Minggu, 07 November 2010

Simple Marmer Pound Cake


Bukannya gak prihatin sama bencana Merapi meletus, tapi mentega Orchid ku sudah nyaris kadaluarsa dan harus segera dipakai. Jadinya pagi ini tetep bikin kue buat sarapan di Minggu pagi. Alasan lainnya karena pengen nyoba resep di buku 60 Resep Cake & Cookies Antigagal terbitan NCC serta tergiur posting uji coba resep ini di blog Radissa Cake & Catering. 

Di posting tentang simple marmer pound cake, Citra, si pemilik blog bilang kalau hasil akhir kue ini legit dan lembut. Duh, jadi pengen nyoba. Apalagi memang benar kata Citra, ini kue masa lalu. Kalau dia bilang ingat kue bikinan Mbah Uti, kalau aku bilang ingat kue bikinan ibuku.

O ya, menurut Citra, cake ini disebut Pound Cake karena resep aslinya terdiri dari 1 pound terigu, 1 pound butter, 1 pound gula dan 1 pound telur. 1 pound itu sekitar 454 gram atau hampir setengah kilo. Kalau mau cerita lengkapnya di wikipedia bisa klik di sini. 

Daaan...setelah aku uji coba, hasilnya beneran legit dan lembut. Uenak tenan. Jadi nostalgia inget masa-masa ibu bikin kue seperti ini, diunter-unter coklatnya biar bentuk marmer di permukaan adonan. Baunya juga...hmm..semerbak mewangi khas gitu. Bedanya ya di loyang. Jaman dulu loyang ibuku adalah loyang bundar yang bolong tengahnya.

Ini resepnya, aku copy paste dari blog Radissa Cake & Catering, resep ini ada juga di buku 60 Resep Cake & Cookies Antigagal hal. 26:

Simple Marmer Pound Cake
Bahan:
150 gr   mentega
100 gr   gula pasir
3 btr      telur utuh
1 btr      kuning telur
150 gr   tepung terigu
1 sdt     baking powder
1 sdt     coklat bubuk

Cara membuatnya:
  1. Campur tepung terigu dan baking powder, sisihkan.
  2. Kocok mentega hingga lembut, masukkan gula pasir perlahan sambil terus dikocok sampai mengembang pucat.
  3. Masukkan telur satu persatu, sambil tetap dikocok. Kecilkan kecepatan mikser, tuang terigu yang sudah dicampur dengan baking powder, aduk rata.
  4. Sisihkan 2 sdm adonan, beri coklat bubuk, aduk rata. Tuang sisa adonan putih kedalam
  5. Loyang loaf 22x10cm, beri adonan coklat secara acak, kacau dengan sumpit hingga membentuk motif marmer.
  6. Panggang dalam oven dengan suhu 180’C, selama lk. 40 menit atau hingga matang.

Selasa, 02 November 2010

Killer Brownies: The Series - feat. Peanut


Jiaaah....gaya ya judulnya :P Ini lagi sok-sokan, tapi emang brownies yang ini rasanya ruarr biasa..Aku coba kali ini gak pake kenari tapi pake kacang tanah. Rasanya tetep enak banget. Sensasinya sedikit beda, tapi rasa kacang tanahnya itu lho, terus jadi berasa banget sewaktu gigit ada kletuk-kletuk nya, biarpun ndak keras banget lo ya. Tapi ya kembali ke selera, monggo saja mau pilih yang mana. Pan kapan mau coba yang kacang mete ah..

Resepnya masih sama plek seperti killer brownies yang kemarin aku unggah, hanya saja kenarinya diganti kacang tanah

Salam brownies :)

Senin, 01 November 2010

Prol Tape Kenari


Ini bisa aku sebut Prol Tape Kenari-Perjuangan. Ceritanya begini ni:

Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku kayak orang ngidam. Kepengeeeeennn banget makan prol tape, barangkali karena tiap pagi si mas yang jualan tape itu provokasi terus, "Peeee....tapeeee..." Biasanya beli cuma dimakan begitu aja, si sulung suka banget soalnya. Nah, setelah blogwalking nemu juga resep prol tape di my-sweet-little-warm-kitchen. Aku perhatikan kok kelihatannya gampang, tapi agak curiga pas lihat jumlah mentega yang dipakai - 500 gram!

Tapi karena pemilik blog menulis bahwa sumber resep dari Tabloid Saji yang notabene aku percaya, terus dia bilang sudah me-resize dan memodifikasi plus ada foto hasil akhir yang menggiurkan, ya aku jadi penasaran.

Pas aku coba benerlah..setelah dilelahkan menteganya jadinya banyak banget. Terus pas dituang ke adonan menurutku kok terlalu encer jadinya. Aku stop sebelum semuanya tertuang. Jadinya aku pakai kira-kira 3/4 nya aja.

Naa...pas dipanggang, mentega kembali mencair dan meleleh melalui sela-sela loyang, menetes ke dasar oven dan menetes lagi keluar ke sela-sela sudut-sudut oven sampai belepotan di sekitar kompor. Lelehan di dasar oven terkena panas dan menguap jadi asap yang lumayan bikin aku panik. Sekitar 20 menit buru-buru aku matikan kompor, dan aku keluarkan kuenya. Cairan mentega nampak di permukaan kue yang entah sudah mateng ato belum. Stres dah...:(

Ya udah aku tinggal tidur aja, lagian udah malam mesti nemenin si kecil bobo. Wis..aku gak mau mikirin lagi, entah besok kayak gimana tuh kue. Mana pas suami ada di rumah lagi, kalau buang segitu banyak aduuuh...nanti komentar apa itu beliau..hiks hiks..

Eeehh..pas paginya aku bangun, cairan mentega di permukaan kue sudah lenyap, barangkali dia sudah mengeras. Di sekitar loyang nampak lelehan mentega yang sudah mengeras. Pas aku pencet pakai jari ternyata kue sudah keras. Hadoooh..semoga ya semoga..Permukaan kue terus aku oles pakai kuning telur kemudian aku taburi keju sambil berharap semoga kue-nya masih bisa "diselamatkan", terus aku oven lagi sekitar sepuluh menit.

Pas aku angkat..sepertinya ya baik-baik aja tuh kue. Aku dinginkan sebentar terus aku kupas kertas roti dan aku dinginkan di rak kue tanpa dibalik. Daaaann....setelah aku potong dan icipi..hiaaaaaa...ternyata enak saudara-saudara.... :D Puji Tuhan banget dah...Jadinya itu kue bisa kemakan, anakku doyan, suami juga mau. Lega nian hati ini. Bener-bener prol tape perjuangan...:D

Ini resepnya asli dari blog my-sweet-little-warm kitchen yang aku copy-paste: 

PROL TAPE KEJU ALMOND
sumber: tabloid Saji

Bahan:
300 gr tape singkong --- aku pakai 250 gram
100 gr gula pasir
100 gr terigu
3 butir telur, kocok lepas
100 ml krim kental (resep asli pake santan) --- aku pakai santan kental
500 gr margarin, dilelehkan --- aku pakai 3/4 nya dan menurutku kebanyakan, barangkali 250 gram cukup 
50 gram keju parut
1/4 sendok teh garam

Bahan olesan: (aduk rata)
1 kuning telur
2 sdt krim kental (resep asli gak pake) --- aku gak pakai
1/4 sendok teh garam

Bahan taburan:
20 gr almond cincang (resep asli pake kenari) --- aku pakai kenari

Cara membuat :
1.Remas-remas tape singkong dan gula pasir sampai gula hancur.
2.Tambahkan tepung terigu. Aduk rata.
3.Masukkan telur, krim kental (aku pakai santan), margarin dan garam. Aduk rata. (aku masukkan parutan keju di tahap ini)
4.Tuang ke loyang 10x30x4 cm (aku pakai 20x20x4 cm) yang dioles margarin dan dialas kertas roti.
5.Oven 25 menit dengan suhu 180 derajat celcius sampai setengah matang --- aku hanya panggang sekitar 20 menit seperti sudah aku tulis di atas kemudian aku diamkan semalam sambil menunggu mentega mengeras baru ke tahap berikutnya.
6.Oles dengan bahan olesan. Taburi almond (aku pakai kenari). Oven lagi 30 menit sampai matang --- aku hanya 10 menit.


Kamis, 28 Oktober 2010

Killer Brownies a ka Pennylane Brownies


Akhirnya berhasil juga setelah nyoba yang keduakalinya :D

Ini resep brownies yang bikin penasaran, soale banyak yang ngomongin di milis dan juga banyak yang bilang enak banget. Di google, jika ketik "pennylane brownies", dalam 0,09 detik akan muncul 12.700 hasil. Wow! Mereka ada yang berupa gambar, resep, testimoni yang semuanya bernada positif. Luar biasa ya.

Pennylane Brownies, atau yang juga disebut Killer Brownies setahu aku (hasil googling) adalah resep milik Riana Ambarsari, fotografer sekaligus pengajar kursus fotografi di NCC dan pemilik blog pennylane kitchen. Menurut cerita, Riana memodifikasi resep brownies home-made ibu-ibu Amrik. Riana juga pernah jualan brownies ini dan sangat laku. Resep ini juga sudah dimuat di salah satu halaman buku terbitan NCC berjudul "18 Cake dan Cookies: Step by step dan Jurus-jurus Jitu". Kabarnya pula, banyak member NCC yang menjadikan brownies ini sebagai dagangan andalannya. Kalau aku yang jualan, laku juga tidak ya?

Aku sendiri baru sekali bertemu Riana sewaktu acara buka bersama NCC-FPC 31Agustus lalu. Ia berkulit putih, mengenakan jilbab. Penampilannya gaya dan dinamis dengan sepatu boot sebagai alas kaki. Riana masih muda-mungkin sekitar tigapuluh tahun umurnya. Ia juga cantik, terkesan energik, dan ramah. Menurutku ia perempuan yang cerdas. Saat itu hanya sedikit kami berbincang. Namun, sesudah acara usai, kami sempat berfoto bersama.

Nah, ini foto kami berdua dengan hasil foto masing-masing. Jangan bandingkan hasil jepretanku dengan karya Riana, sudah tentu kalah jauh, meski di acara bukber itu fotoku dipilih dan aku pulang bawa suvenir :D (cerita lengkapnya ada di sini).

Selanjutnya aku belum pernah bertatap muka lagi dengan Riana. Di acara demo NCC di Pejaten 23 Oktober kemarin aku memang lihat Riana, tapi ia nampak sibuk sebagai fotografer dan kami juga tak bertatap muka. Maklum, aku duduk di belakang dengan dua anak yang tak bisa diam. Tak mengapa, barangkali lain waktu. 

Kembali ke brownies. Setelah uji coba di dapurku, hasilnya memang se-luar biasa yang aku baca. Beneran enak banget! Anakku suka, suamiku juga. Jadi, Big Thanks to Riana :D

Dan ini resepnya yang aku ambil dari blog milik Elsye
(aku cuma bikin separo resep dengan loyang 20x20x4 dan gula pasir 175 gram)

Pennylane Brownies - Killer Brownies

Bahan:
4 btr telur
450 gr gula pasir
225 gr minyak goreng
60 gr coklat bubuk
210 gr tepung terigu
1/2 sdt garam
1 sdt vanilla bubuk
120 gr kenari
85 gr chocolate chips

Cara membuat:
- Alasi loyang dengan kertas roti dan olesi mentega. Panaskan oven 180 derajat Celcius.
- Campur coklat bubuk, terigu dan vanilla bubuk.
- Kocok telur dan gula sampai mengembang dan butiran gula menjadi lebih halus. Masukkan garam, kocok lagi hingga rata.
- Matikan mixer, ayakkan campuran tepung ke dalam adonan telur, aduk rata. Masukkan minyak goreng, aduk rata.
- Masukkan kenari dan chocolate chips, aduk rata.
- Tuang adonan ke loyang, panggang kurang lebih 35 menit. Tes dengan tusuk gigi/lidi bersih.
- Dinginkan sebelum dikeluarkan dari loyang dan dipotong-potong.

Minggu, 24 Oktober 2010

Lemet

Begini cara membaca judul di atas: "e" yang pertama diucapkan seperti pada kata "pertama" sementara "e" yang kedua seperti pada kata "Aceh". Nah, dapat kan pengucapannya? Kata teman yang orang Sunda, ia diberi nama "Ketimus" kalo "e" yang ini diucapkan seperti pada kata "pertama".

Selain itu, aku tak tahu apakah di daerah lain ada tidak makanan seperti ini. Yang jelas, ia terbuat dari campuran parutan singkong, parutan kelapa (yang tidak terlalu tua, seperti untuk bikin urap misalnya), gula jawa yang disisir halus, dan irisan nangka (ini selera aja, kalo aku suka banget karena nanti akan harum baunya). O ya tambahi garam sedikiiiit banget sekadar untuk penyeimbang rasa.

Setelah bahan tercampur bungkus dengan daun pisang. Sederhana aja bungkusnya, tinggal ditangkupkan vertikal kemudian ujung-ujungnya dilipat ke bawah supaya rapi dan juga tidak meleber kemana-mana jika nanti dikukus - begitu cara memasaknya. Gampang kan? Dan tidak pakai lama, tak sampai satu jam. Persiapan sekitar limabelas menit dan mengukus sekitar duapuluh menit. Jangan lupa, panaskan dulu kukusan sampai uap airnya banyak ya..

Sebenarnya, ini makanan yang dipesan khusus sama si sulung buat dibawa ke sekolah. Sabtu kemarin, 23 Oktober, sekolahnya merayakan Hari Pangan Sedunia. Ini ritual tahunan di Strada dari mulai Kelompok Bermain sampai SMP. Anak-anak diperkenalkan dengan makanan tradisional yang berbahan utama non-beras seperti jagung, pisang, singkong, ubi, ataupun umbi-umbian lain yang dimasak dengan cara digoreng, dikukus, dibakar, ataupun direbus tanpa bahan pengawet dan pewarna. Untuk tingkat Kelompok Bermain dan TK guru-gurunya yang menyajikan makanan tradisional itu, sementara untuk SD dan SMP, anak-anak diminta membawa dari rumah.

Aku bawakan dua jenis buat si sulung, lemet ini salah satunya. Yang lainnya singkong rebus santan. Lain kali aku tayangkan, yang kemarin gak sempat difoto soalnya. Kedua makanan itu kesukaan dia. Yang lemet rasanya manis, sedangkan yang direbus santan itu gurih asin. Dibawa ke sekolah agak banyak dan dibagi-bagi ke teman-temannya. "Banyak yang suka lho bu," begitu laporannya. Memang sih, sampai di rumah kedua makanan itu tinggal sisa sedikit. Syukurlah kalau begitu, yang masak jadi ikut senang. 

Rabu, 15 September 2010

Ontbijtkoek (lagi)


Practice makes perfect. Ini ontbijtkoek ke sekian kalinya. Selalu pengen lagi dan lagi. Jadinya aku penasaran pengen bikin yang se-sempurna mungkin. Pernah sekali ada yang bantat, tapi ya tak apalah masih enak juga kok. Bumbu spekuk nya itu lho, ngangeni banget. Ini memang spesial. Dapat dari tbk di ruko komplek. Mereknya entah ya aku lupa, bahasa Belanda gitu. Dijualnya per kemasan plastik kecil-kecil ada yang 4000 rupiah, ada yang 8000 rupiah. Beda jauh kalau bikin ontbijtkoek pakai bumbu spekuk merek kupu-kupu. Yang ini harum banget.

Kali ini ontbijtkoek nya nggak pakai gula jawa irisan, karena aku malas ngiris-ngiris jadi aku pakai palm sugar aja. Ternyata hasilnya gak jauh beda. Cuma, menurutku lebih mantap kalo pakai gula jawa. Ini selera aja, karena kakakku tadi sms kalau bikin ontbitjkoek memang pakai palm sugar.

Yang paling bikin aku seneng kali ini, ontbijtkoek mengembang nyaris sempurna (mau bilang sempurna kok belum berani). Coba aja lihat penampakannya ini, bener-bener kelihatan kalau dicetak di loyang 24x10x7..he..he..amazing sendiri. Soalnya yang kemarin-kemarin rada-rada bantat gitu. Adaaa aja masalahnya. Nah, yang ini lebih yahud :D


Si sulung suka banget sama kue satu ini. Pagi buat sarapan sebelum sekolah, lantas bawa buat bekal sekolah. Sore bangun tidur ngemil sampai malam gak berenti-berenti sampai hampir habis dan akhirnya gak mau makan. Ya wis lah..sekali-sekali ini. Soalnya emang kue ini enaaakkk banget :D

Minggu, 12 September 2010

Cupcake Hantaran Lebaran


Foto di atas itu hasil cipratan berkah lebaran. Kemarin pagi, sehari sebelum lebaran, dapat sms dari teman kantorku dulu. Memang pas reunian sesama teman kantor beberapa bulan lalu aku pernah bawain cupcake sekalian promosi kalo aku sekarang nerima pesenan. Nah, sekarang dia pesan cupcake 20 buah buat hantaran lebaran ke rumah saudara. Katanya mau dihantarkan sesudah pulang sholat ied. Makanya sore atau malam mau diambil sendiri cupcake-nya.

Wah, aku sarankan sebaiknya pakai topping buttercream aja. Lha dadagan gitu, kalo pakai fondant kudu cek ke tbk dulu karena aku gak stok. Lagian mesti nyari tbk yang masih buka di hare gene. Untung beliau mau pakai buttercream aja, minta pakai kemasan mika yang isi 6. Tanggung padahal, nanti pasti ada yang bolong. Tapi maunya begitu ya sud, your wish is my command :)

Nah, kemasan itu aku juga gak ada stok. Cup momma juga aku gak ada. Kalau bahan-bahan lain sih ada. Deg-degan aku telpon satu satu tbk terdekat dengan doa semoga masih ada yang buka. Eh, syukur toko Laris di Gading Serpong masih buka meski cuma sampai jam 2 siang. Gak mau nunggu lama, sekitar jam 11 aku meluncur ke sana. Tokonya udah agak sepi, maksudnya barang-barang sebagian udah habis, beberapa pembeli juga ngeluh yang dicari gak ada. Aku juga maunya cari pita-pita buat hiasan gitu, tapi gak ada yang sesuai. Yang banyak buat lahiran bayi, valentine, sama Natal. Padahal biasanya mereka jual pita yang bagus-bagus lho. Bahkan yang sekedar warna ijo aja tak ada. ya sudahlah, gak usah pakai pita-pitaan.

Sampai rumah, makan dulu sebelum mulai beraksi. Terus baru timbang-timbang bahan, lihat anak-anak sudah ditangani bapaknya ya aku langsung aja baking. Untung bapaknya ada di rumah, suster kan lagi mudik. Apalagi bakingnya mesti dua babak, soale aku cuma pakai otang. Maklum bakul amatir..Resepnya pakai resep pas kursus crazy cupcake dulu di Matraman sama Uni Dewi. Tiap babak 1/3 resep.

Sore hari cupcake dah jadi 27 buah. Sambil nunggu dingin nyetak coklat ketupat dulu. Selesai semua eh, mau menghias kok ujug-ujug gak mood. Padahal buttercream udah aku warnai. Ya gini ni penyakit kalo udah gak mood ya udah. Otakku mati. Barangkali kena pengaruh tadi telpon dari customer kalo ngambilnya mau besok aja. Jadinya ritme kerja melambat. Lagian perasaan udah kasihan sama bapaknya yang dari tadi sama anak-anak terus. Dia kan gak biasa seharian gitu, wong sehari-hari dalam seminggu bisa cuma 2 ato 3 hari di rumah, sisanya di Bogor, suka nginep di kantor.

Kerja menghias baru aku lakukan pagi subuh jam 03.30. Enak, tenang. Cuma ada bunyi takbir sayup sayup bersahutan dari beberapa mesjid sekitar yang dari semalam gak berhenti. Jadi adem suasananya. Naaa..kalo kayak gini dapat dah mood-nya. Biarpun hasil nyoba berkali-kali tapi hasilnya bikin aku cukup puas. Maksudnya sebagai bakul pemula ya memupuk rasa percaya diri begitu..:D Penampakan cupcake yang sudah dihias seperti ini:


Eh, ternyata jadwal pengambilan berubah lagi. Dapat sms dari customer, ngambilnya mau sore-sorean aja..Ooo..ya sud, lumayan aku bisa tidur siang dulu. Menjelang magrib dapat telpon minta ketemuan aja depan pasar BSD sekalian mau jalan biar gampang langsung masuk tol. Berangkatlah aku sendiri ke sana, soalnya si kecil masih tidur. Deg-degan juga bawa cup cakenya. Untung dapat kardus yang pas banget jadi gak goncang-goncang kotak mikanya. Aku taroh di kursi depan, nyupir pelan-pelan banget sambil doa moga-moga gak ada kejadian apa-apa. It is my first, my dear! 

Proses serah terima berjalan lancar. Eh, telat ngomongnya, udah didahuluin sama customerku, "Jangan kapok ya kalo nanti mau pesan lagi." Weleh...tentu saja tidak, aku jawab, "Waduh, seharusnya saya yang ngomong begitu." Dasar, bakul baru, masih amatir..Tapi, terima kasih banyak ya mbaakk.....