Penasaran juga.
Beberapa waktu lalu saya beli pola e-book soal square dari mb Thata Pang. Tapi ternyata masih terlalu sulit buat saya yang statusnya masih beginner. Akhirnya saya cari aja pola granny square yang paling dasar dulu, terus biar gak monoton saya seling dengan warna lain. Paling gampang setelah jadi beberapa ya saya sambung dan...jadilah sebuah tas. Setelah dikasi hiasan bunga mawar, jadi dah cantik. Di posting yang sebelumnya soal tas ini pernah saya singgung juga. Cuman sekarang ini baru saya mau tampilkan yang dah jadinya.

Pertama saya bingung gimana ya cara nyambungnya? Saya liat di buku nya mba Thata ada pake cara som, pake jarum besar yang buat kristik. Entahlah apa benar begini apa nggak ya?


Proyek berikutnya masih soal granny square aja ah. Saya browsing di internet, aduuh..bagus-bagus bener hasil rajutannya. Padahal cuman dari pola granny square yang sederhana. Tapi yang saya kagum cara mereka kombinasiin warna. Kayaknya mereka menang di situnya. Barangkali juga karena pilihan warna yang ditawarkan di pasar juga beragam ya. Kayak kalo buka situs LionBrand itu, waah...nama warnanya aja aneh-aneh. Kayak kalo mau pilih warna cat di toko aja. Warnanya buanyak dan beragam.

Sebenernya pas saya titip kakak yang di Yogya buat beli benang katun, dia juga kebingungan karena warnanya beragam. Warna ijo misalnya, katanya ada 6 warna ijo. Akhirnya ya saya cuman bilang ya terserah yang mana aja, pokoknya ijo. Eh, ternyata dia beli warna ijonya bagus. Cerah. Ijo daun.

Kalo saya pas browsing di internet terus liat afghan crochet itu kok rasanya saya pengen punya koleksi benang sebanyak-banyaknya biar kalo pas pengen bikin rajutan bisa variasi warnanya, bisa semau-maunya. Ato coba ya di sini ada toko benang rajut yang dekat rumah terus warnanya bervariasi gitu. Waduh, it's like in heaven kali ya. Sementara ya kata kakak kalo perlu beli benang ntar biar dia yang beliin terus dikirim. Iyalah, sementara begitu dulu. Wong ya ini kebetulan pas ada waktu terus pas semangat bikin. Coba ntar kalo si jabang bayi ini dah lair, belum tentu saya punya banyak waktu kayak sekarang. Biasanya kata suami sih saya ini suka anget-anget tai ayam. Kalo pas lagi seneng bikin macem-macem, pas bosen ya udah berenti.
He..he.. moga-moga yang merajut ini gak lah. Bisa sampe tua, bikin gak pikun pula.

Kamis, 07 Agustus 2008

2 minggu yang produktif

Selama 2 minggu saya menilai diri saya sendiri produktif. Ha! Sok sekali ya. Suami sedang ke Yogya. Saya cuma sama anak di rumah. Sementara itu tak banyak yang saya bisa lakukan kecuali merajut. Jadual keseharian saya, bangun jam 5 subuh, nyiapin buat anak sekolah (obat, sarapan, air panas, mandiin, pakai seragam, nyiapin bekal, nemenin nunggu antar jemput), semua ini selesai jam 6.30. Sesudah itu saya mandi, jalan-jalan belanja sayur, pulang masak, sarapan, dan sudah..tinggal tunggu anak pulang sekolah.

Ada juga suami nawarin kerjaan tapi sepertinya terlalu berat buat saya, dulu dibilangnya nerjemahin 40 halaman selama 1 bulan. Wah, saya tolak. Terus ternyata kerjaannya edit tulisan 40 halaman. Tapi subyeknya tentang seni. Saya tak begitu paham. Akhirnya dikerjain sendiri sama suami.

Merajut rasanya jadi pilihan yang terbaik sekarang ini. Naah, sebelum ceritanya melantur kemana-mana. Sesuai judul posting kali ini saya mau beberkan hasil produktivitas saya selama 2 minggu.

Pertama, ada tas mungil ceria. Ini nyonto dari bukunya Thata Pang. Plek. Cuma warnanya aja yang beda, sama saya tak punya tali pengikat tasnya, juga tak punya kain buat dalemannya. Ini dia gambarnya, persis sama yang di buku kan? Kedua, saya bikin tempat tissue kalo yang ini asli hasil ide saya sendiri. Ketiga, saya bikin tas. Ini hasil dari modifikasi tas mungil tadi. Soalnya tas mungil tadi bener-bener terlalu mungil, bingung saya apa fungsinya ya? Mungkin jadi semacam goody bag buat anak-anak. Tapi ya saya fungsikan sebagai pemicu ide saja. Saya ambil pola dasarnya terus saya kembangkan sendiri. Jadinya? Ini dia:

Tas ini beneran bisa dipakai saya. Untuk bunga mawarnya nya saya ambil dari pola bukunya A.J Boesra. Not bad lah bunganya. Saya sendiri suka. Detilnya seperti ini:










Naah, yang berikutnya saya jadi ketagihan pengen bikin tas lagi. Kali ini saya pengen nyoba pola granny square. Saya sudah pesen pola macam-macam dari Thata Pang, tapi kok rasanya masih sulit buat saya. Akhirnya saya tahu diri, cari pola yang paling sederhana, terus saya kembangkan sendiri. Foto yang saya tampilkan ini masih berupa prakiraan satu sisi dari tas saya nanti.Nih, begini perkiraannya, ukurannya pas satu ubin. Ini satu sisi saja. Anak saya yang ngatur susunan



polanya. Sekarang saya sedang menyambungnya satu demi satu. Terus nanti ditambahin rajutan buat bagian bawah, samping kanan/kiri, sama tali nya. Selesai dah. Posting berikutnya akan saya foto hasil akhirnya. Pas saya selesai mengerjakan semua granny square yang dibutuhkan, pas suami pulang. Jadi itulah hasil-hasil saya selama 2 minggu ditinggal suami.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Hari Pertama


Tanggal 2 Agustus 2008, hari Kamis, sore, jadi hari yang bersejarah buat anak saya. Untuk pertama kalinya saya lihat dia sudah lancar naik sepeda. Padahal sudah lama kami - ayah ibunya - nggak ngajarin. Ayahnya sibuk, sementara saya nggak mampu lagi karena perut membesar. Bulan kemarin sepeda roda tiganya rantainya copot, ban kecil di samping roda utama juga ngelupas. Anak saya jadi malas naik sepeda. Eh, beberapa hari terakhir ini tanpa saya ketahui rupanya diam-diam dia tergoda belajar sendiri dengan roda dua. Gara-gara teman sebayanya sudah pintar lebih dulu dan suka mondar mandir naik sepeda. Selama ini roda dua yang kami belikan ini justru dipinjam teman-temannya. Dia sendiri selalu naik roda tiga. Nah, karena sekarang roda tiga sudah tak mungkin dinaikin, jadilah dia terpaksa naik roda dua.

Kemarin sungguh saya terharu dan heran kok ya akhirnya bisa juga ya anak saya naik roda dua. Seneng sekali saya. Langsung saya sms ayahnya yang lagi di Yogya. Dia sendiri juga bilang "Bu, sms in ayah, bilang aku udah bisa naik sepeda roda dua!". Wah, ayahnya kaget juga. Seneng juga dia anaknya udah bisa roda dua.

Malamnya sebelum tidur saya suruh anak saya telepon ayahnya biar cerita sendiri. Dia juga dengan antusias minta bicara sama bude-nya cerita kalau udah bisa naik roda dua.

Hari ini memang hari bersejarah. Setidaknya itu yang ada di benak saya. Senang rasanya mengamati perkembangan anak. Hari ini menurut saya sama dengan hari pertama anak saya yang lain. Misalnya hari pertama dia bisa merangkak, hari pertama dia bisa berdiri, hari pertama dia bisa jalan, hari pertama dia bisa bicara, hari pertama dia makan makanan selain susu. Hari pertama masuk sekolah. Semua hari-hari pertama anak saya ada terus di benak saya. Sungguh saya bahagia bisa menemani dia di hari-hari pertamanya. Dan saya sangat bersyukur di hari-hari itu.

Rabu, 30 Juli 2008

Mengisi waktu

Apa yang sebaiknya dilakukan kalau di rumah terus? Nonton teve? Baca? Tidur? Main game? Browsing internet? Memasak? Posting-posting saya akhir-akhir ini memang akan seputar tema mengisi waktu. Lha gimana lagi, saya udah cuti hamil, mau kemana-mana juga susah. Kegiatan keseharian ya bangun pagi, nyiapin buat anak sekolah, mandiin, ngasih sarapan, nunggu antar jemput, abis itu saya sendiri mandi terus jalan-jalan pagi ke pasar di samping olahraga juga beli sayur dan lauk buat sehari. Sampai di rumah tunggu anak pulang sekolah. Kerjaan rumah seperti cuci gosok dan beberes rumah sudah dikerjakan sama orang lain. Ada mbak-mbak dari kampung sekitar kompleks yang saya pekerjakan untuk ini.

Jam-jam berikutnya ya saya bisa apa saja. Agak bosan memang. Tapi ya apa mau dikata. Emang begini. Harus pintar-pintar cari kegiatan. Nonton teve dari beberapa hari ini berita tentang pembunuhan mutilasi yang berkembang jadi pembunuhan berantai. Bikin saya jadi parno sendiri. Kata kakak saya, mbok ya jangan diikutin wong harusnya orang bunting itu pikirannnya santai malah jadi tegang gara-gara berita kayak gitu. Ya udah saya liat gosip-gosip selebriti. Eeh..kemarin anak saya nyeletuk "wah, ibu mulai lagi nonton gosip-gosip", katanya. Nah...kan.

Mau baca kok rasanya mata ini malas. Ada sih novelnya Ayu Utami yang baru, Bilangan Fu, dibeliin suami sebelum berangkat ke Yogya minggu lalu. Tapi kok masih malas bacanya ya. Merajut saja lah.

Tas yang saya buat beberapa hari terakhir dah jadi. Tinggal ngerapiin benang sambungan aja biar gak keleleran kemana-mana. Udah dikasih bunga mawar buat pemanis. Dah cantik, tapi sayang belum bisa saya potret dan saya pamerin di blog. Kamera nya kan masih dibawa suami, padahal nafsu untuk pamer ini sudah sedemikian kuat. Terpaksalah saya bersabar dulu.

Sekarang saya lagi bingung mau bikin apa lagi ya? Di benak saya sih mau bikin tempat tissue aja. Benang kiriman kakak dari Yogya belum sampai, mungkin hari ini. Sebenarnya saya pengen bikin 'granny square', saya udah download banyak free pattern dari internet. Jadinya gatel pengen nyobain. Ya sembari nunggu saya bikin tempat tissue aja lah. Kemarin pas saya browsing saya liat ada yang pamerin tempat tissue rajutan hasil karya sendiri, jadi saya sekarang punya ide. Udah ada bayangan sih, nanti mau dibikin pake tusuk apa.

O ya, kemarin itu saya bikin bunga mawar yang buat pemanis tas nyonto dari buku rajutan karya AJ. Boesra judulnya Aneka Kreasi Rajutan (Crochet). Ini buku merajut yang saya beli pertama kali. Sesudah saya banyak browsing dari internet terus beli dua bukunya Thata Pang, kok saya jadi merasa si AJ Boesra ini nggak pake metode waktu nulis buku itu. Dia cuma pamerin hasil rajutannya terus ditulisnya model kalimat langsung gitu. Misalnya ni di halaman 34, tentang cara membuat mawar pada tahap ke empat dia cuma nulis: "Satu mahkota terdiri dari single crochet, chain, 9 double crochet berseling dengan chain dan single crochet"
Kalo bukan orang yang sudah mahir merajut pasti akan bingung ngikutin tahapan ini. Saya aja mulanya gak paham. Setelah baca dan pelajari berulang baru lah ngeh. Juga ada yang terpaksa saya karang sendiri caranya. Lha wong untuk pusat bunga, dia cuma tulis: "pasangkan pusat bunga tepat di tengah". Lo? Gimana cara pasangnya? Dengan teknik rajutan seperti apa? Ato pake benang jahit? Ato dilem? Saya sendiri akhirnya pakai cara saya sendiri. Biarpun ngarang tapi jadi juga. Cuman sesudahnya saya masih bingung bagaimana cara memasangkannya di tas. Di buku juga nggak dikasih tahu pakai cara apa. Akhirnya saya pake aja peniti. Beres.

Sementara itu buku Thata Pang lebih rapi. Dalam arti ada metode nya. Itu juga ditulis dengan teknis internasional. Maksudnya sama dengan apa yang dipahami dunia merajut umumnya. Selain ditulis dengan kalimat juga dilengkapi dengan pola. Naah, ini yang membuat saya makin paham. Kadang kalo kalimatnya membingungkan, saya liat polanya. Ooo gitu to? Pencantuman pola ini sangat sangat membantu. Pernah saya baca di salah satu blog yang bilang kalo dia punya majalah merajut dalam bahasa Jepang, tapi meski dia tak bisa bahasa Jepang, hanya dengan melihat pola dia bisa bikin rajutan seperti di majalah itu. Pola itu menurut saya bahasa universal yang bisa dimengerti semua orang. Saya sendiri udah gak sabar nunggu suami pulang supaya dia bisa temenin saya ke Toko Buku Kinokuniya buat beli majalah rajutan yang dari Jepang. Kalo saya liat di internet sih Jepang ini idenya adaa aja buat bikin rajutan. Dibanding rajutan karya ibu-ibu Amerika, ide-ide dari Jepang rasanya lebih unik dengan pilihan materi benang yang lebih beragam. Kalau ide-ide dari Amerika cenderung konvensional. Misalnya ya 'granny square' itu.

Yaa..karena saya sudah mulai agak terlatih, saya mulai bisa memahami buku AJ Boesra tadi itu. Meski masih agak tersendat. AJ Boesra ini banyak menggunakan benang dengan kualitas bagus kayaknya. Jadi meskipun sederhana hasil rajutannya tapi materialnya berkelas semua. Beda dengan Thata Pang yang range-nya luas. Thata menawarkan gaya rajutan dari yang sederhana sampai yang berkelas. Rata-rata apa yang diperlihatkan Thata bisa dipahami dan membuat kita jadi pengen bikin karena materialnya relatif mudah didapat. Bahkan kita bisa beli dari dia langsung. Saya pun sudah pernah sekali pesan benang sama Thata. Prosesnya gampang dan cepet. Lain kali saya mau pesan lagi ah..

Terakhir saya cuma mau bilang 'terima kasih banyak buat Thata' karena dia sangat-sangat membantu saya mengisi waktu. Thata berhasil menularkan virus yang membuat saya ketagihan pengen terus dan terus merajut. Mengisi dan menemani saya di menit-menit penantian buah hati saya. Merajut berhasil menepis pikiran-pikiran negatif yang sering sekali menghantui benak saya gara-gara hasil lab terakhir yang menyatakan kalo Rubella IGG saya tinggi. Gara-gara itu pula saya jadi tidak tenang tidur dan serba resah. Betapa tidak, salah seorang dokter yang saudara saya bilang kalo ketahuan di awal sebaiknya digugurkan karena parasit itu menyerang pusat susunan syaraf janin. Aduuuh....Tuhan, saya langsung menangis mendengarnya. Mana suami sedang jauh lagi.

Sekarang di samping merajut, ya saya cuma bisa berdoa. Novena setiap hari semoga penantian ini tidak sia-sia. Saya pasrahkan kepada Tuhan dan mohon pendampingan dari Bunda Maria.